Kamis, 04 Juli 2013

KEPRIBADIAN ISLAM DAN CARA – CARA PEMBENTUKANNYA

BAB III
KEPRIBADIAN ISLAM DAN CARA – CARA PEMBENTUKANNYA

Kepribadian berasal dari kata “pribadi” yang berarti diri sendiri, atau perseorangan. Sedangkan dalam bahasa inggris digunakan istilah personality, yang berarti kumpulan kualitas jasmani, rohani, dan susila yang membedakan seseorang dengan orang lain.
Seseorang yang islam disebut muslim. Muslim adalah orang atau seseorang yang menyerahkan dirinya secara sungguh – sungguh kepada Allah. Jadi, dapat dijelaskan bahwa “wujud pribadi muslim” itu adalah manusia yang mengabdikan dirinya kepada Allah, tunduk dan patuh serta ikhlas dalam amal perbuatannya, karena iman kepada-Nya. Pola sesorang yang beriman kepada Tuhan, selain berbuat kebajikan yang diperintahkan adalah membentuk keselarasan dan keterpaduan antara faktor  iman, islam dan ikhsan. Orang yang dapat dengan benar melaksanakan aktivitas hidupnya seperti mendirikn shalat, menunaikan zakat, orang – orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang – orang yang sabar dalam kesempitan penderitaan dan peperangan maka mereka disebut sebagai muslim yang takwa, dan dinyatakan sebagai orang yang benar.Hal ini merupakan pola takwa sebagai gambaran dari kepribadian yang hendak diwujudkan pada manusia islam. Apakah pola ini dapat “mewujud” atau “mempribadi” dalam diri seseorang, sehingga Nampak perbedaannyadengan orang lain, karena takwanya, maka; orang itu adalah orang yang dikatakan sebagain seseorang yang mempunyai “Kepribadian Islam”.
Dalam islam, pendidikan mengacu pada tujuan hidup manusia itu sendiri. Dalam hakikat tujuan hidup manusia adalah mengabdikan dirinya pada Tuhan, dengan penyerahan mutlak. Dengan kata lain sorang muslim selalu mengaitkan segala aktifitas kegiatannya dengan melihat dan menyesuaikannya di atas ketentuan norma – norma yang ditetapkan Allah.

Problematika
Bagaimana cara membentuk kepribadian islam?
Jawaban.
Cara membentuk kepribadian islam harus diambil langkah – langkah yang bijaksana. Adapun langkah – langkahnya adalah:
a)      Pendidikan  di dalam keluarga
Pembiasaan dengan keteladanan dan intruksi pada masa vital, masa kanak, dan masa intelek
b)      Media pendidikan
Lewat pembrian pengertian pada masa intelek, masa remaja, dan masa remaja
c)      Pendidikan di lingkungan masyarakat


KEDUDUKAN MANUSIA DALAM ALAM SEMESTA (Kajian Filsafat Pendidikan )


I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang masalah
Manusia sesuai dengan kodratnya itu menghadapi tiga persoalan yang bersifat universal,[1] dikatakan demikian karena persoalaan tersebut tidak tergantung pada kurun waktu ataupun latar belakang historis kultural tertentu. Persoalan itu menyangkut tata hubungan atar dirinya sebagai mahluk yang otonom dengan realitas lain yang menunjukkan bahwa manusia juga merupakan makhluk yang bersifat dependen. Persoalaan lain menyangkut kenyataan bahwa manusia merupakan makhluk dengan kebutuhan jasmani yang nyaris tak berbeda dengan makhluk lain seperti makan, minum, kebutuhan akan seks, menghindarkan diri dari rasa sakit dan sebagainya tetapi juga sebuah kesadaran tentang kebutuhan yang mengatasinya, menstrandensikan kebutuhan jasmaniah, yakni rasa aman, kasih sayang perhatian, yang semuanya mengisyaratkan adanya kebutuhan ruhaniah dan terakhir, manusia menghadapi problema yang menyangkut kepentiangan dirinya, rahasia pribadi, milik pribadi, kepentingan pribadi, kebutuhan akan kesendirian, namun juga tak dapat disangkan bahwa manusia tidak dapat hidup secara “soliter” melainkan harus “solider” , hidupnya tak mungkin dijalani sendiri tanpa kehadiran orang lain. Belum lagi manusia dalam konsep Islam mempunyai tugas dan  tanggung jawab yang sangat berat yaitu  “Abdul Allah “ (hamba Allah) satu sisi dan sekaligus sebagai “Kholifah fil Ardli” (wakil Allah di muka bumi).
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang telah pemakalah kemukakan di atas, maka ada beberapa hal yang menjadi pokok permasalahan dalam makalah ini adalah:
1.      1.         Bagaimana pandangan Islam tentang konsep manusia ?
2.      2.         Apa peran penciptaan manusia menurut Alqur’an ?
3.      3.         Apa tugas dan tanggung jawab manusia di Bumi ?
4.      4.         Apa kedudukan manusia dalam alam semesta ini ?
5.      5.         Bagaimana peluang pendidikan kedepan menurut Islam ?
II.          MANUSIA PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN
Sejarah filsafat bermula di pesisir samudera Mediterania [2] bagian timur, pada abad ke-6 SM. Sejak semula, filsafat ditandai dengan rencana ummat manusia untuk menjawab persoalan seputar alam, manusia dan Tuhan. Itulah sebabnya, sehingga Filsafat dapat diartikan sebagai pandangan hidup dari seorang atau masyarakat bangsa. Oleh karena filsafat menjadi kerangka acuan dalam menentukan pola kehidupan warga suatu masyarakat bangsa tersebut. Dengan demikian filsafat sebagai pandangan hidup menyangkut pula tentang hubungannya dengan manusia. Tepatnya adalah pandangan filsafat tentang manusia dalam kaitan dengan kepentingan pendidikan, sebab upaya yang paling efektif untuk mewariskan nilai-nilai yang termuat dalam pandangan hidup dimaksud adalah melalui pendidikan.
Merujuk pada hal itu, maka sebelum membahas bagaimana konsep filsafat  pendidikan tentang manusia itu sendiri, tentunya perlu terlebih dahulu kita ketahui bagaimana pandangan Islam tentang konsep manusia itu. Hal ini setidaknya akan membantu pengenalan sosok manusia yang sebenarnya  dalam konsep filsafat pendidikan yakni yang berkaitan dengan manusia sebagai subyek sekaligus merupakan obyek dari pendidikan.
A.    Manusia Dalam Pandangan Islam
1.       
1.      Konsep Manusia dan Perannya Menurut Alqur’an
Bentuk dan pola peran seseorang, secara garis besar dapat kita lihat dari kedudukan yang ditempatinya. Sedangkan untuk mengetahui hal itu, kita perlu tahu akan penamaan yang disandangnya. Begitu pula tentang peran manusia dapat dirujuk antara lain melalui berbagai sebutan yang diberikan pada manusia.
Dalam Alqur’an manusia disebut dengan berbagai nama antara lain : al- Basyr, al- Insan, an- Nas, dan konsep Bani Adam yang hal ini sebagai penolakan terhadap teori Darwin tentang evolusi bahwa manusia  adalah keturunan dari kera. Adapun pemahaman tentang peran manusia erat kaitannya dengan sebutan yang disandangnya.
1.      a. Konsep Al- Basyr ( (
Manusia dalam konsep al- Basyr, dipandang dari pendekatannya biologis. Sebagai mahluk biologis berarti manusia terdiri atas unsur materi, sehingga menampilkan sosok dalam bentuk fisik material,[3]yaitu berupa tubuh kasar (ragawi).
Berdasarkan konsep al- Basyr, manusia tak jauh berbeda dengan makhluk biologis lainnya. Dengan demikian kehidupan manusia terikat kepada kaidah-kaidah prinsip kehidupan biologis lain seperti berkembang biak, mengalami fase pertumbuhan dan perkembangan dalam mencapai tingkat kematangan serta kedewasaan. Manusia memerlukan makan, minum dengan kreteria halal serta bergizi (QS. 16 : 69) untuk hidup dan ia juga butuh akan pasangan hidup melalui jalur pernikahan (QS. 2 : 187) untuk menjaga, melanjutkan proses keturunanya (QS. 17: 23-25).
1.      b. Konsep Al- Insan  (                   )
Al- Insan terbentuk dari akar kata Nasiya (                            ), Nisyu(                     ) yang berati lupa, dari kata Insu (                  ) artinya senang, jinak,harmonis, dan ada juga dari akar kata Naus (             ) yang mengandung arti “pergerakan atau dinamisme”. Merujuk pada asal kata al- Insan dapat kita pahami bahwa manusia pada dasarnya memiliki potensi yang positif untuk tumbuh serta berkembang secara fisik maupun mental spiritual. Di samping itu, manusia juga dibekali dengan sejumlah potensi lain, yang berpeluang untuk mendorong ia ke arah tindakan, sikap, serta prilakun negatifdan merugikan.[4]
1.      c. Konsep An- Nas   (                    )
Kosa kata An- Nas dalam Al- Qur’an umumnya dihubungkan dengan fungsi manusia sebagai makhluk social. Manusia diciptakan sebagai makhluk bermasyarakat, yang berawal dari pasangan laki-laki dan wanita kemudian berkembang menjadi suku dan bangsa untuk saling kenal mengenal “berinterksi” (QS. 49 : 13). Hal ini sejalan dengan teori “strukturalisme” Giddens yang mengatakan bahwa manusia merupakan individu yang mempunyai karakter serta prinsip berbeda antara yang lainnya tetapi manusia juga merupakan agen social yang bisa mempengaruhi atau bahkan di bentuk oleh masyarakat dan kebudayaan di mana ia berada dalam konteks sosial.[5]
1.      d. Konsep Bani Adam (                            )
Manusia sebagai Bani Adam, termaktub di tujuh tempat dalam Al-Qur’an (Muhammad Fuad Abd al- Baqi :1989). Menurut a- Gharib al- Ishfahany, bani berarti keturunan dari darah daging yang dilahirkan.[6] Berkaitan dengan penciptaan manusia menurut Christyono Sunaryo,[7] bahwa bumi dan dunia ini telah diciptakan Allah SWT jutaan tahun sebelum Nabi Adam AS diturunkan dibumi , 7000 thn yang lalu. Pada waktu itu Allah SWT sudah menciptakan “manusia” (somekind of humanoid) jauh sebelum Nabi Adam AS diturunkan :
Al Ankabuut – Ayat 19
29:19. Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya , kemudian mengulanginya (kembali) . Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
Ayat ini memperlihatkan bahwa kita seharusnya dapat memperhatikan adanya pengulangan kerena memang telah terjadi. Bukan pengulangan kebangkitan kembali nanti setelah hari kiamat , karena (pengulangan) kebangkitan setelah kiamat itu belum terjadi , sehingga masih sulit untuk di mengerti oleh yang tidak percaya .
Dan banyak ayat-ayat al- Qur’an, data dan kejadian yang menunjang concept pemikiran ini . Seperti misalnya : Pada saat manusia akan diciptakan Allah SWT untuk menjadi kalifah dibumi, bagaimana para Malaikat mungkin mengetahui bahwa manusia hanya akan membuat kerusakan diatas bumi . Sedangkan Malaikat hanya mengetahui apa-apa yang diberitahukan Allah SWT kepada mereka . Tentunya karena memang mereka pernah mengetahui adanya “manusia” dibumi sebelum   AdamASdiciptakan..
Oleh sebab itu Allah SWT selalu menyatakan bahwa : “Manusia (anak-cucuAdam AS ) diciptakan dalam kesempurnaan-nya” . Dalam Injil dikatakan bahwa “Man was created upon the image of God).. Serta banyak kalimat pada Taurat (Perjanjian Lama) yang membedakan antara “anak manusia” dan “anak Allah” , “adanya manusia-manusia yang besar pada saat itu” , bagaimana takutnya anak-anak Adam yang keluar dari surga dengan adanya ancaman / gangguan diluar, dsb.
Apapun yang dikatakan dalam kitab-kitab suci , ilmu pengetahuan ataupun teknologi dapat membuktikan bahwa ada sisa-sisa “manusia” yang telah berumur jutaan tahun . Bahkan teori Darwin-pun mengalami kesulitan dalam menghubungkan manusia purba dengan manusia masa kini (The missing-linktheorema).
Dalam konsep ini dapat ditarik beberapa kesimpulan bahwa :
  • Jelaslah disini bahwa Adam AS bukanlah merupakan hasil evolusiataupun “keturunan monyet” , seperti dikatakan Darwin.
B.     Manusia dan Psikologinya
Keberadaan manusia dalam dunia ini dilengkapi dengan dua keadaan yakni terdiri dari jasad dan ruh ;artinya, makhluk yang jasadiah serta ruhaniahnya sekaligus. Manusia bukanlah makhluk ruh murni dan bukan jasad murni melainkan manusia merupakan makhluk secara misterius terdiri dari kedua elemen ini juga yang disebut dengan entitas ketiga yaitu “jati dirinya sendiri”.[8] Realitas  yang mendasari dan prinsip yang menyatukan apa yang kemudian dikenal dengan manusia bukanlah perubahan jasadnya melainkan keruhaniannya.
Al- Ghazali dalam memandang jiwa itu tidak terlepas dari empat kata yaitu : hati (qalb), roh (ruh), jiwa (nafs), dan akal (a’ql ).[9]
1.      1. Nafs
Kata nafs dating dalam berbagai bentuk baik mufrad atau jama’. Ia menunjukkan manusia sebagai makhluk hidup yang asalnya satu. Dalam al-Qur’an kata Nafs ini menunjukkan pada diri (self) sebagai keseluruhan yang lebih menyatakan motivasi dan aktifitas hidup manusia.[10]
1.      2. Qalb
Menurut Hasan Langgulung kata Qalb yang terdapat al-Qur’an kebanyakan berkisar pada arti perasaan (emosi) dan intelektual pada manusia.[11] Oleh sebab ia merupakan dasar bagi fitrah yang sehat berbagai perasaan baik mengenai cinta atau benci, dan tempat petunjuk, iman, kemauan, sekaligus sebagai kontrol terhadap segala aktifitas manusia.
1.      3. Ruh
Ruh biasanya menunjukkan aspek suatu hakekat (realitas) yang abstrak yang mempunyai unsur illahi dan berhungan dengan manusia secara khusus.[12]
1.      4. Aql
Kata Aql menurut Hasan Langgulung muncul dala al-Qur’an tidak ada yang menunjukkan abstrak (masdar) sama sekali melainkan kata kerja dengan berbagai bentuknya. Karenanya Aql ini lebih menunjukkan pada aspek pemikiran pada manusia. Seperti QS. Albaqarah : 75, dan 44, al- Anfal : 22, serta al- Mulk : 10.[13]
Dalam hal ini Al-Attas berpendapat bahwa setiap sebutan ini memiliki dua makna, yang satu merujuk pada aspek-aspek jasadiah ataupun kebinatangan dan satunya merujuk pada aspek keruhaniah. Dengan demikian ketika aspek itu bergelut dengan sesuatu yang berkaitan dengan intelektual dan pemahaman, ia (yaitu, ruh manusia) disebut“intelek” ketika mengatur tubuh, ia disebut “jiwa” , ketika sedang mengalami pencerahan intuisi, ia disebut “hati” dan ketika kembali ke dunianya yang abstrak, ia disebut “ruh” pada hakekatnya.ia selalu aktif memanifestasikan dirinya dalam keadaan apapun.[14]
C.    Manusia dan Proses Pendidikan
Paulo freire, tokoh pendidikan Amerika Latin mengatakan bahwa tujuan akhir dari proses pendidikan adalah memanusiakan manusia (humanisasi),[15] tidak jauh berbeda dengan pandangan diatas M. Arifin berpendapat, bahwa proses pendidikan pada akhirnya berlangsung pada titik kemampuan berkembangnya tiga hal yaitu mencerdaskan otak yang ada dalam kepala (head) kedua, mendidik akhlak atau moralitas yang berkembang dalam hati (heart) danketiga, adalah mendidik kecakapan/ketrampilan yang pada prinsipnya terletak pada kemampuan tangan (hand) selanjutnya populer dengan istilah 3 H’s.[16] Berangkat dari arti penting pendidikan ini, Karnadi Hasan memandang bahwa pendidikan bagi masyarakat dipandang sebagai “Human investment” yang berarti secara historis dan filosofis, pendidikan telah ikut mewarnai dan menjadi landasan moral dan etik dalam proses humanisasi dan pemberdayaan jati diri bangsa.[17]
Merujuk dari pemikiran tersebut, Pendidikan adalah rajat hidup bagi setiap manusia. Karena kita sadari bahwa tidak ada seorangpun yang lahir di dunia ini dalam keadaan pandai (berilmu). Hal ini membuktikan bahwa segala sesuatu di dunia ini merupakan proses berkelanjutan yang tidak asal jadi seperti bayangan dan impian kita. Berkaitan adanya proses tersebut, penciptaan manusia oleh Allah SWT juga tidaklah sekali jadi. Ada proses penciptaan (khalq), proses penyempurnaan (taswiyyah), dengan cara memberikan ukuran atau hukum tertentu (taqdir), dan juga di berikannya petunjuk (hidayah).[18] Dengan demikian menurut Sunnatullah manusia sangat terbuka kemungkinannya untuk mengembangkan segala potensi yang dia miliki melalui bimbingan dan tuntunan yang tearah, teratur serta berkesinambungan  yang semuanya merupakan proses dalam rangka penyempurnaan manusia (insan kamil) yang nantinya dapat memenuhi tugas dari kejadiannya yaitu sebagai Khalifah Fil Ardl.
1.      D. Manusia Menurut Filsafat Pendidikan
Pemikiran filsafat mencakup ruang lingkupyang berskala makro yaitu: kosmologi, ontology, philosophy of mind, epistimologi, dan aksiologi.[19]Untuk melihat bagaimana sesungguhnya manusia dalam pandangan filsafat pendidikan, maka setidaknya karena manusia merupakan bagian dari alam semesta (kosmos). Berangkat dari situ dapat kita ketahui bahwa manusia adalah ciptaan Allah yang pada hakekatnya sebagai abdi penciptanya (ontology). Agar bisa menempatkan dirinya sebagai pengapdi yang setia, maka manusia diberi anugerah berbagai potensi baik jasmani, rohani, dan ruh (philosophy of mind). Sedangkan pertumbuhan serta perkembangan manusia dalam hal memperoleh pengetahuan itu berlajan secara berjenjang dan bertahap (proses)melalui pengembangan potensinya, pengalaman dengan lingkungan serta bimbingan, didikan dari Tuhan (epistimologi), oleh karena itu hubungan antara alam lingkungan, manusia, semua makhluk ciptaan Allah dan hubungan dengan Allah sebagai pencita seluruh alam raya itu harus berjalan bersama dan tidak bisa dipisahkan. Adapun manusia sebagai makhluk dalam usaha meningkatkan kualitas sumber daya insaninya itu, manusia diikat oleh nilai-nilai illahi (aksiologi), sehingga dalam pandangan FPI, manusia merupakan makhluk alternatif (dapat memilih), tetapi ditawarkan padanya pilihan yang terbaik yakni nilai illahiyat. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa manusia itu makhlukalternatif (bebas) tetapi sekaligus terikat (tidak bebas nilai).
1.      E. Peluang Pendidikan Menurut Islam
Sistem pendidikan Islam di Indonesia ini memiliki peluang yang sangat besar dalam menghadapi masalah-masalah yang selama ini membuat resahnya para pelajar Muslim. peluang tersebut dapat dilihat dari beberapa segi:
Pertama, sistem pendidikan Islam di Indonesia tidak menghadapi dominasi sistem pendidikan nasional, karena ajaran Islam secara filosofis tidak pernah bertentangan dengan pandandan hidup bangsa.
Kedua,Pancasila sebagai asas tungal, secara filosofis merupakan bagian dari filsafat Islam.
Ketiga, dalam keadaan yang jauh setabil, baik fisik, hukum, keamanan, dan ekonomi adalah suatu kesempatan yang amat tepat bagi kelompok mayoritas untuk mengisinya.
Keempat, semakin berkembangnya gerakan pembaruan pemikir Islam. Contohnya adalah lahirnya ICMI kendati secara politis masih dirisaukan tapi dapat di jadikan sebagai sarana baru untuk memperkokoh wacana yang berkembang dalam kalangan muslim.
Dengan demikian, dilihat dari segi ajaran maupun sosiologi pendidikan, sistem pendidikan yang ada didalam negara Indonesia ini mampu menjadi subsistem pendidikan Nasional, sebagaimana yang dicita-citakan, akan tetapi perlu disadari bahwa pendidikan tidak berdiri sendiri, tanpa upaya bidang-bidang lain yang secara sistemik harus bergerak secara harmonis menuju tujuan yang sama yaitu cita-cita nasional, maka kearifan dan keahlian dalam bekerja sama dengan berbagai pakar dari berbagai disiplin ilmu.
Maka tidak heranlah kalau dalam hal ini orang non muslim banyak yang mendapat kemajuan karena ia mau mengaplikasikan ajaran atau aturan dengan benar, maka yang perlu dilakukan kalangan muslim ialah adanya jiwa besar, pandangan yang luas, dan sikap yang rasional serta terbuka dalam berbagai hal untuk mau menerima kritik dan saran demi kemajuannya.[20]
III.       KEDUDUKAN MANUSIA DALAM ALAM SEMESTA
A.    Manusia Sebagai Abdul Allah
Pada pembahasan terdahulu telah banyak disinggung mengenai manusia di sebut abd Allah. Dalam konteks konsep abd Allah, manusia harus menyadari betul akan dirinya sebagai abdi. Hal ini berati bahwa manusia harus menempatkan dirinya sebagai yang dimiliki, tunduk dan taat kepada semua ketentuan pemiliknya, yaitu allah SWT.
B.     Manusia Sebagai Kholifah Allah
Al-Qur’an tidak memandang manusia sebagai makhluk yang tercipta secara kebetulan, atau tercipa dari kumpulan atom, tapi ia diciptakan setelah sebelumnya direncanakan untuk mengemban satu tugas sebagai khalifah di muka bumi ini, sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi (QS. 2 :30). Ia dibekali Tuhan dengan potensi dan kekuatan positif untuk mengubah corak kehidupan di dunia ke arah yang lebih baik. M. Quraisy Shihab menyimpulkan bahwa kata khalifah itu mencakup dua pengertian :[21]
1.       
1.      orang yangdberi kekuasaan untuk mengelola wilayah, baik luas maupun terbatas.
2.      khalifah memilki potensi untuk mengemban tugasnya, namun juga dapat berbuat kesalahan dan kekeliruan.
Beranjak dari pemahaman bahwa ada dua unsur sehungan dengan makna khalifah yakni unsure intern (mengarah pada hubungan horizontal) yang berkaitan dengan manusia, alam raya dan antar manusia dengan alam raya. Dan unsur ekstern (kaitannya dengan hubungan vertical) yaitu penugasan  Allah kepada manusia sebagaimandataris Allah dan pada hakekatmnya eksistensi manusia dalam kehidupan ini adalah membangun dan mengelola dunia tempat hidupnya ini sesuai dengan kehendak penciptanya. Tugas kekhalifahan tersebut meang sangat berat. Namun status ini menunjukkan arah peran manusia sebagai penguasa di bumi atas petunjuk Allah. Selain itu, dari tugas tersebut menggambarkan bahwa akan kedudukan manusia selaku makhluk ciptaanNya yang paling mulia.
IV.       KESIMPULAN
Manusia menurut Islam adalah mahluk ciptaan Allah (QS. 98: 2)[22]dengan kedudukan yang melebihi mahluk ciptaan Allah lainnya (QS. 95 : 4)[23]. Selain itu manusia sudah dilengkapi dengan berbagai potensi yang dapat dikembangkan antara lain berupa fitrah ketauhidan (QS.15 :29)[24]. Dengan fitrah ini diharapkan manusia dapat hidup sesuai dengan hakekat penciptaannya, yaitu mengabdi kepada Allah SWT (QS. 51: 56)[25]. Mengacu pada ketentuan ini, maka dalam pandangan Islam, meminjam bahasa Jalaludin, manusia pada hakekatnya merupakan makhluk ciptaan Allah yang terikat dengan “Blue prient”(cetak biru) dalam lakon hidupnya,[26] yaitu menyadari akan dirinya sebagai “Abdul Allah” sekaligus mempunyai tugas sebagai mandataris Allah.
V.          PENUTUP
Demikian makalah yang dapat kami sampaikan, kritik serta saran dari audient sangat kami harapkan, dan semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua Amiin.


Hakikat dan Tujuan Pendidikan Islam

Pengertian Pendidikan Islam
Ada tiga istilah yang umum digunakan dalam pendidikan Islam, yaitu al-Tarbiyah (pengetahuan tentang ar-rabb), al-Ta’lim (ilmu teoritik, kreativitas, komitmen tinggi dalam mengembangkan ilmu, serta sikap hidup yang menjunjung tinggi nilai-nilai ilmiah), al-Ta’dib (integrasi ilmu dan amal). (Hasan Langgulung : 1988).
1. Istilah al-Tarbiyah
Kata Tarbiyah berasal dari kata dasar “rabba” (رَبَّى), yurabbi (يُرَبِّى) menjadi “tarbiyah” yang mengandung arti memelihara, membesarkan dan mendidik. Dalam statusnya sebagai khalifah berarti manusia hidup di alam mendapat kuasa dari Allah untuk mewakili dan sekaligus sebagai pelaksana dari peran dan fungsi Allah di alam. Dengan demikian manusia sebagai bagian dari alam memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang bersama alam lingkungannya. Tetapi sebagai khalifah Allah maka manusia mempunyai tugas untuk memadukan pertumbuhan dan perkembangannya bersama dengan alam. (Zuhairini, 1995:121).
2. Istilah al-Ta’lim
Secara etimologi, ta’lim berkonotasi pembelajaran, yaitu semacam proses transfer ilmu pengetahuan. Hakekat ilmu pengetahuan bersumber dari Allah SWT. Adapun proses pembelajaran (ta’lim) secara simbolis dinyatakan dalam informasi al-Qur’an ketika penciptaan Adam as oleh Allah SWT, ia menerima pemahaman tentang konsep ilmu pengetahuan langsung dari penciptanya. Proses pembelajaran ini disajikan dengan menggunakan konsep ta’lim yang sekaligus menjelaskan hubungan antara pengetahuan Adam as dengan Tuhannya. (Jalaluddin, 2001:122).
3. Istilah al-Ta’dib
Menurut al-Attas, istilah yang paling tepat untuk menunjukkan pendidikan Islam adalah al-Ta’dib, konsep ini didasarkan pada hadits Nabi:
اِدَّ بَنِيْ رَبِّى فَأَحْسَنَ تَـأْدِيْبِيْ {رواه العسكرى عن على}
Artinya : “Tuhan telah mendidikku, maka ia sempurnakan pendidikanku”
(HR. al-Askary dari Ali r.a).
Al-Ta’dib berarti pengenalan dan pengetahuan secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam diri manusia (peserta didik) tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan. Dengan pendekatan ini pendidikan akan berfungsi sebagai pembimbing ke arah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat dalam tatanan wujud dan kepribadiannya.
Dari bahasan di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam adalah suatu sistem yang memungkinkan seseorang (peserta didik) dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan ideologi Islam. (Samsul Nizar, 2002:32).
B. Tugas dan Fungsi Pendidikan Islam
Secara umum tugas pendidikan Islam adalah membimbing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan peserta didik dari tahap ke tahap kehidupannya sampai mencapai titik kemampuan optimal. Sementara fungsinya adalah menyediakan fasilitas yang dapat memungkinkan tugas pendidikan berjalan dengan lancar.
Bila dilihat secara operasional, fungsi pendidikan dapat dilihat dari dua bentuk :
1. Alat untuk memperluas, memelihara, dan menghubungkan tingkat-tingkat kebudayaan, nilai-nilai tradisi dan sosial serta ide-ide masyarakat dan nasional
2. Alat untuk mengadakan perubahan inovasi dan perkembangan.
C. Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam
Menetapkan al-Qur’an dan hadits sebagai dasar pendidikan Islam bukan hanya dipandang sebagai kebenaran yang didasarkan pada keimanan semata. Namun justru karena kebenaran yang terdapat dalam kedua dasar tersebut dapat diterima oleh nalar manusia dan dibolehkan dalam sejarah atau pengalaman kemanusiaan.
Tujuan pendidikan Islam adalah untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan kepribadian manusia. Secara menyeluruh dan seimbang yang dilakukan melalui latihan jiwa, akal pikiran, diri manusia yang rasional, perasaan dan indra, karena itu, pendidikan hendaknya mencakup pengembangan seluruh aspek fitrah peserta didik, aspek spiritual, intelektual, imajinasi, fisik, ilmiah dan bahasa, baik secara individual maupun kolektif, dan mendorong semua aspek tersebut berkembang ke arah kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan terakhir pendidikan muslim terletak pada perwujudan ketundukan yang sempurna kepada Allah SWT, baik secara pribadi kontinuitas, maupun seluruh umat manusia. (Samsul Nizar, 2002:38).


Selasa, 25 Juni 2013

STUDI NAHWU MAZHAB BASHRAH


STUDI NAHWU MAZHAB BASHRAH
Bashrah adalah kota perdagangan di pinggir negara-negara Arab. Di sana, mengalir sungai Tigris dan Euphrates yang bermuara ke laut. Basrah terletak pada jarak tiga ratus mil tenggara Bagdad. Namanya diperoleh dari sifat tanahnya. Bashrah adalah tempat yang tanahnya halus berbatu, banyak mengandung air dan bagus untuk pertanian. Hal ini diperlihatkan dengan adanya buluh (qashb), yaitu: tanah yang cocok untuk dijadikan tempat tinggal, dan memungkinkan untuk berkembang dan mengambil manfaat dari tempat-tempatnya yang bersifat natural.

Struktur Bangunan
Bangsa Arab adalah bangsa Baduwi. Mereka lahir, tumbuh dan berkembang di daerah pedalaman. Tempat gembala mereka adalah padang sahara, makanan mereka bersumber dari alam, dan minuman mereka berasal dari air hujan yang alami pula. Mereka pun menghirup udara yang bersih. Kondisi seperti inilah yang tidak mungkin memisahkan dan menjauhkan mereka dari alam, karena alam merupakan tempat tinggal mereka, tempat sekawanan ternak yang mereka miliki dan asas kehidupan mereka, sehingga tatkala mereka keluar untuk menaklukkan negara-negara yang berdekatan, mereka sangat rindu untuk kembali ke pedalaman dan kangen akan padang sahara.
Tatkala khalifah Umar bin al-Khattab menaklukkan Persia, ia mengutus Matsna bin Harits asy-Syaibani untuk melakukan serangan ke hutan, sebagai persiapan untuk melakukan penaklukkan besar-besaran. Kemudian, ditugaskan pula Sa’d bin Abi Waqash untuk menaklukkan kota-kota. Beliau juga mengutus tentara yang dipimpin ‘Utbah bin Ghazwan untuk mempersulit posisi penduduk Ahwaz, Persia dan bergerak membantu saudara mereka yang sedang berperang yaitu Sa’ad bin Abi Waqash.
Ketika ‘Utbah pergi ke selatan Irak, ia bertemu dengan Suwaid bin Qutbah adz-Dzuhli beserta kekuatan dari bani Bakr bin Wail dan bani Tamim yang sedanbg bergerak mendekati pasukan yang berdekatan dengan mereka di Persi. ‘Utbahpun menyatukan tentara Suwaid dengan pasukannya dan mereka tingal di tenda-tenda. Akan tetapi ‘Utbah berpendapat bahwa pasukannya membutuhkan tempat tinggal yang bisa dipakai lagi jika kembali dari berperang dan melindungi mereka dari dinginnya hujan. Dia pun menulis surat pada Khalifah untuk meminta ijin tentang gagasannya tersebut. Umar membalas dengan pernyataan: “kumpulkanlah pasukanmu di satu tempat yang dekat dengan air dan terjaga, jangan ada gunung dan sungai yang memisahkan kita, dan tuliskanlah sifat tempat yang kau maksud”. Maka ‘Utbah menulis:“sesungguhnya hamba menemukan tempat yang tanahnya berkerikil, yang berada diujung pedalaman, terdapat air dan buluh di dalamnya”. Umar mengatakan:“sesungguhnya inilah Bashrah, dekat dengan sumber air, tempat perlindungan, dan juga tempat mencari kayu bakar”. Beliau menyepakatinya untuk dijadikan tempat pemukiman tentara.

Bashrah: Pionir bagi Ilmu Nahwu 
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa Nahwu tumbuh dan berkembang di di tangan para ulama Bashrah. Sebenarnya Kufah telah melakukan hal yang sama, namun bagaimanapun juga, Bashrahlah sebagai pionir dan yang paling awal dalam hal ini. Ketika para ulama Kufah mulai sibuk dengan Nahwu mutakkhir kira-kira sepadan dengan ilmuwan Bashrah di era sempurna. Terciptanya kondisi Bashrah seperti ini tidak lepas dari beberapa hal berikut:

1. Letak Geografis
Bashrah terletak pada jarak tiga ratus mil ke arah tenggara dari kota Bagdad, terdapat sungai Tigris dan Euphrates yang mengalir dan bermuara di laut. Kondisi strategis seperti ini tentunya akan berpengaruh kuat terhadap pembentukan personalitas penduduk, dan membuat mereka terkenal juga kematangan berfikir. Letak kota Bashrah yang berada di pinggir pedalaman, fasih bahasa yang murni, dan terbebas dari cacat lachn dan kata-kata asing. Di sana terdapat para ilmuwan yang kadangkala melakukan perjalanan ke pedalaman, namun adakalanya membawa orang Badui ke kota mereka. Di tengah perjalanan, biasanya mereka bertemu dengan orang Arab asli dan melakukan pembicaraan dari sumber bahasa yang asli. Orang yang terkenal melakukan perjalanan ke pedalaman untuk melakukan survey bahasa dan mengumpulkannya adalah Khalil bin Ahmad, Yunus bin Habib, Nadhar bin Syamil, dan Abu Zaid al-Anshari. Hal ini tampak jelas sekali dari perkataan Khalil ketika ditanyai oleh al-Kisai tentang sumber-sumber ilmunya (pedalaman Hijaz, Najd dan Tihama), maka dengan serta merta, al-Kisai pun keluar menuju pedalaman dan menghabiskan lima belas botol tinta untuk menulis bahasa Arab selain dari yang sudah dihafalnya. Kedatangan orang-orang Badui dari pedalaman ke Bashrah sungguh telah memberikan gambaran yang beraneka ragam. Dari mereka yang tinggal hanya untuk sementara kemudian kembali ke pedalaman dan adapula yang tinggal cukup lama dan baru kembali ke qabilah mereka, bahkan jika ada yang mendapatkan tempat yang nyaman di Bashrah mereka tidak kembali. Banyak para siswa yang belajar bahasa menemui orang-orang Badui untuk mendengar percakapan mereka dan mengambilnya.
Mengingat Bashrah sebagai pelabuhan perdagangan bagi Irak di teluk Arab, maka datanglah unsur-unsur asing yang berimbas pada kemajuan di bidang perdangan dan investasi. Dari sinilah terjadi pertemuan antara orang-orang Arab, Persia dan India, sekaligus merupakan perjumpaan antara agama Nasrani, Yahudi, Majusi dan Islam. Kedekatan Bashrah dengan madrasah Gandisabur di Persia yang mempelajari kebudayaan Persia, Yunani dan India telah menghantarkan pada pertautan kebudayaan secara menyeluruh. Maka mucullah upaya penerjemahan pada masa Umar bin Abdul Aziz yang dilakukan oleh Masir Haubah dengan menerjemahkan buku kedokteran. Hal yang sama Abdullah al-Muqaffa’ yang pandai berbahasa Arab dan Persia. Dia menerjemahkan peningalan-peninggalan sejarah dan sastra Persia ke dalam bahasa Arab. Dari putranya yang bernama Muhammad, lahirlah terjemahan bahasa Arab untuk ilmu mantiq-nya Aristoteles dan terjemahan Kalilah wa Dimnah. Terdapat juga penerjemah Yahudi yang bernama Hunain bin Ishaq yang menerjemahkan buku-buku dan mendapat imbalan berupa emas untuk setiap timbangannya. Di Bashrah, terdapat aliran Ayi’ah dan Mu’tazilah yang telah membuka lebar pengambilan keilmuan Yunani. Ini sangat berpengaruh dalam mazhab ilmu kalam mereka dan juga berimbas pula pada ilmu nahwu dalam hal taqsim, ta’lil, ta’wil dan qiyas.

2. Stabilitas Sosial
Bashrah adalah kota yang aman dan stabil serta terlepas dari istabilitas politik dan pertentang mazhab. Kondisi seperti ini telah menghantarkan Bashrah menjadi kota yang berperadaban, disibukkan dengan berbagai aktifitas keilmuan, dan memanfaatkan anekaragam kebudyaan. Terjadilah pertemuan keilmuan yang berbeda dan muncul pulalah mazhab-mazhab agama dan fisafat. Kehidupan yang stabil ini juga menuntut kehidupan intelektualitas yang tertib.

3. Pasar Mirbad
Pasar Mirbad adalah pasar yang sangat terkenal, terletak di pintu barat kota Bashrah. Dulu pasar ini dinamai Pasar Unta (suq ibil) karena terbatas hanya pada penjualan unta, kemudian dinamakan Mirbad karena unta ditinggalkan di tempat tersebut. Oleh karena itu, setiap tempat yang digunakan untuk menambatkan unta dinamakan mirbad. Kemudian jadilah tempat tersebut tempat yang terkenal dan di sana diadakan unjuk kebolehan di bidang puisi dan khitabah. Adapun sebab didirikannya pasar Mirbad adalah karena orang-orang Arab yang datang ke Bashrah dari tengah Jazirah Arab menemukan di pinggiran kota tersebut tempat yang nyaman untuk menunda perjalanan. Mereka kemudian menjadi penduduk Bashrah. Mereka menanti di tempat tersebut untuk berdagang dan saling bertukar hal-hal yang bermanfaat. Alangkah cepatnya tempat tersebut menjadi pasar besar yang sibuk dengan perdagangan di mana para empunya adalah para penyair dan sastra sehingga hiduplah nuansa satra. Merekapun bersaing di Ukaz dalam keindahan.

4. Mesjid Bashrah
Terdapat berbagai macam majelis di dalam mesjid tersebut diantaranya majelis kajian tafsir, ilmu kalam, bahasa dan lain-lain. Para imamnya adalah penduduk Bashrah sendiri yang berbangsa Arab, Persia dan India dan sebagian lagi orang-orang Badui yang datang dari pedalaman. Diantara majelis-majelis yang ada adalah sebagai berikut:
1. Majelis Himad bin Sulmah. Sibawaih ikut bergabung dalam majelis tersebut.
2. Majelis Musa bin Siyar al-Aswari. Jahizd berkomentar tentangnya:“Ini merupakan keajaiban. Dia sangat fasih berbahasa Persia sama halnya dengan bahasa Arabnya. Dia duduk di majelisnya yang terkenal itu, sementara di sebelah kanannya orang Arab dan di sebelah kirinya orang Persi. Dia pun mulai membacakan al-Qur’an dan menafsirkannya dengan orang Arab menggunakan bahasa Arab dan berpaling ke orang-orang Persi dan manfsirkan ayat al-Qur’an dengan bahasa Persia”.
3. Majelis Abu Umar bin al-Ila. Dia megajar qira’ah, bahasa, dan nahwu. Murid-muridnya berdesak-desakan di dalamnya. Suatu ketika, Hasan al-Bashri lewat dan menyaksikan betapa berjejalnya murid-murid yang mengikuti majelis tersebut maka ia pun berkata:” la ila ha illallah, hampir para ulama menjadi tuhan-tuhanan, setiap kemualian tidak dibentengi dengan ilmu maka kehinaanlah yang berkuasa”
4. Di antara majelis-majelis Bashrah yang paling terkenal adalah majelis Khalil bin Ahmad al-Farahidi, yang diikuti para murid yang kemudian menjadi pakar bahasa dan nahwu semisal: Sibawaih, an-Nadhar bin Syamil, Ali bin Hamzah al-Kisai, Abi Muhammad al-Yazidi, al-Ashmai dan yang lainnya. 
5. Majelis Yunus bin Habib yang dipenuhi pula murid-muird. Di antara para pemimpin majelis ini yang terkenal adalah Abu Ubaidah, al-Ashmai, Abu Zaid al-Anshari, Abu Muhammad al-Yazidi, Qathrab, Sibawaih, Abu Umar al-Jurmi, al-Kisai, al-Farra’, Khalf Ahmar dan Ibnu Salam al-Jum’i. Halaqah Yunus dimulai pada masa Khalil dan mencapai kesempurnaan setelah wafatnya. Banyak tergabung para tokoh ke dalam majelis Yunus tersebut. Tentang majelis Yunus ini, Marwan bin Abi Hafsah berkata:“Saya belum pernah melihat halaqah yang paling mulia kecuali halaqah-nya Yunus”.

Basrah Mengembangkan Ilmu Nahw
Pada awal perkembangannya, nahw masih merupakan ilmu dengan lingkup yang kecil. Abu al-Aswad menemukannya dan kemudian dikuatkan oleh Imam Ali ra. Ilmu ini mendapat iklim yang bagus untuk berkembang di Basrah sesuai dengan keadaan Basrah waktu itu. Ilmu nahw sangat diperlukan di Basrah karena sangat banyak kesalahan bahasa di sana. Kaum muslim non Arab di Basrah sangat membutuhkan ilmu nahw untuk memperbaiki bahasa, menghilangkan pengaruh bahasa asing, mendalami agama Islam, dan meningkatkan kedudukan mereka di kalangan orang Arab. Setelah Abu al-Aswad membangun sistematika ilmu nahw, ternyata orang Arab juga membutuhkannya dalam berbahasa. Setelah masa Abu al-Aswad, perbedaan mulai timbul di antara para muridnya, seperti ‘Abdurrahman bin Hurmuz, Maimun al-Aqran, ‘Anbasah al-Fil, Yahya bin Ya‘mur, Nasr bin ‘Asim, dan juga para murid berikutnya, seperti ‘Isa bin ‘Umar, Abu ‘Amr bin al-‘Ala, dan Yunus bin Habib. 
Terkait dengan perkembangan ilmu nahw, ada lima tahap perkembangan yang penting untuk diketahui, yaitu:
1. Penggunaan contoh dan dalil. 
Cara ini dipakai agar pendapat yang diambil benar dan sesuai dengan perkataan orang Arab. Abu al-Aswad memakai cara ini ketika Bani Qusyair mempertanyakan masuknya dia ke dalam kelompok Syiah. Kemudian Abu al-Aswad mengucapkan sebuah syair yang berbunyi


ولست بمخطئ إن كان غيا فإن يك حبهم رشدا أصبه


Syair ini adalah bukti bahwa Abu al-Aswad tidak ragu-ragu. Pendapat Abu al-Aswad terkait dengan hak untuk berbeda pendapat. Dia menggunakan ayat al-Qur’an sebagai dalil, yaitu ayat yang berbunyi:


وإنا أو إياكم لعلى هدى أو فى ضلال مبين (سبأ : 24)
Pada kesempatan yang lain, Abu al-Aswad juga menjelaskan bolehnya menggunakan perkataan لولاي . Hal ini sesuai dengan sebuah syair yang berbunyi:

وكم موطن لولاي طيحت كما هوى # بأجرامه من قنة النيق منهرى
2. Penggunaan pendapat ulama terdahulu.
Hal ini misalnya yang terjadi pada ‘Abdullah bin Abi Ishaq yang membaca:
قل هو الله أحدٌ الله الصمد
Kemudian dia mendengar Nasr bin ‘Asim membacanya dengan cara:
قل هو الله أحدُ الله الصمد
karena bertemunya dua tanwin. ‘Abdullah mengatakan kepada Nasr bahwa ‘Urwah membaca ayat tersebut dengan tanwin, tetapi Nasr mengatakan bahwa bacaan ‘Urwah tidak baik. Maka ‘Abdullah membaca ayat tersebut tanpa tanwin seperti yang dikatakan oleh Nasr.

3. Perbedaan pendapat
Perbedaan pendapat ini terkait dengan prinsip-prinsip yang dirumuskan sendiri oleh para ahli nahw. Sebagai contoh adalah ‘Abdurrahman bin Hurmuz yang membaca ayat dengan bacaan:


أو يأتيهم العذاب قُبُلاً (الكهف : 55)


Hal ini berbeda dengan ‘Isa bin ‘Umar yang membaca:

أو يأتيهم العذاب قِبَلاً (الكهف : 55)
‘Abdullah bin Abu Ishaq juga membaca beberapa ayat dengan cara berbeda, misalnya: 
يا ليتنا نردَ ولا نكذبَ بآيات ربنا ونكونَ من المؤ منين (الأنعام : 27) 
والزانيةَ والزانيَ (النور : 2) dan والسارقَ والسارقةَ (المائدة : 38)

4. Pemeriksaan dan Penafsiran
Para ahli nahw mulai memeriksa kaidah dan menafsirkan teks sesuai dengan kaidah yang mereka susun. Sebagai contoh adalah perbedaan penafsiran antara ‘Isa bin ‘Umar dan ‘Amr bin al-‘Ala. Keduanya membaca sebuah ayat dengan cara yang sama, yaitu ayat:
يا جبال أوبي معه والطيرَ (سبأ : 10) . Akan tetapi, keduanya berbeda dalam penafsiran. Bagi ‘Isa, cara pembacaan seperti di atas terkait dengan adanya nida’, sedangkan Abu ‘Amr menyatakan adanya idmar dengan سَخَّرْنَا seperti dalam ayat yang berbunyi: ولسليمان الريحَ (سبأ : 12) .

6. Pemberlakuan Aturan Nahw. 
Pemberlakuan ini dilakukan oleh para ahli nahw terkait dengan penggunaan bahasa Arab di kalangan umat Islam. Sebagai contoh adalah Abu Muslim yang menjadi pengajar khalifah Malik bin Marwan. Dia bertanya kepada seseorang mengenai ayat:(
تأزهم أزا (مريم : 83 dan إذا الموءودة سئلت (التكوير : 8) ketika dipakai dalam contoh ungkapan يا فاعلٌ افعلْ . Maka orang itu menjawab dengan perkataan: يا آز اُز dan يا وائد اِد . Maka Abu Muslim merasa bahwa perkataan ini tidak pernah didengarnya dari orang Arab dan memutuskan untuk tidak digunakan di kalangan umat Islam. 

GENERASI NAHWU MADZHAB BASHRAH
GENERASI PERTAMA
1. Abul Aswad Ad-Duali
Nama lengkapnya Dzhalim bin Umar bin Supyan bin Jundal bin Ya’mur bin Halis bin Nufatsah bin ‘Uda ibn Du’al bin Abdu Manah bin Kinanah, dikatakan juga bernama Utsman. Dia seorang penduduk Bashrah dan memiliki kekuatan ingatan. Abul Aswad termasuk orang yang fasih bacaannya. Dia belajar qira’ah dari Utsman bin ‘Affan, Ali ibn Abi Thalib, yang meriwayatkan qira’ahnya adalah putranya sendiri Abu Harb dan Yahya bin Ya’mur. Para ahli sejarah menyimpulkan bahwa Abul Aswad adalah orang pertama yang menyusun ilmu Nahwu setelah mendapat rekomendasi dari Ali r.a. Abul Asawad meninggal di Bashrah pada tahun 69 H, pada usia delapan puluh lima tahun ketika terjadi wabah pes, namun adapula yang mengatakan bahwa ia wafat sebelum terjadinya wabah pes.

2. Abdurrahman bin Hurmuz
Nama lengkapnya Abu Dawud Abdurrahman bin Hurmuz bin Abi Sa’ad al-Madini al-A’raj, hamba Ibnu Rabi’ah bin al-Harits bin Abdul Muthalib. Abdullah bin al-Hai’ah meriwayatkan dari Abi Nadhr bahwa Abdurahman bin Hurmuz adalah orang pertama yang menyusun bahasa Arab dan dialah orang pertama yang paling tah ilmu nahwu dan seorang keturunan Quraisy. Abdurrahman bin Hurmuz termasuk ahli qari dan juga termasuk rijalul hadits. Ini diriwayatkan dari Abdullah bin Bahinah, Abu Hurairah dan Abdurrahman bin Abdul Qari. Ia termasuk ahli fiqih dan berbeda pendapat dengan Malik bin Anas, ilmu yang diperdebatkan adalah mengenai ushul al-din. Abdurrahman bin Hurmuz pindah ke Iskandariah, dan bermukim di sana sampai wafat pada tahun 117 H.
Karakteristik periode ini:
a. Tergabung dalam profesi Qori’. Para ulama Bashrah secara menyeluruh sebagai Qari Al-Qur’an, yang mempelajari hukum-hukumnya, yang haus akan bacaan al-Qur’an dan juga sebagai para perawi hadits.
b. Memberi perhatian khusus terhadap lahn dalam kalam Arab, dan dalam al-Qur’an dan menentang fenomena terlarang ini.
c. Mushaf-mushaf diberi titik dengan i‘rab yang dimulai oleh Abul Aswad Ad-Duali yang mendapat nasihat dari Ziyad ibn Abihi, kemudian diikuti oleh murid-murid setelahnya, sebagai penentangan terhadap lahn dalam al-Qur’an.
d. Awal penysusunan ilmu nahwu mendapat petunjuk dari Imam Ali r.a yang diawali oleh Abul Aswad dan diikuti oleh murid-muridnya.
e. Tidak terdapat peninggalan berupa tulisan tentang GENERASI ini kecuali riwayat yang diklaim oleh Ibn Nadiim dan Qifthi. 

GENERASI KEDUA
1. Yahya bin Ya’mur Al-Udwan Al-Laitsi
Abu Sulaiman Yahya bin Ya’mur bin Wasyqah bin Auf bin Bakr bin Yaskur bin Udwan ibn Qais bin Ilan bin Mudhar. Dia dari golongan Bani Laits. Ibnu Ya’mur termasuk orang yang belajar dari Abul Aswad mengenai memberi titik mushaf dengan titik i‘rab.

2. Maimun Al-Aqran
Abu Abdullah Maimun Al-Aqran, dipanggil juga Maimun bin al-Aqran. Belajar Nahwu dari Abul Aswad. Abu Ubaidah berkata:”Orang yang pertama kali menyusun ilmu nahwu adalah Abul Aswad Ad-Duali, kemudian Maimun al-Aqran, kemudian Anbasah al-Fail, dan Abdullah bin Abi Ishaq”. 



3. Anbasah Al-Fil
Anbasah bin Mu’dan al-Misani al-Mahri. Orangtuanya (Mu’dan) adalah dari Misan, kemudian berpindah ke Bashrah dan bermukim di sana.

4. Nashr bin Ashim Al-Laitsi
Nama lengkapnya Nashr bin Ashim bin Umar bin Khalid bin Hazm bin As’ad bin Wadi’ah bin Malik bin Qais bin Amir bin Laits bin Bakr bin Abdi Manah bin Ali bin Kinanah. Dalam hal keturunan ia bertemu dengan Abul Aswad Ad-Duali dari Bakr bin Abdi Mannah. Ia seorang yang faqih dan berpengetahuan di bidang bahasa Arab, termasuk dari tabiin terdahulu: Ia juga termasuk ahli Qira yang fasih, dalam hal al-Qur’an dan nahwu ia menyandarkan pada Abul Aswad. Nashr belajar Nahwu juga dari Yahya bin Ya’mur. Dari Abu Umar bin Ula dikatakan bahwa ia memiliki sebuah buku dalam bahasa Arab. Ia meninggal pada tahun 89 H.
Karakteristik periode ini:
a. Tergabung dalam profesi Ahli Qira dan Ahli Hadits. 
b. Memiliki perhatia pada realitas lahn dalam kalam Arab dan al-Qur’an, juga dalam pembicaraan para pemimpin seperti al-Hajjaj bin Yusuf al-Tsaqfi dan pemimpin lainnya.
c. Ada kesepakatan dalam memberi titik mushaf dengan titik i‘rab.
d. memberi titik mushaf dengan titik dan harakat atas nasihat dari Hajjaj bin Yusuf al-Tsaqfi.
e. Terdapat tambahan atas penyusunan ilmu Nahwu.
f. Belum terdapat peninggalan berupa tulisan.

GENERASI KETIGA
1. Abdullah bin Abu Ishak
Ia belajar al-Qur’an dari Yahya bin Ya’mur dan Nashr bin Ashim dan belajar nahwu dari Maimun al-Aqran. Dikatakan bahwa ia belajar nahwu dari Yahya bin Ya’mur. Hatim meriwayatkan dari Dawud bin Zibriqah dari Qatadah bin Da’amah ad-Daus, ia berkata:”Orang pertama yang menyusun nahwu setelah Abul Aswad adalah Yahya bin Ya’mur, dan belajar darinya Abdullah bin Abu Ishak.

2. Abu Umar bin Ula
Al-Riyasy meriwayatkan dari al-Ashma‘i, ia berkata:”Saya bertanya pada Abu Umar:”Siapa namamu?” Ia menjawab:”Nama saya Abu Umar”. Abu Ubaidah berkata:”Abu Umar adalah manusia yang paling tahu di bidang sastra, bahasa Arab, al-Qur’an dan puisi”. Al-A‘shami berkata:”Saya bertanya pada Abu Umar seribu pertanyaan, maka dia pun memberi jawaban dengan seribu hujjah”. Ia meninggal di Kufah pada tahun 154 H, ada pula yang mengatakan 159 H.

3. Isa binAmr ats-Tsaqfi
Ia belajar nahwu dari Abdullah bin Ishak dan Abu Umar al-Ula. Kemudian, Al-Khalil bin Ahmad, Yunus bin Habib dan Sibawaih.belajar darinya. 
Karakteristik periode ini:
a. Dimulainya derivasi qias, dan implementasinya atas pembacaan al-Qur’an dan puisi Arab.
b. Dimulainya ta’lil kaidah nahwu dan ta’wil terhadap hal yang menyalahi kaidah.
c. Dimulai munculnya berbagai pendapat seperti terdapatnya pendapat antara Abu Umar al-Ula dan Abdullah bin Abu Ishak, dan antara Abu Umar al-Ula dan Isa bin Amr.
d. Munculnya pendapat nahwu yang bersifat individual, dan pembacaan al-Qur’an yang berbeda dari ulama Jumhur.
e. Tidak terdapat peninggalan berupa tulisan kecuali yang diriwayatkan dari al-Jami’ dan al-Kamil karya Isa ibn Amr.


GENERASI KEEMPAT
1. Al-Akhfa al-Akbar
Ia berpendapat (
طاءر الخفوف ) yang diriwayatkan oleh Ibn Duraid: tidak ada salah-seorang dari sahabat kita yang menyebutkan kata tersebut.
2. Al-Khalil bin Ahmad
Karya-karya al-Khalil:
Dalam bahasa:
a. Kitab Ma ‘anil-Huruf
b. Kitab an-Naqth wat-Tasykil
c. Kitab al-Jamal
d. Kitab asy-Syawahid
e. Kitab al-‘Ain
Dalam ilmu Arud:
a. Kitab al-Arudh
b. Kitab al-Farsy wal-Mitsal
Al-Khalil meninggal pada tahun 170 H.

3. Yunus bin Habib
Salah satu pendapatnya berkaitan dengan Nahwu bahwa tashgir untuk kata
قبائل adalah قبيّل, sementara Khalil dan Sibawaih berpendapat قبيئل .

GENERASI KELIMA
1. Sibawaih
Karya Sibawaih adalah Kitab Sibawaih, tak seorang pun yang tahu kapan penyusunan kitab tersebut. Dalam menyusun kitab ini, Sibawaih banyak mengambil manfaat dari ilmu yang dimiliki Khalil. Sibawaih meriwayatkan dalam kitabnya tentang para ahli nahwu, meskipun tidak jelas apakah dia bertemu mereka atau belajar dari mereka secara lisan, mereka itu adalah Abu Umar bin Ula, Abdullah bin Abi Ishak, Al-Ru’as dan para ahli Kuffah.

Tambahan 
Ada dua sumber yang dipakai Sibawaih sebagai argumentasi dalam menguatkan pendapatnya mengenai sebuah persoalan tatabahasa, yaitu puisi Arab dan hadits Nabi Muhammad SAW. Dalam kitabnya, Sibawaih menggunakan kurang lebih seribu lima ratus bait puisi. Banyak dari puisi-puisi tersebut tidak disebutkan sumbernya, entah karena penciptanya sudah meninggal atau memang tidak diketahui. Karena takut salah, kadang-kadang Sibawaih mencantumkan dua bahkan lebih sumber untuk satu puisi. Puisi-puisi itu ada yang dinyatakan bersumber dari gurunya atau dari pendengarannya sendiri. Syaikh Muhammad ath-Thanthawy menyatakan adanya tiga puluh satu puisi tanpa sumber yang jelas, sedangkan Syaikh ‘Abdul Qadir al-Baghdady menyebut angka lima puluh. Berikut ini kami sampaikan pendapat beberapa ulama terkait puisi-puisi tanpa sumber ini.
1. ‘Uqaibah bin Hubairah al-Asady
مُعَـاوِىَ إِنَّـنَا بَشَـرٌ فَأَسْـجِحْ فَلَسْـنَا بِالْجِـبَالِ وَلاَ الْحَـدِيْـدَ ا
Sibawaih menyatakan bahwa kata الحديدا itu mansub karena ma‘thuf kepada kata الجبال . Kata الجبالitu sendiri mansub, sedangkan ba’ adalah zaidah. ‘Uqaibah menyatakan bahwa Qutaibah menyalahkan pendapat Sibawaih di atas dan kata الحديدا harus dibaca majrur sebagaimana umumnya qasidah puisi Arab. Al-Mubarrad juga mengikuti pendapat Qutaibah ini.

2. Nahsyal bin Hurry
لِيُـبْكَ يَـزِيْدٌ ضَـارِعٌ لِخُصُـوْمَـةٍ وَمُخْتَـبِطٌ مِمَّـا تُطِـيْحُ الطَـوَائِـحُ
Sibawaih menyatakan bahwa kata ضـارع marfu‘ karena merupakan naibul fa‘il yang sudah diketahui dari kata ليـبك . Nahsyal menyampaikan pendapat al-Ushmu‘i yang menyangkal pendapat ini, karena tidak ada na’ibul fa‘il dari fi‘l mahzhuf. Kata يـزيد harus tetap mansub, sedangkan kata ضـارع adalah fa‘il. 

3. Al-Akhthal
كُرُّوْا إِلَى حَرَّتَيْكُمْ تَعْمُرُوْنَهَا كَمَا تَكِرُّ إِلَى أَوْ طَانِهَا الْبَقَرُ
Sibawaih menggunakan bentuk di atas untuk orang kedua ketika dia menggunakan bentuk حَرَّتـَيْكُـمْ تَعْـمُرُوْ نَهُـمَا . Al-Akhtal menyampaikan kritik Syaikh Muhammad ath-Thanthawy mengenai bait syair di atas. Bentuk di atas seharusnya digunakan untuk orang ketiga, bukan untuk orang kedua. Bagi ath-Thantawy, Sibawaih seharusnya menggunakan bentuk حَرَّتـَيْهِـمْ يَعْـمُرُوْ نَهُـمَا 
Dalam menyusun kitabnya, Sibawaih telah menyusun materi-materi tatabahasa Arab dengan sistematis. Dari satu bagian ke bagian lain terdapat jalinan yang padu sehingga memudahkan para pembaca. Dalam akhir bagian selalu ada epilog yang menyambungkan dengan bagian sesudahnya. Tidak ada pemisahan pembahasan dalam setiap bagian. Pembahasan dalam kitab Sibawaih berdasar pada contoh-contoh asli bahasa Arab agar dapat langsung menentukan antara bentuk kalimat yang benar dan yang salah. Kitab itu sendiri terdiri atas 820 bab. Penyusunan bab-bab itu berbeda dengan umumnya penulis dalam beberapa hal, yaitu:
1. Urutan yang dipakai bukan pembahasan mengenai marfu‘at, kemudian manshubat, dan seterusnya, tetapi pembahasan dimulai dengan pembahasan fa‘il yang bersambung dengan pembahasan maf ‘ul, atau pembahasan mubtada’ yang disambung dengan pembahasan mengenai khabar.
2. Mendahulukan pembahasan yang seharusnya di akhir dan mengakhirkan pembahasan yang seharusnya di awal, misalnya mendahulukan pembahasan musnad ilaih dan baru disambung dengan pembahasan musnad. 
3. Membahas dari masalah yang umum ke yang khusus, misalnya membahas tasghir secara umum, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai berbagai macam bentuk tasghir. 
4. Beberapa pembahasan dilakukan sampai selesai, misalnya pembahasan mengenai fa‘il dimulai dengan fa’il tanpa maf‘ul, fa‘il dengan satu maf‘ul, dan diakhiri fa‘il dengan dua maf’ul. Pada masa sekarang, pembahasan ini biasanya diletakkan pada pembahasan mengenai fi‘l muta‘adi dan lazim. 
5. Kadang-kadang suatu pembahasan berada dalam satu bab, sedangkan pembahasan yang lain berada pada bab yang lain agar mendapatkan kecocokan.
6. Karena belum ada istilah-istilah baku untuk tatabahasa Arab, Sibawaih masih menggunakan kata-kata yang panjang untuk membuat judul suatu bab, misalnya untuk inna wa akhwatuha dia menggunakan kata-kata ‘bab mengenai lima partikel yang berfungsi seperti fi‘l terkait dengan kata-kata sesudahnya’.
Kitab Sibawaih banyak mendapat pujian karena kelengkapannya. Di Basrah, kitab ini adalah kitab pokok ilmu tatabahasa Arab. Akan tetapi, banyak juga orang yang tidak percaya bahwa kitab ini adalah karya Sibawaih sendiri. Mereka mengira Sibawaih mengerjakan kitab ini bersama-sama orang lain. Kitab Sibawaih telah mengalami enam kali cetak. Cetakan pertama di Paris pada tahun 1881, disambung dengan cetakan kedua di Calcutta tahun 1887, cetakan ketiga di Jerman tahun 1895, cetakan keempat di Kairo tahun 1898, cetakan kelima di Baghdad, dan cetakan keenam di Kairo tahun 1966. 

2. Al-Yazidy
Nama lengkapnya adalah Yahya bin al-Mubarak bin al-Mughirah al-‘Adwy. Nama al-‘Adwy disambungkan kepada ‘Ady bin ‘Abd Manah bin Add bin Thabikhah bin Ilyas bin Mudhar bin Nazar bin Ma‘d bin Adnan. Kabilah ini kabilah yang besar dan terkenal. Kakeknya, al-Mughirah, adalah tuan seorang perempuan dari Bani ‘Ady. Nama al-Yazidy didapatkannya karena dia pertama kali mengajar anak-anak Yazid bin Manshur bin ‘Abdullah bin Yazid al-Hamiry yang juga paman al-Mahdy. Nama al-Yazidy ini kemudian diberikan kepada keturunannya. Al-Yazidy tinggal di Basrah. Dia belajar ilmu qira’ah kepada ‘Amr bin al-‘Ala dan nachw serta ‘arudh kepada Khalil bin Ahmad. Kemudian dia menggantikan ‘Amr mengajar sambil berguru kepada ‘Abdullah bin Ishaq dan Yunus bin Habib. Setelah itu, al-Yazidy mengajar anak-anak Yazid bin Manshur. Yazid kemudian menghubungkan al-Yazidy dengan khalifah Harun ar-Rasyid dan khalifah memerintahkan al-Yazidy untuk mengajar al-Ma’mun, sedangkan al-Kisa’iy mengajar al-Amin. Al-Yazidy dan al-Kisa’iy sering terlibat dalam perdebatan, tetapi al-Yazidy lebih sering menang. Beberapa kitab yang disusun oleh al-Yazidy di antaranya adalah: an-Nawadir fil-Lughah, al-Maqshur wal-Mamdud, Mukhtashar fin-Nachw, an-Naqth wat-Tasykil. Dia meninggal pada tahun 202 H di Khurasan. 
Sibawaih dan al-Yazidy adalah dua ulama yang berperan pada periode kelima. Pada masa ini, ilmu tatabahasa Arab memiliki beberapa kelebihan dibandingkan periode-periode sebelumnya, yaitu:
1. Penyempurnaan konsep ilmu tatabahasa Arab
2. Kitab-kitab yang disusun
3. Adanya diskusi-diskusi.

GENERASI KEENAM
1. Al-Akhfasy al-Awsath
Nama lengkapnya adalah Abu al-Hasan Sa‘id bin Mas‘adah, hamba Bani Mujasyi‘ bin Darim bin Malik bin Hanzhalah bin Zaid Manah bin Tamim. Al-Akhfasy adalah sebutan karena matanya kecil dan penglihatannya lemah. Abu al-Hasan Sa‘id bin Mas‘adah dikenal sebagai “al-Akhfasy al-Shaghir” sedangkan ‘Abdul Hamid bin ‘Abdurrahman dikenal sebagai “al-Akhfasy al-Kabir”. Al-Akhfasy dilahirkan di Balkh, sedangkan riwayat yang lain mengatakan di Khawarizm. Dia datang ke Basrah untuk menuntut ilmu kepada Sibawaih. Al-Akhfasy dikenal sebagai pengikut Mu‘tazilah, walaupun ada yang mengatakan bahwa dia pengikut Qadariyyah-Murji’ah aliran Abu Syimr. Al-Akhfasy adalah teman dekat Sibawaih ketika dia terusir dari Baghdad karena kalah berdebat dengan al-Kisa’iy. Al-Akhfasy adalah sumber utama konsep tatabahasa Arab yang disusun Sibawaih karena tidak ada satu konsep pun dari tatabahasa Sibawaih yang tidak dibaca al-Akhfasy. Al-Kisa’iy sendiri secara rahasia meminta al-Akhfasy untuk membacakan kitab Sibawaih dan memberikan hadiah lima puluh dinar. 
Sebenarnya, al-Akhfasy adalah penggagas utama mazhab Kufah. Al-Kisa’iy secara khusus menempatkan al-Akhfasy di sampingnya dengan segala kemuliaan. Al-Akhfasy sendiri adalah guru putra-putra al-Kisa’iy. Banyaknya kemuliaan yang diterima al-Akhfasy di Baghdad mengakibatkan lunturnya semangat Basrah dan mendekatkan dia ke mazhab Kufah. Al-Akhfasy mulai membantah pendapat gurunya, Sibawaih serta al-Khalil, dan membantu para ulama aliran Kufah dalam menyusun mazhab mereka. Al-Akhfasy menunjukkan kepada para ulama Kufah beberapa pendapat berbeda mengenai tatabahasa yang kemudian mereka ikuti. Beberapa pendapat yang diikuti di antaranya:
1. Min jarr za’idah dalam kalimat aktif, misalnya
لَـقَدْ جَاءَكَ مِنْ نَبَـأِ الْمُرْسَلِيْـنَ (الأنعام :).
2. Pemberlakuan ketentuan inna ketika ditambah ma, misalnya إِنَّمَـا زَيْـدًا قَائِمٌ .
3. Penggunaan tanwin pada kata
ثَالِثٌ dan nashb pada kata ثَلاَثَةً dalam frase ثَالِثُ ثَلاَثَةٍ 
4. Penggunaan lam al-ibtida’iyyah pada ni‘ma dan bi’sa, misalnya
إِنَّ مُحَمَدًا لَنِعْمَ الرَّجُلِ 
5. Marfu‘ pada zharf yang muqaddam, misalnya
أَمَامُـكَ زَيْـدٌ .
Al-Akhfasy dikenal sangat cerdas. Para ulama mengakuinya karena banyak sekali kitab yang dia susun, yaitu al-Awsath, al-Maqayis, al-Isytiqaq, al-Masa’il, Waqf at-Tamam, al-Ashwat, Tafsir Ma‘ani al-Qur’anil-Karim, al-Arba‘ah, al-‘Arudh, al-Qawafi, Ma‘anisy-Syi‘r, al-Muluk, dan al-Ghanam: Alwanuha wa ‘Ilajuha. Ada beberapa pendapat mengenai tahun wafatnya al-Akhfasy, yaitu tahun 211 H, 215 H, 221 H, dan 225 H.

2. Qathrab
Dia bernama Abu ‘Ali Muhammad bin al-Mustanir, hamba Salm bin Ziyad. Dia lahir dan besar di Basrah, kemudian belajar tatabahasa kepada ‘Isa bin ‘Umar, Yunus bin Habib, dan Sibawaih. Nama “Qathrab” diberikan oleh Sibawaih karena dia sering menunggui Sibawaih di depan pintu rumahnya pada malam hari (
قطرب ليل ), sehingga ketika Sibawaih bangun pagi, Qathrab sudah berada di depan rumah. Qathrab sendiri beraliran Mu‘atzilah-Nizhamiyyah. Salah seorang panglima perang khalifah Harun ar-Rasyid, yaitu Abu Dalf al-‘Ajliy memperkenalkannya kepada khalifah sehingga dia diminta mengajar al-Amin, al-Ma’mun, dan putra-putra Abu Dalf. Setelah dia meninggal, pengajaran dilanjutkan oleh putranya, al-Husain. 
Qathrab memiliki beberapa pendapat yang berbeda dengan ulama-ulama sebelumnya, baik itu al-Khalil, Sibawaih, maupun al-Akhfasy. Beberapa pendapat Qathrab itu misalnya:
1. Tanda baca pada i‘rab berupa raf‘, nashb, jarr, dan jazm, pada hakekatnya adalah tanda baca berupa dhammah, fathah, kashrah, dan sukun. 
2. Al-Khalil dan Sibawaih menyatakan bahwa i‘rab untuk mutsanna dan jam‘ mudzakkar salim itu muqaddarah pada alif, waw, dan ya’, sedangkan Qathrab berpendapat bahwa i‘rab-nya muqaddarah pada huruf sebelum alif, waw, dan ya’.
3. Sibawaih berpendapat bahwa i‘rab untuk al-asma’ al-khamsah itu muqaddarah pada waw, alif dan ya’, sedangkan Qathrab berpendapat bahwa i‘rab-nya itu muqaddarah pada huruf sebelum waw, alif dan ya’. 
Di samping perbedaan di atas, Qathrab juga menyusun banyak kitab dalam berbgai bidang ilmu, seperti al-Qur’an, al-Hadits, dan bahasa. Di antara kitab-kitab itu adalah: Ma‘ani al-Qur’an, I‘rab al-Qur’an, ar-Radd ‘ala al-Mulchidin fi Mutasyabih al-Qur’an, Gharibil-Atsar, al-‘Ilal fin-Nachw, al-Mutsallats fin-Nachw, al-Adhdad, al-Hamz, Fi‘l wa Af‘al, al-Qawafi, ash-Shifat, al-Ashwat, an-Nawadir, al-Azminah, al-Farq, Chalaqul-Insan, dan Khuluqul-Furs. Banyaknya kitab ini membuktikan kecerdasan Qathrab sebagaimana diakui oleh para ulama. Qathrab meninggal pada tahun 206 H. 
Al-Akhfasy dan Qathrab adalah dua ulama dari masa periode keenam. Pada periode ini, ada beberapa kemajuan dan dicapai, di antaranya:
1. Pemikiran yang tajam, jelas, dan luas.
2. Akomodatif terhadap budaya secara umum.
3. Banyaknya karangan.
4. Kepercayaan diri untuk menyusun pendapat sendiri.
5. Dekat dengan pemerintah dan kalangan elit politik.
6. Pengembangan keilmuwan.

GENERASI KETUJUH
1. Al-Jurmy
Dia bernama Abu ‘Umar Shalih bin Ishaq al-Bajly, hamba Bajilah bin Anmar bin Irasy bin al-Ghauts. Nama al-Jurmy dihubungkan dengan Jarm bin Rabban bin ‘Imran bin Ilhaf bin Qadha‘ah karena dia dihadiahkan kepada Jarm. Jarm adalah salah satu kabilah Yaman yang terkenal. Al-Jurmy lahir dan besar di Basrah kemudian belajar tatabahasa kepada al-Akhfasy al-Awsath dan Yunus bin Habib. Dia juga belajar ilmu bahasa dari Abu ‘Ubaidah, Abu Zaid al-Anshary, Ushmu‘i, dan ulama-ulama lain yang semasa. Kemudian al-Jurmy pergi ke Baghdad dan mengalahkan al-Farra’ dalam sebuah debat. Dia terkenal suka berbicara keras dalam setiap perdebatan sehingga mendapat gelar “al-Kalb (anjing)”. Al-Jurmy juga terkenal cerdas dan ahli di bidang hadits. Beberapa kitab yang telah disusun di antaranya: al-Farh, at-Tatsniyah wal-Jam‘, Tafsir Gharib Sibawaih, Mukhtashar Nahwil-Muta‘allimin, al-Abniyah, at-Tashrif, al-Arudh, al-Qawafi, dan as-Siyar. Al-Jurmy wafat pada tahun 225 H. 

2. At-Tauzy
Dia bernama Muhammad ‘Abdullah bin Muhammad bin Harun. Nama at-Tauzy dihubungkan dengan negeri Tauz di Persia. Dia berguru kepada al-Usmu‘i, Abu ‘Ubaidah, Abu ‘Umar al-Jurmy, Abu Zaid al-Anshary, dan al-Akhfasy. At-Tauzy adalah salah seorang pegawai khalifah al-Watsiq dan dia menikah dengan ibu seorang ahli tatabahasa bernama Abu Dzakwan al-Qasim bin Isma‘il. At-Tauzy menyusun beberapa kitab, di antaranya: al-Amtsal, al-Adhdad, an-Nawadir, Fa‘altu wa Af‘altu, dan al-Khail. Banyak perbedaan pendapat mengenai tahun waftnya at-Tauzy, yaitu tahun 230 H, 233 H, dan 238 H. 

3. Al-Maziny.
Dia bernama Abu ‘Utsman Bakr bin Muhammad bin ‘Utsman. Nama al-Maziny dihubungkan dengan Bani Mazin bin Syaiban bin Dzahl bin Tsa‘labah bin ‘Ukabah bin Sha‘b bin ‘Ali bin Bakr bin Wail. Dia adalah hamba Bani Sadus yang dihadiahkan kepada Bani Mazin. Al-Maziny adalah ahli tatabahasa dan qira’ah. Pada masa al-Watsiq di Samarra’, al-Maziny berada di sampingnya untuk membacakan kitab Sibawaih atas permintaan al-Mubarrad. Al-Maziny mendapatkan belanja sebanyak seratus dinar setiap bulan dari al-Watsiq. Al-Maziny wafat di Basrah pada tahun 249 H.
Dari segi ideologi, al-Maziny adalah pengikut aliran Murji’ah. Al-Maziny dikenal sebagai ulama yang sangat anti terhadap analogi (qiyas) dalam merumuskan kaidah-kaidah tatabahasa dan qira’ah. Banyak kitab yang telah disusun oleh al-Maziny, di antaranya: ‘Ulumul-Qur’an, ‘Ilalin-Nachw, Tafasir Kitab Sibawaih, Lachnul-‘Ammah, al-‘Alif wal-Lam, al-‘Arudh, al-Qawafy, dan ad-Dibaj. Dia tidak mau menyusun sebuah kitab tatabahasa dengan menyatakan bahwa siapa saja yang menyusun kitab tatabahasa setelah Sibawaih, maka dia akan merasa malu. Akan tetapi, al-Maziny memiliki pendapat sendiri, di antaranya:
1. Alif mutsanna, waw jam‘, dan ya’ al-mukhathabah pada fi‘l, misalnya
يَـقُوْمَـانِ , يَـقُوْ مُوْنَ , dan تَـقُوْمِيْـنَ , bukanlah fa‘il, tetapi tanda tatsniyah, jam‘, dan ta’nits. Adapun fa‘il adalah damir mustathir. 
2. Alif, waw, dan ya’ pada mutsanna’ dan jam‘ mudzakkar salim, misalnya
مُسْلِمَانِ , مُسْلِمَيْنِ , مُسْلِمُوْنَ , dan مُسْلِمِيْنَ , bukanlah tanda i‘rab, tetapi tanda mutsanna’ dan jam‘ mudzakkar salim.
3. Jam‘ mu’annats salim wajib mabni fathah jika didahului la nafiyah lil-jins, misalnya
لاَ مُطِيْعَاتَ لَكَ . 
4. Al-Khalil menyatakan bahwa ‘ain fi‘l dalam kata seperti
اِسْتَـحْيَى itu dibuang karena ada pertemuan dua sukun, sedangkan al-Maziny menyatakan bahwa ‘ain fi‘l itu dibuang karena sebagai takhfif karena banyak digunakan. 
5. Sibawaih menyatakan bolehnya qiyas pada ism tafdhil dari fi‘l mudhari‘ dengan wazan
أَفْعَـلَ , tetapi al-Maziny menyatakan tidak boleh sehingga tidak ambigu antara fi‘l madhi dan ism tafdhil. 

4. Abu Chatim as-Sijistany
Dia bernama Sahl bin Muhammad bin ‘Utsman bin al-Qasim bin Yazid al-Juzmy as-Sijistany. As-Sijistany adalah nama musim yang terkenal di Basrah. As-Sijistany tinggal di Basrah dan menjadi mahaguru di bidang al-Qur’an, bahasa, dan sastra. Dia berguru kepada al-Akhfasy di samping banyak menyampaikan pendapat dari Abu Zaid al-Anshary, Abu ‘Ubaidah, al-Ushmu‘i, ‘Umar bin Karkarah, dan Ruh bin ‘Ubadah. Ulama semasanya juga banyak mengambil pendapat dari dia, seperti Abu Bakr Muhammad bin Duraid dan al-Mubarrad. As-Sijistany terkenal karena rutin berderma sebanyak satu dinar setiap hari dan meng-khatam-kan al-Qur’an setiap minggu. Dalam bidang fiqh, as-Sijistany sangat fanatik terhadap ahlul-hadits. Dia tidak pernah tinggal di Baghdad. As-Sijistany banyak meninggalkan kitab yang berharga, baik di bidang ilmu al-Qur’an, tatabahasa, dan lain-lain, seperti: I‘rabul-Qur’an, al-Qira’at, al-Maqathi‘ wal-Mabadi’, Ikhtilaful-Mashahif, al-Mukhtashar fin-Nachw, Lachnul-‘Ammah, al-Maqshur wal-Mamdud, al-Mudzakkar wal-Mu’annats, al-Isyba‘, al-Adhdad, al-Haja’, al-Fashahah, asy-Syajaru wan-Nabat, an-Nakhlah, al-Karam, al-‘Usybu wal-Baql, al-Wuchusy, al-Chasyarat, az-Zar‘, al-Jarad, Chuluqul-Insan, al-Qasy was-Siham wan-Nibal, as-Suyuf war-Rimach, al-Laba’ wal-Laban wal-Chalib, al-Khashb wal-Qachth, an-Nachl wal-‘Asal, asy-Syita’ wash-Shaif, al-Ibil, al-Charr wal-Bard wasy-Syams wal-Qamar wal-Lail wan-Nahar, al-Farq bainal-Adamiyyin wa baina kulli dzi Ruch, dan Asyuq ilal-Wathan. Abu Chatim as-Sijistany wafat pada bulan Rajab tahun 255 H. 

5. Ar-Riyasyy
Dia bernama Abu al-Fadhl ‘Abbas bin al-Farj, hamba dari Muhammad bin Sulaiman bin ‘Ali al-Hasyimy. Ar-Riyasyy dihubungkan dengan seseorang dari Jadzam yang bernama Riyasy yang menjadi tuan al-Farj, ayah ‘Abbas, kemudian dia menjual al-Farj kepada al-Hasyimy. Akan tetapi, nama ‘Abbas tetap dihubungkan dengan tuan sebelumnya, yaitu Riyasy. Ar-Riyasyy adalah ahli di bidang bahasa dan puisi. Dia banyak meriwayatkan dari Ushmu‘i, Abu ‘Ubadah dan lain-lain. Ulama-ulama yang lain, seperti al-Mubarrad, Ibnu Duraid, Ibrahim al-Charby, dan Ibnu Abid-Dunya, juga mengambil pendapatnya. Ar-Riyasyy juga dikenal sebagai orang yang zuhud, banyak mempergunakan waktunya untuk ilmu, dan seorang penopang mazhab Basrah. Ar-Riyasyy tewas terbunuh di daerah Zanj di Basrah pada tahun 257 H pada masa pemerintahan khalifah al-Mutawakkil. Khalifah menyerbu Zanj karena menjadi markas perlawanan kaum Alawiyyin yang dipimpin oleh ‘Ali bin Muhammad bin ‘Isa. 
Ar-Riyasyy adalah ulama terakhir periode ketujuh. Periode ini memiliki beberapa kelebihan, di antaranya:
1. Ada pemisahan antara nachw dan tashrif. 
2. Mengarah pada kemudahan dalam merumuskan kaidah tatabahasa.
3. Banyak ulama yang menggunakan teknik taqdir (perkiraan).
4. Pemendekan pada teknik simak dan qiyas (analogi).
5. Tidak menggunakan contoh-contoh di luar bahasa Arab.
6. Banyak perdebatan antar para ulama.
7. Banyak teknik yang tidak fungsional dalam sharf. 
8. Bersandar pada pendapat sendiri tanpa mengikuti pendapat ulama sebelumnya.
9. Banyak karangan dalam berbagai bidang ilmu.
10. Banyak perumusan menggunakan informasi dari orang Arab.

GENERASI KEDELAPAN 
1. Al-Mubarrad
Dia bernama Abu al-‘Abbas Muhammad bin Yazid bin ‘Abdul-Akbar bin ‘Umair bin Hasan bin Salim bin Sa‘d bin ‘Abdullah bin Yazid bin Malik bin al-Charits bin ‘Amir bin ‘Abdullah bin Bilal bin ‘Auf bin Aslam bin Achjan bin Ka‘b bin al-Charits bin Ka‘b bin ‘Abdullah bin Malik bin Nashr bin al-Azd bin al-Ghauts. Nama al-Mubarrad diberikan oleh al-Maziny kepada Muhammad bin Mazid dia menyusun kitab “al-Alif wal-Lam”. Dia berguru pada al-Jurmy, al-Maziny, dan as-Sijistany. Al-Mubarrad terkenal kikir karena menganggap bahwa kaya itu disebabkan oleh banyak menyimpan sedangkan miskin itu oleh banyak memberi. 
Sebagaimana al-Maziny, al-Mubarrad memprioritaskan perumusan kaidah dengan teknik mendengar langsung (sima‘). Hal ini berbeda dengan Sibawaih. Misalnya dalam hal taskin pada fi‘l mudhari‘ pada puisi:
فَالْيَـوْمَ أَشْرَبْ غَيْـرَ مُسْتَـحْقِب إِثْـمًا مِـنَ اللهِ وِلاَ وَاغِـلِ
Sibawaih memperbolehkan taskin pada kata أَشْرَبْ, sedangkan menurut al-Mubarrad, bacaan yang benar adalah فَالْيَـوْمَ اشْرَبْ. Demikian juga dengan dhamir jarr sebagai ganti dari dhamir raf‘ dalam kata لَـوْلاَكَ seperti dalam puisi:
أَوْمَـتْ بِكَـفَّيْـهَا مِنَ الْهَـوْدَجِ لَـوْلاَكَ هَـذا الْعَـامُ لَمْ أَحْجُـجْ
Menurut al-Mubarrad, bacaan seperti ini salah karena dhamir raf‘ di atas tidak bisa diganti, misalnya dalam ayat: لَوْلاَ أَنْـتُمْ لَكُنَّـا مُـؤْمِنِـيْنَ (سبأ : 31) . Kata di atas seharusnya dibaca لَـوْلاَ أنْتَ bukannya لَـوْلاَكَ . Pendapat yang lain adalah tasghir dari kata إِبْرَاهِيْـم dan إِسْمَاعِيْـل . Menurut Sibawaih, kedua kata di atas menjadi بُرَيْـهِيْـم dan سُمَيْعِيْـل . Adapun menurut al-Mubarrad, kedua kata itu menjadi أُبَيْـرِيْـه dan أُسَيْـمِيْـع karena alif pada kedua kata di atas adalah asli. 
Pada masa khalifah al-Mutawakkil, al-Mubarrad pernah dimintai fatwa terkait dengan kata
انـها pada ayat
وَمَـا يُشْعِرُكًمْ اَنَّـهَا إِذَا جِـا ءَتْ (الأنعام : 109) , 
apakah dibaca اَنَّـهَا atau إِنَّـهَا . Permintaan ini terkait dengan perbedaan pendapat antara khalifah dengan al-Fath bin Khaqan. Khalifah dan umumnya ulama membaca dengan اَنَّـهَا. Al-Mubarrad menganggap bacaan itu salah dan menyatakan yang benar adalah إِنَّـهَا. Akan tetapi, al-Mubarrad tidak berani menyatakan hal ini di depan khalifah dan hanya menyembunyikan pendapatnya. 
Al-Mubarrad banyak menyusun kitab yang penting, di antaranya: Nasab ‘Adnan wa Qachthan, I‘rabul-Qur‘an, al-Ittifaq wal-Ikhtilaf minal-Qur‘anil-Majid, al-Fadhil, al-Kamil, al-Muqtadhab, al-Isytiqaq, at-Tashrif, al-Madkhal li-Sibawaih, Syarch Syawahidul-Kitab, Ma‘na Kitab lil-Akhfasy, ar-Radd ‘ala Sibawaih, Dharuratusy-Syi‘r, Generasi Nuchatil-Bashriyyin, al-Maqshur wal-Mamdud, dan al-Qawafy. Dia meninggal pada hari Senin tanggal 28 Dzulhijjah 286 H dan dimakamkan di sebuah rumah depan pintu masuk kota yang dibelinya. Al-Mubarrad adalah satu-satunya ulama peride kedelapan dan periode ini memiki kelebihan dibandingkan periode sebelumnya, di antaranya:
a. Menyusun sebuah kitab berdasarkan pendapat sendiri.
b. Menggunakan pendapat ulama terdahulu dalam beberapa pembahasan.
c. Pembahasan dalam bermacam-macam bidang ilmu.
d. Penggunaan metode-metode baru dalam tatabahasa, seperti qiyas, sima‘, ta‘lil, ‘awamil, dan ma‘lumat. 
e. Banyaknya diskusi. 

STUDI NAHWU MAZHAB KUFAH
Sekilas Tentang Kufah
Setelah panglima perang kaum Muslimin (Abu ‘Abid ats-Tsaqafi) terbunuh di tangan Persia, maka khalifah Umar Ibn Khatab menugaskan Sa’d Ibn Abi Waqash yang bekerja di Hawazan sebagai gantinya. Maka ia pun segera memimpin 19.000 pasukan untuk bertempur hingga mereka berhasil menaklukkan Persia. Untuk menentukan tempat tinggal bagi mereka, Sa’d memilih sebuah tempat di tepian sungai Efrat yang terkenal sangat subur tanahnya, sebuah tempat yang hujan banyak turun dan mengguyur dengan sangat deras, memiliki banyak sumber mata air yang memancar dari sungai seperti suburnya rerumputan yang tumbuh di sana, juga tempat pohon korma tumbuh berjajar di sepanjang tepian sungai Efrat. Mayoritas penduduk Kufah adalah para mantan tentara dari Bani Abas. Kufah didirikan oleh Sa’d ibn Abi Waqash pada tahun 16-17 H, atau antara 2-3 tahun setelah berdirinya kota Bashrah.

Letak Geografis Kufah
Kufah terletak di tepian lembah sungai Efrat yang terkenal dengan kesuburan tanahnya. Di sebelah Timur berbatasan langsung dengan sungai Efrat, di sebelah Selatan berbatasan dengan Najf, dan di sebelah Barat dan Utaranya berbatasan langsung dengan padang pasir yang sangat luas dan membentang hingga ke kota Syam. Melihat kesuburan tanah di kota Kufah dan terbentangnya rerumputan, bunga-bungaan, dan sungai-sungai, penduduknya pun beramai-ramai mendirikan tempat tinggal yang nyaman untuk membangkitkan kejernihan jiwa dan kepekaan rasa dan imajinasi. Kesuburan ini tidak hanya di Kufah saja, tetapi juga meliputi kota-kota di sekitarnya, seperti Hairah, Najf, Khirnik, Sadir, Ghariyan, dan lain-lain. 

Penamaan Kota Kufah
Dalam kamus al-Muhith disebutkan bahwa Kufah pada mulanya adalah tanah yang berwarna kemerahan dengan bentuk yang membulat, atau disebut juga sebagai setiap tanah yang dilingkupi oleh kesuburan. Versi lain tentang penamaan Kufah ini menyebutkan bahwa orang-orang Arab yang datang dari Najf di sebelah Utara Kufah telah menemukan tanah yang subur ini dan mereka lalu menamainya dengan nama Kufah. Kamudian Sa’d Ibn Abi Waqash menyebut nama ini ketika mengirim surat kepada Umar Ibn Khatab. Yaqut al-Hamawi menyebut Kufah karena letak geografisnya, dan karena setiap tanah atau lahan yang dilingkupi oleh kesuburan adalah Kufah. Versi yang paling mendekati kebenaran yaitu saat usai penaklukan atas negeri ini, kaum Muslimin yang sedang mencari tempat untuk berlindung tertimpa penyakit cacar, kemudian mereka berbondong-bondong mencari tempat yang subur. Saat menemukan tempat ini, Sa’ad pun berkata kepada mereka: “Takuufuu...!, atau berkumpullah..berkumpullah...!

Pembentukan Kota Kufah
Penduduk Kufah yang sebagian besar berasal dari bangsa Arab di sebelah Selatan Jazirah Arab terdiri dari 20.000 orang. 12.000 di antaranya dari Yaman, dan 8.000 sisanya berasal dari Madlariy. Penduduk Arab yang pada mulanya menjadi penduduk Kufah adalah para pejuang penakluk negeri ini setelah mereka menaklukkan Persia. Sejak saat itu, Kufah menjadi kota tempat berkumpulnya para pemimpin kabilah, para panglima perang, dan kota para pejuang. Ketika kemudian orang-orang dari segala penjuru telah berkumpul di sana, Kufah menjadi kota dengan berbagai unsur baik Arab maupun non Arab, dan menjadi kiblat yang paling dianut oleh dunia Arab pada umumnya. Menjelang abad ke-4 H, penduduk Kufah berprofesi sebagai pedagang, petani, berindustri, dan banyak di antara mereka yang menjadi ahli-ahli bahasa (linguis). 
Unsur budaya asing terkuat di Kufah adalah budaya Persi. Persi merupakan kelompok penduduk terbesar yang tinggal di Kufah sejak didirikannya negeri ini. Mereka bertani, mengolah lahan pertanian, dan 4.000 orang di antaranya menjadi tentara dan pejuang. Sebanyak 20.000 orang dari Persi ini berbondong-bondong masuk Islam di bawah pimpinan al-Mukhtar Ibn Abi ‘Abid. Unsur terkuat ke dua adalah unsur Siryani. Mereka adalah kaum Muslimin yang berasal dari Yua’abah, Nasathirah, Najf, dan Hairah. Banyak juga diantara mereka yang masuk Islam. Unsur pembentuk ke tiga adalah unsur Nabthi. Mereka tinggal di kawasan yang terbentang dari Kufah hingga ke Bathaih di sebelah Selatan Irak. Banyak di antara mereka yang menganut agama Islam. Kemudian unsur Najran yang terdiri atas penduduk Yahudi dan Nasrani yang datang dari Yaman.

Kufah Sebagai Kubah Bagi Islam
Sebagai negeri Islam, sejarah Kufah dimulai dari peristiwa perang Badar saat Umar Ibn Khatab beserta 70 orang sahabat dan 300 orang lainnya bermalam di Kufah. Mereka menunjuk Amar Ibn Yasir sebagai amir dan Abdullah Ibn Mas’ud sebagai muazin dan menteri urusan keagamaan. DR. Mahdi al-Makhzumi dan Abu Abas berkata bahwa Kufah adalah cikal-bakal negeri sastra, dan wajah dari negeri Irak, puncak impian dan harapan, tempat bermukimnya para sahabat yang terpilih dan tempat orang-orang mulia. Sebagai kota perjuangan, Kufah menjadi pusat kepemimpinan umum bagi para pejuang Muslim di Irak. Sebagai penghadir khilafah Islamiyah pada masa kepemimpinan Ali R.A., Kufah merupakan kota yang beriman, markas besar Islam, perisai dan kekuasaan Tuhan yang dianugerahkan atas kehendak-Nya. Saai itu, Kufah menjadi inspirasi bagi para pejuang, pemuka agama, dan para pemerhati umat.
Mengenai sisa-sisa fanatisme terhadap Arab, hal ini terlihat dari banyaknya para pejuang yang datang dari Arab dan berperadaban ala Badui. Mereka hidup melajang, membangga-banggakan silsilah dan nasabnya, dan enggan berbaur dengan unsur-unsur lainnya. Maka dari itu,agar terjadi tenggang rasa, maka dihapuslah ungkapan yang mengatakan bahwa “tidak ada suatu hukum pun yang paling benar kecuali hukum Arab.

Kufah dan Studi Nahwu
Studi Nahwu di Kufah ini dimulai dari semakin ramainya dunia perniagaan yang dan saling bertemunya kebudayaan yang heterogen di dalamnya. Sebagai penghormatan terhadap hijrahnya para ahli bahasa dan para penyair ke negeri ini, tepatnya sejak khalifah Umar Ibn Khatab memerintah Amar Ibn Yasir sebagai pemimpin Kufah dengan Abdulah Ibn Mas’ud sebagai menterinya. Studi Nahwu dimulai dengan pembacaan ayat-ayat Qur’an, hadist Nabi, Usul-Fiqh, dan pasal-pasal dalam hukum negara. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan terhadap riwayat-riwayat puisi dan studi sastra untuk memposisikan adat-istiadat kuno yang mereka bangga-banggaakan seperti al-Mufakhirah, al-Munafarah, al-Isyadah, dan sebagainya. Studi ini dipelopori oleh Ali Hamzah as-Sa’i dan kemudian diteruskan oleh muridnya, Yahya Ibn Ziyad al-Fara’i.

Nahwu Mazhab Bashrah Sebagai Titik Tolak Bagi Nahwu Mazhab Kufah
Mayoritas pada ahli bahasa dan ahli Nahwu dari Kufah menstudi Nahwu mereka dengan mazhab Bashrah. Sebagai contoh, nama-nama seperti Abu Ja’far ar-Ru’asi mengikuti mazhab Abu Amru Ibn al-Ala’i dan Isa Ibn Umar dalam bermazhab Bashrah, dan Khalah Mu’adz Ibn Muslim al-Harraa’i juga memanfaatkan mazhab keduanya dalam mempelajari Nahwu dan Shorf. Al-Kisa’i menganut mazhab Isa Ibn Umar, Khalil Ibn Ahmad, Yunus Ibn Habib, juga mengadopsi pemikiran-pemikiran Sibawaih. 

Studi Nahwu Mazhab Kufah
Studi Nahwu di Kufah ini menggunakan titik-tolak pemikiran Sibawaih sebagai pemimpin dan senior bagi studi Nahwu mazhab Bashrah, yang kemudian jejaknya diikuti oleh muridnya, Sa’id Ibn Mas’adah. Sibawaih menjadikan al-Kisa’i sebagi guru bagi anak-anaknya. Dengan kematangan cara berpikirannya, ia mulai cenderung menciptakan studi Nahwu dengan mazhab Kufah, memberikan wahana yang sebesar-besarnya bagi berbagai perbedaan pendapat yang ada. Ia juga sering bertukar-pikiran dengan gurunya (Sibawaih) yang sangat ia kagumi. Tidak jarang al-Kisa’i juga tidak sepakat dengan Sibawaih dalam banyak hal. Namun, hal ini tidak menjadi masalah bagi para penstudi Nahwu dari Kufah yang bersepakat dengan al-Kisa’i dalam mendirikan mazhab atau madrasah Kufah ini. 
Adapun ide-ide dan pemikiran Nahwu Sibawaih yang sedikit banyak dianut oleh Al-Kisa’i yaitu:
1. Diperbolehkannya menta’kidkan kata yang sebenarnya berhubungan, tetapi kata tersebut terhapus dalam penggunaannya dan digantikan oleh waw athf sebagai gantinya. Contoh:
جاء الذى ضربت نفسه، أى: ضربته نفسه 
2. Tambahan huruf jar
منdalam perkataan/firman Allah SWT yang positif. Contoh: seperti firman Allah SWT:
و يغفر لكم من ذنو بكم، ولقد حاءك من نبإ المر سلين
3. Diperbolehkannya penggunaan kataإن setelah bertemu dengan kata ما. Contoh: إنما زيدا قائم 
4. Bahwa
لعل bermakna taqlil (minimal). Contoh: seperti firman Allah SWT فقولا له قولا لينا لعله يتذكر أو يخشى
5. Bahwa
لولا terkadang juga bermakna هلا. Contoh: seperti firman Allah SWT فلو لا كانت قرية آمنت فنفعها إيمانها

Hal ini juga diikuti oleh al-Fara’i dalam kumpulan karyanya, yaitu antara lain: 
1. Mengakhirkan Khabar apabila ia diawali dengan
إن. Contoh:
إن العلم نور قول المشهور
2. Diperbolehkannya menggunakan ل ibtida bagi kata-kata نِعْمَ dan بِـئْسَ . Contoh: إن محمدا لنعم الرجل
3. Digunakannya
إلا untuk sebagai pengganti و dalam perkataan maupun makna. Contoh: seperti firman Allah SWT:
لئلا يكون للناس عليكم حجة إلا الذين ظلموا منهم
4. Diperbolehkannya penggunaan “athf pada dua pernyataan yang berbeda di dalam ilmu nahwu. Contoh:
فى الدر زيد والحجرة عمرو؛ بعطف الحجرة على الدار، و عمرو على زيد dan lain-lain.

Contoh-contoh di atas adalah sebagian dari ide-ide dan pemikiran para ahli Nahwu mazhab Kufah yang diikuti oleh al-Akhfasy, selain al-Kisa’i dan al-Fara’i. Kemudian, Sibawaih pun mengumpulkan permaslahan-permasalahan yang ada di seputar pemikiran tentang Nahwu ini dengan kontribusi pemikiran dari al-Khalil dan menyusunnya menjadi sebuah buku yang dinamai dengan al-Masaail al-Kabiir. Orang-orang kemudian menjuluki Sibawaih ini sebagai pioneer pertama bagi Nahwu mazhab Kufah yang diadopsi dari Nahwu mazhab Bashrah.

GENERASI NAHWU MAZHAB KUFAH
Jelas bagi kita jika bahwasanya keterangan di awal telah menyebutkan bahwa berdirinya Nahwu mazhab Kufah adalah karena jasa Ali Ibn Hamzah al-Kasai beserta muridnya Yahya Ibn Ziyad al-Fara’i, dan bahwasanya promotor utama bagi pembentukan Nahwu mazhab Kufah ini adalah al-Akhfasy al-Ausath Said Ibn Mas’adah yang terinspirasi dari ide-ide dan pemikiran gurunya Sibawaih dan al-Khalil. 

GENERASI PERTAMA
1. Mu’adz al-Hara’i
Nama aslinya adalah Abu Muslim Mu’adz Ibn Muslim al-Harraa’i. Tinggal di Kufah dan mendalami Nahwu bersama anak dari saudaranya, yaitu ar-Ru’asi dan menyebarkan prinsip-prinsip Nahwu madzhab Bashrah. Di Kufah ini, ia bekerja sebagai pengajar nahwu bagi anak-anak Abd al-Malik Ibn Marwan. Ia sangat mahir dalam menguasai Nahwu dan Shorf. Menurut as-Suyuthi, orang pertama yang menyusun buku tentang tashrif adalah Mu’adz. Pendapat ini belum tentu benar karena pemikiran-pemikiran Muadz tidak begitu berpengaruh terhadap perkembangan tashrif bahasa Arab. Karya Mu’adz ini diadopsi dari kumpulan pengetahuan tentang nahwu dan sharf dari buku Masaa’il at-Tadriib. Sejak saat itu, tashrif mulai dikenal sebagai pengetahuan yang mandiri sejak abad ke-2 H ketika susunannya diperbaharui oleh Uthman Ibn Baqiyah al-Maziniy dalam kitab yaitu at-Tahsrif setelah sekian lama menjadi bagian dari studi Nahwu. Mu’adz wafat di Kufah pada tahun 187 H. 


2. Ar-Ru’asi:
Nama aslinya adalah Abu Ja’far Muhamad Ibn al-Hasan. Dijuluki ar-Ru’asi karena ia mempunyai kepala yang besar. Ia dibesarkan di Kufah, datang ke Bashrah dan belajar kepada Isa Ibn Umar, Abu Amr Ibn al-‘Ala’i, dan kembali ke Kufah untuk mempelajari Nahwu bersama pamannya, Mu’adz al-Hara’i, selain belajar dari al-Kisa’i dan al-Fara’i. Ar-Ru’asi mengarang kitab Nahwu al-Faishal, yaitu kitab yang pertama kali muncul dan membahas tentang studi Nahwu madzhab Kufah. Ibn Nadim dan Ibn Anbari juga menyebutkan bahwa ar-Ru’asi ini memiliki banyak karya dalam ilmu Nahwu, diantaranya yaitu: al-Faishal, at-Tashghir, Ma’ani al-Qur’an, al-Waqf wal-Ibtidaa’, dan sebagainya. Ar-Ru’asi wafat di Kufah pada masa pemerintahan Harun ar-Rasyid. 
Kedua pendahulu nahwu mazhab Bashrah ini telah memberikan dasar-dasar pijakan yang relatif sangat kuat dalam pembelajaran Nahwu meskipun kecenderungan ini bermula dari pembelajaran mereka terhadap Nahwu mazhab Bashrah.

GENERASI KEDUA
1. Al-Kisa’i
Nama lengkapnya Abu Hasan Ali ibn Hamzah, berkebangsaan Persia. Sedangkan “al-Kisa’i” merupakan julukan yang diberikan kepadanya. Sebagaimana diriwayatkan bahwa julukan tersebut diperoleh karena beliau menghadiri sebuah majlis Hamzah ibn Habib az-Ziyat dengan memakai baju (
كساء) hitam yang mahal. Ketika absent, sang guru pun menyakan ketidakhadirannya kepada hadirin : apa yang telah dilakukan oleh si pemakai baju bagus?. Sejak saat itu, beliau lebih dikenal dengan panggilan al-Kisa’i. Dia lahir di Kufah, pada tahun 119 H dan wafat pada 189 H dalam perjalanannya menuju Tus (sebuah wilayah di Persia). 
Al-Kisa’i giat mengikuti beragam majlis qira’ah dengan guru-guru yang beraneka pula. Salah satunya, pembacaan syair yang dipimpin oleh Khalil ibn Ahmad. Hingga akhirnya Al-Kisa’i paham bahwa syair-syair tersebut bersumber dari masyarakat Badui yang bermukim di Hijaz, Nejed dan Tihamah. Untuk memuaskan rasa keingintahuannya, beliau mendatangi masyarakat tersebut dengan menuliskan setiap apa yang didengarnya sehingga menghabiskan 15 botol tinta.

Peran al-Kisa’i dalam Mendirikan Madrasah Kufah
Keseriusannya dalam mempelajari nahwu dan kemudian menuliskannya. Ketika bermukim di Baghad, Al-Kisa’i konsen terhadap perkataan bangsa Arab kota yang bukan tidak mungkin mengandung kesalahan dalam pelafalan yang didengarnya. Al-Kisa’i tidak puas, dari sinilah berawal lahirnya dua madzhab; antara Kufah dan Bashrah, perdebatan antara Sibawaih dan Al-Kisa’i yang terkenal dengan a-Mas’alah az-Zanburiyah. Perdebatan ini dimenangkan oleh Al-Kisa’i dan moment ini menjadi tonggak stabilitas madzhab Kufah. Namun demikian, setelah kematian Sibawaih, Al-Kisa’i pun membaca “Kitab Sibawaih” (satu-satunya buku yang ditulis Sibahwaih), meskipun dengan cara sembunyi-sembunyi. 
Karakterisitik generasi kedua:
a. pembahasan yang mendalam 
b. menggunakan siasat untuk meraih pengetahuan; membaca “Kitab Sibawaih” secara sembunyi-sembunyi
c. berdiskusi dengan para tokoh aliran Basrah
d. penulisan dan pembukuan, seperti buku yang ditulisnya: Ma’anil Qur’an, Mukhtashirun fi an-Nahwi, al-Hudud an-Nahwiyah, dan lainnya.

GENERASI KETIGA
1. Al-Ahmar
Dengan nama lengkap Abu Hasan Ali Ibn Hasan, tetapi terkenal dengan nama al-Ahmar. Beliau merupakan salah seorang murid Al-Kisa’i. Wafat dalam pelaksanaan haji pada tahun 194 H. Disebutkan oleh Tsa’lab bahwa beliau hapal 40 ribu syahid (kutipan, contoh) tentang nahwu. Adapun karyanya: Maqayis at-Tashrif, Tafannun al-Balgha’i

2. Al-Fara’
Nama lengkapnya Abu Zakariya Yahya ibn Ziyad ibn Abdullah ibn Marwan ad-Dailumiy. Lahir di Kufah pada tahun 144 H, berkebangsaan Persia dan meninggal pada tahun 207 dalam perjalanannya menuju Mekkah. Menghabiskan hidupnya dengan mempelajari qira’ah, tafsir, syair dari Abu Bakar ibn ‘Ayyas dan Sufyan ibn ‘Iyyinah. Sedangkan guru bahasa dan nahwunya adalah Abi Ja’far ar-Ru’asiy dan al-Kisa’i Beliau juga seorang murid Al-Kisa’i yang banyak mendapat pengetahuan riwayat mengenai bangsa Arab dari Gurunya
Selanjutnya, beliau juga meneruskan studinya ke Bashrah setelah kematian Khalil ibn Ahmad, yang kemudian posisinya digantikan oleh Yunus ibn Habib. Hingga akhirnya, dia belajar kepada Yunus mengenai nahwu dan bahasa. Adapun karya-karyanya cukup banyak, yang di antaranya adalah: Lughatu al-Qur’an, an-Nawadir, al-Kitaab al-Kabiir fi an-Nahwi, dan lainnya.

3. Hisyam adh-Dharir
Nama lengkapnya Abu Abdullah Hisyam ibn Mu’awiyah ad-Dharir yang wafat pada tahun 209, sedangkan untuk tahun kelahirannya tidak disebutkan. Beliau juga merupakan salah seorang murid Al-Kisa’i, yang kemudian mengabdikan dirinya dengan menjadi tutorial bagi murid-muridnya. Dengan karya tiga buku yaitu: al-Hudud, al-Mukhtashir dan al-Qiyash.

4. Al-Lihyaani
Dengan nama lengkap Abu Hasan Ali ibn Mubarak, sedangkan nama “al-lihyan” sebagai bentuk penghormatan terhadap lihyaan-nya (jenggot). Wafat pada tahun 220 H. Selain berguru kepada Al-Kisa’i, dia juga belajar kepada Abi Zayd, Abi Ubaidah dan lainnya.
Karakteristik generasi ketiga
a. Semakin maraknya penulisan baik dalam ilmu agama maupun ilmu bahasa
b. Dimulainya konsentrasi penulisan tentang Nahwu secara terpisah
c. Perhatian khusus terhadap kesalahan lisan secara umum dan upaya memperbaikinya 
d. Lahirnya istilah-istilah Nahwu Kufah

GENERASI KEEMPAT
1. Ibnu Sa’dan
Nama lengkapnya Abu Ja’far Muhammad ibn Sa’dan adh-Dharir. Lahir di Baghdad pada tahun 161 H, sedangkan tumbuh besar di Kufah. Kemudian meninggal dunia pada tahun 231 H, dengan menulis 1 buku Nahwu dan lainnya buku-buku mengenai Qira’at.

2. Ath-Thuwal
Beliau bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad ibn Ahmad ibn Abdullah ath-Thuwal, dan tumbuh di Kufah. Wafat pada tahun 234 H. Belajar nahwu kepada Al-Kisa’i. kemudian ke Baghdad dengan mengikuti majlis Qira’ah Abu Umar dan ad-Dauri

3. Ibnu Qadim
Nama lengkapnya Abu Ja’far Muhammad ibn Abdullah ibn Qadim. Wafat pada tahun 251 H. Ibnu Qadim mempelajari nahwu dari al-Fara, Tsa’lab. Adapun karya nahwunya adalah: al-Kaafi dan al-Mukhtashir.
Karakteristik generasi ini secara umum tidak jauh berbeda dengan generasi sebelumnya (ketiga), hanya sudah mulai mengenal sharaf.

GENERASI KELIMA 
Tsa’lab
Nama lengkapnya adalah Abu al-Abbas Ahmad ibn Yahya ibn Yazid, tetapi terkenal dengan Tsa’lab. Beliau berkebangsaan Persia, namun lahir dan tumbuh di Baghdad. Tahun kelahirannya pada 200 H. Sejak kecil sudah mempelajari berbagai ilmu; membaca, menulis, menghapal al-Qur’an dan sya’ir Arab. Karyanya:
a. Majaalis Tsa’lab; di dalamnya merangkum berbagai pemikirannya tentang nahwu, bahasa, makna al-Qur’an dan syair-syair asing 
b. Al-Fashih
c. Qawaaidu asy-Syi’ri 
Adapun karyanya yang membahas tentang nahwu adalah: 
a. Ikhtilafu an-Nahwiyiin 
b. Ma Yansharifu wa ma laa yansharif
c. Haddu an-Nahwi

Karakteristiknya: 
a. Pengetahuan yang beraneka ragam; nahwu, bahasa, balaghah dan lainnya
b. Banyaknya penulisan dari berbagai ilmu pengetahuan 



STUDI NAHWU MAZHAB BAGHDAD
1. TOKOH-TOKOH KUFAH LEBIH DULU MASUK KE BAGHDAD
Para ahli nahwu dan ahli bahasa Kuffah telah datang terlebih dahulu ke Baghdad bila dibandingkan para ahli dari Bashrah. Hal ini dapat dilihat melalui kedatangan Al-Kasai ke Baghdad dengan membawa ilmu nahwu Kuffah serta pendapat-pendapat para ahli tentang ilmu tersebut. Lebih dari itu, pada masa pemerintahan Khalifah Harun Ar-Rasyid, Al-Kasai bahkan dipercaya oleh khalifah untuk menjadi guru bagi kedua putranya yang bernama Amin dan Makmun. Dan ketika kesehatannya mulai menurun, dia menunjuk temannya yang bernama Ali bin Malik Al-Ahmar untuk menggantikannya menjadi guru bagi kedua putra khalifah. Demikianlah, al-Kisa’i telah mampu menempatkan aliran nahwu Kuffah di Baghdad, dan memasukkannya ke dalam pemerintahan khalifah Harun Ar-Rasyid. Tokoh lain yang datang ke Baghdad setelah Al-Kasai dan Al-Ahmar adalah Yahya bin Ziad Al-Fara’, yaitu tepatnya pada masa pemerintahan khalifah Makmun, untuk menjadi guru bagi kedua putra khalifah.
Kedatangan para ilmuwan Kuffah ke Baghdad senantiasa mendapat sambutan baik dari pemerintah, bahkan mereka diberi kedudukan yang terhormat, misalnya saja sebagai guru bagi putra kaisar maupun sebagai penasehat khalifah, karena mereka dianggap telah berjasa memperkenalkan sebuah ilmu baru pada Baghdad. Penyebab dari hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Thoyyib Al-Lughawy adalah, bahwa pada masa tersebut, Baghdad hanya dikenal sebagai kota kerajaan dan bukan kota ilmu pengetahuan, sehingga mereka senantiasa memberikan tempat istimewa pada orang-oranga yang mereka anggap memiliki ilmu pengetahuan dan memperkenalkannya pada mereka.

2. BASHRAH DAN KUFAH BERTEMU DI BAGHDAD
Ketika berita tentang kemuliaan yang didapatkan oleh para pakar nahwu Kuffah dalam pemerintahan khalifah Bani Abbas di negeri Baghdad tersebar, maka hal ini memicu hasrat dari sebagian pakar nahwu Bashrah untuk mengadu nasib ke Bagdad, dengan harapan mereka dapat ikut merasakan apa yang telah diperoleh para ilmuwan Kuffah. Meskipun kedatangan mereka banyak ditentang oleh tokoh-tokoh Bani Abbas, namun pada akhirnya mereka berhasil mendapatkan posisi di Baghdad karena mereka memiliki perangai yang baik.
Dengan kedatangan para pakar Bashrah ini, maka dapat diketahui bahwa ada dua macam aliran nahwu yang masuk ke Baghdad, yaitu aliran Kuffah dan aliran Bashrah. Kedua aliran ini tumbuh di Baghdad dengan karakteristik masing-masing, sehingga pendukung keduanyapun juga terbagi menjadi dua kelompok yang berbeda. Dengan adanya berbagai perbedaan yang ada dalam kedua aliran ini, maka yang muncul ke permukaan pada tahap selanjutnya adalah adanya persaingan sengit antara keduanya dan tidak pernah mencapai titik temu. Perbedaan dan perselisihan dua aliran tersebut selanjutnya melahirkan sebuah aliran baru yang diberi nama aliran Baghdad, yaitu aliran yang memadukan aliran Kuffah dan aliran Bashrah kemudian disesuaikan dengan kaidah-kaidah bahasa Arab yang telah ada.

3. PAKAR NAHWU YANG TERKENAL DI BAGHDAD
1. Abu Musa Al-Khamidh
Nama lengkapnya adalah Abu Musa Sulaiman bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad. Dia belajar ilmu nahwu dari Abu Abbas, pada saat dia berusia sekitar 40 tahun. Meskipun demikian, dia juga belajar nahwu dari para pakar nahwu Bashrah. Abu Musa wafat pada malam Kamis tanggal 7 Dzul Hijjah tahun 305 H, dan dimakamkan di Baghdad. Karya-karya peninggalan Abu Musa antara lain yaitu : kitab Khalqu’l-Insan, kitab A’s-Sabaq wa An-Nidhal, kitab An-Nabat, kitab Al-wuhusy dan kitab Mukhtashar fi An-Nahwi.

2. Ibnu Kisan
Nama lengkapnya adalah Abu Al-Hasan Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Kisan. Dia belajar ilmu nahwu dari para pakar nahwu Kuffah dan Bashrah, oleh karena itu dia hafal dan faham dengan baik teori-teori serta madzhab-madzhab yang ada dalam kedua aliran ini. Pada masa itu, Ibnu Kisan terkenal sebagai seorang tokoh yang agamis dan pecinta ilmu. Dia wafat pada hari Jum’at tanggal 8 Dzul Qa’dah tahun 299 H. Karya-karya peninggalan Ibnu Kisan terdiri dari berbagai tulisan tentang kaidah-kaidah bahasa Arab. Misalnya saja karya di bidang ilmu nahwu seperti Mukhtashar fi An-Nahwi, Mudzakkar wa Muannats, Al-Fa’il wa Al-Maf’ul, dsb. Selain itu, ada pula tulisannya di bidang ilmu sharf, seperti Kitab At-Tashrif.

3. Ibnu Syaqir
Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Ahmad bin Al-Hasan bin Al-‘Abbas bin Al-Faraj bin Syaqir. Seperti halnya Ibnu Kisan, Ibnu Syaqir juga belajar ilmu nahwu dari para pakar nahwu Kuffah dan Bashrah. Sehingga dia memadukan dua aliran yang berbeda ini. Dia wafat pada bulan Shafar tahun 317 H. Karya peninggalannya antara lain yaitu kitab Mukhtashar fi An-nahwi, kitab Al-Maqshur wa Al-Mamdud, dan juga kitab Al-Mudzakkar wa al-Muannats.

4. Ibnu Al-Khayyath
Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Manshur bin Al Khayyath. Dia memadukan aliran nahwu Kuffah dengan aliran nahwu Bashrah sebagaimana Ibnu Kisan dan Ibnu Syaqir. Ibnu Al-Khayyath wafat pada tahun 320 H di Bashrah. Karya-karya peninggalannnya di bidang ilmu nahwu antara lain yaitu kitab An-Nahwu Al-Kabir, kitab Al-Mujaz, dsb.

5. Nuftuwaih
Nama lengkapnya yaitu Abu ‘Abdullah Ibrahim bin Muhammad bin ‘Arafah bin Sulaiman bin Al-Mughirah bin Habib bin Al-Muhallab bin Abi Shafrah Al-‘Itky Al-Azda Al-Wustho. Lahir sekitar pertengahan tahun 240 H, dan bertempat tinggal di Baghdad. Dia bersaudara dengan Khalid bin ‘Abdullah Al-Muzany. Dia juga termasuk salah satu tokoh yang memadukan aliran Kuffah dan Bashrah, namun dia menolak pendapat yang mengatakan adanya proses etimologi dalam kalam Arab. Nuftuwaih wafat pada hari Rabu tanggal 12 Shafar tahun 323 H di Baghdad, dan dimakamkan pada hari Kamis. Karya-karya peninggalan Nuftuwaih antara lain yaitu kitab At-Tarikh, kitab Al-Iqtisharat, Kitab Gharib Al-Qur’an, kitab Al-Itstitsna’, dsb.


6. Ibnu Al-Anbary
Nama lengkapnya yaitu Abu Bakar Muhammad bin Abi Muhammad Al-Qasim bin Basyar bin Al-Hasan bin Bayan Ibnu Sama’ah Ibnu Farwah bin Quthn bin Da’amah Al-Anbary. Lahir pada hari Ahad tanggal 11 Rajab tahun 271 H dan wafat sebelum berusia 50 tahun, yaitu sekitar tahun 328 H di Baghdad, dan dimakamkan di dekat makan ayahnya. Ibnu Al-Anbary adalah seorang ilmuwan yang berbudi pekerti luhur dan sekaligus memiliki hafalan yang kuat. Di bidang ilmu nahwu, dia banyak belajar dari para pakar nahwu Kuffah. Karya-karya peninggalannya sangat banyak baik di bidang ilmu nahwu, kebahasaan, sastra maupun di bidang ilmu hadits. Misalnya saja di bidang ilmu nahwu dia menulis kitab Al-Maqshur wa Al-Mamdud, di bidang kebahasaan dia menulis kitab Al-Alqab, di bidang sastra dia menulis kitab (meski belum selesai)dan kitab Gharib Al-Hadits (juga belum selesai) di bidang ilmu hadits.

7. Al-Akhfasy Al-Ashghar
Nama lengkapnya adalah Abu Al-Hasan Ali bin Sulaiman bin Al-Fadhl. Dia termasuk salah seorang pakar nahwu yang terkenal yang mempelajari ilmu nahwu dari berbagai pakar nahwu sebelumnya. Dan untuk itu dia banyak melakukan perjalanan meninggalkan Baghdad. Setelah dia kembali ke Bahgdad, dia mulai jatuh dalam kemiskinan hingga pada akhirnya wafat secara mendadak pada tanggal 7 bulan Dzul Qa’dah tahun 315 H dan dimakamkan di pemakaman Qantharah Baradan. Karya peninggalannya yang terkenal antara lain yaitu Sarh kitab Sibawaih, Tafsir Risalah kitab Sibawaih, kitab At-Tatsniyah wa Al-Jam’u, kitab Al-Madzhab fi An-Nahwi, kitab Al-Jarrad dan kitab Al-Anwa’. 

Kelompok Kedua 
Yang dimaksud kelompok kedua di sini adalah salah satu kelompok yang membesarkan aliran Baghdad. Mereka adalah para pakar nahwu yang mempelajari ilmu nahwu dengan cara berguru pada pakar nahwu Bashrah dan kemudian mempelajari ilmu nahwu aliran Kuffah. Setelah mempelajari secara mendalam dan membandingkan keduanya, kelompok ini selanjutnya juga memadukan aliran Kuffah dan aliran Bashrah menjadi sebuah aliran, yaitu aliran Baghdad. Para pakar yang masuk dalam kelompok kedua ini antara lain yaitu :

1. Az-Zujaj
Nama lengkapnya adalah Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad bin As’Sury bin Sahl Az’Zujaj. Dia mendapat julukan Az-Zujaj karena bekerja sebagai pemotong kaca. Mula-mula dia mempelajari ilmu nahwu dari Kuffah dan kemudian memadukannya dengan ilmu nahwu dari Bashrah. Az-Zujaj wafat pada hari Jum’at tanggal 11 Jumadal Akhir tahun 310 H. Karya-karya peninggalannya antara lain yaitu kitab Ma’ani Al-Qur’an, kitab Al-Isytiqaq, kitab Al-Qawafy, kitab Al-‘Arudh, kitab Khalq Al-Insan, ktan Mukhtashar fi An-Nahwi, kitab Syarh Abyat Sibawaih, dsb.

2. Ibnu As-Siraj
Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad bin As-Sury bin Sahl As-Siraj. Mendapat julukan As-Siraj karena dia mempunyai keahlian membuat pelana kuda. Dia termasuk salah seorang pakar nahwu dan sastra. Untuk ilmu nahwu, mula-mula dia belajar dari pakar nahwu Bashrah seperti Sibawaih. Ibnu As-Siraj wafat pada hari Ahad tanggal 3 Dzul Hijjah tahun 316 H. Karya-karya peninggalannya terdiri dari buku-buku bahasa, nahwu dan juga sharf, antara lain yaitu kitab Jumal Al-Ushul, kitab Al-Mujaz fi An-Nahwi, kitab Al-Isytiqaq, kitab Syarh Sibawaih, kitab Asy-Syi’r wa Asy-Syu’ra’, kitab Al-Muwashalat fi Al-Akhbar wa Al-Mudzkkarat, dsb.

3. Az-Zujajy
Nama lengkapnya adalah Abu Al-Qasim ‘Abdu’r-Rahman bin Ishaq Az-Zujajy. Dia bukan penduduk asli Baghdad. Dia tiba di Baghdad pada saat masih kecil. Ilmu nahwi yang dikuasainya dia pelajari dari Muhammad bin Al-‘Abbas Al-Yazidy, Abu Bakar bin Darid, Abu Bakar bin Al-Anbary, juga dari pakar yang lain termasuk Az-Zujaj. Selanjutnya dia tinggal di Damaskus. Dan pada bulan Rajab tahun 307 H, dia wafat pada saat dalam perjalanan meninggalkan Damaskus bersama Ibnu Al-Haris. Karya-karya peninggalannya berupa buku-buku bahasa ,nahwu, ‘Arudh dan sastra. Diantara buku-buku tersebut yaitu kitab Al-Jumal, Al-Kafy, Syarh Kitab Al-Alif wa Al-Lam Li’l-Mazany, Syarh khutbah Adab Al-Katib, dsb.

4. Mubraman
Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad bin ‘Ali bin Ismail Al-‘Askary. Dia belajar ilmu nahwu dari pakar nahwu Bashrah dan Az-Zujaj. Mubraman wafat pada tahun 345 H. Karya-karya peninggalannya yang terkenal di bidang nahwu dan bahasa antara lain yaitu Syah kitab Sibawaih (belum selesai), Syarh Syawahid Sibawaih, An-Nahwu Al-Majmu’ ‘ala Al-‘Ilal, dsb.

5. Ibnu Durustuyah
Nama lengkapnya adalah Abu Muhammad ‘Abdullah bin Ja’far bin Durustuyah bin Al-Marzuban. Dia dilahirkan di Persia pada tahun 258 H dan kemudian menetap di Baghdad. Ilmu nahwu dia pelajari dari Bahsrah dan Kuffah sedangkan ilmu sastra dia pelajari dari Ibnu Qutaybah. Ibnu Durustuyah wafat pada hari Senin tanggal 9 Safar tahun 347 H. Karya-karya peninggalannya di bidang bahasa, nahwu dan sastra antra lain yaitu kitab Al-Mutammim, kitab Al-Irsyad fi An-Nahwi, kitab Al-Hidayah Syarh Kitab Al-Jurumy, kitab Gharib Al-Hadits, kitab Tafsir Asy-Syai’, dan masih banyak lagi yang lainnya.



4. PENGARUH MADZHAB BAGHDAD TERHADAP KONFLIK POLITIK
1. Penopang Madzhab Baghdad
Pada masa-masa awal munculnya aliran Baghdad, yaitu sekitar abad ke-3 H, perkembangan ilmu nahwu di Baghdad lebih didominasi oleh pengaruh dari Kuffah dari pada pengaruh dari Bashrah.. Hal ini tidak lepas dari campur tangan kekuasaan khalifah-khalifah Bani Abbas. Dominasi pengaruh madzhab Kuffah ini masih terus terasa, dan baru dapat berkurang setelah tokoh-tokohnya meninggal dunia.
Dalam perkembangan selanjutnya, para pakar nahwu Baghdad berupaya memadukan madzhab Kuffah dan Bashrah, kemudian mereka formulasikan ke dalam sebuah aliran baru yang disebut sebagai aliran Baghdad, di mana kaidah-kaidah yang mereka gunakan sebagian diambil dari kaidah-kaidah nahwu Kuffah, sebagian dari kaidah-kaidah nahwu Bashrah dan sebagian lagi adalah kaidah-kaidah nahwu baru hasil ijtihad ataupun istimbat mereka.

2. Popularitas Madzhab Baghdad di Lingkungan Kerajaan dan di Daerah 
Pada masa pemerintahan Bani Abbas, perkembangan ilmu pengetahuan agak terhambat karena adanya campur tangan dari pemerintah, yang lebih memihak pada madzhab Kuffah. Sebagai reaksi dari kesewenang-wenangan pemerintah tersebut, membuat para ilmuwan berniat meninggalkan negeri Baghdad, yang mereka anggap tidak memberikan kedamaian. Kondisi Baghdad yang demikian masih terus berlangsung sampai datangnya Abu Al-Husain Ahmad bin Abu Syuja’ Bawaih pada tahun 334 H ke negeri tersebut dan mendirikan kekhalifahan Persi di Baghdad. Dan dalam perkembangannya, wilayah pemerintahan Bani Abbas kemudian terpecah menjadi beberapa bagian. 
Seiring dengan terpecahnya kerajaan Abbasiyah, maka para pecah pula ikatan madzhab Baghdad, karena para pakar nahwu yang bermadzhab Baghdad tersebut, terpisah oleh wilayah-wilayah yang berbeda. Karena wilayah mereka telah terpisah. Oleh kaerena itu, selanjutnya para pakar nahwu tersebut menjalani kehidupan yang baru di wilayah mereka masing-masing. Hal ini berarti bahwa, para pakar tersebut mempunyai kebebasan untuk mengembangkan madzhab nahwu mereka, bebas dari pengaruh dan tekanan siapapun, termasuk pengaruh dan tekanan dari pemerintahan Bani Abbas, sehingga mereka bebas berijtihad tanpa terpengaruh oleh pakar-pakar di wilayah lain kecuali untuk kepentingan perkembangan bahasa Arab.

3. Misi Baru Madzhab Baghdad 
Berbeda dengan pemerintahan Bani Abbas, maka pemerintahan baru yang ada di Baghdad lebih memberi perlindungan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan menghormati para ilmuwan pada masing-masing bidangnya. Mereka diberi kesempatan untuk mengembangkan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan bahasa Arab, bahkan lebih dari itu, mereka dianggap sebagai bagian dari kerajaan meskipun mereka berasal dari wilayah lain. Pada masa pemerintahan As-Saljuqiyah, didirikanlah madrasah yang pertama dalam sejarah. Dikatakan pertama karena pada masa sebelumnya, proses pendidikan hanya berlangsung di masjid-masjid saja. Perhatian lebih dari pemerintah terhadap ilmu pengetahuan dan ilmuwan ini, selanjutnya memacu semangat para ilmuwan untuk lebih produktif. Sehingga pada masa tersebut, banyak bermunculanlah pengarang-pengarang besar nahwu, lebih dari apa telah ada sebelumnya, karena pada umumnya, mereka tidak cukup puas hanya menggunakan kaidah-kaidah dari pendahulu mereka saja, akan tetapi mereka mengembangkannya dengan ijtihad mereka sendiri. Dengan adanya perbedaan lingkungan dan juga perbedaan nuansa politik yang ada, selanjutnya diadakan pengelompokan terhadap para ilmuwan. Ilmuwan yang ada pada masa pemerintahan saat ini (setelah pemerintahan Bani Abbas) disebut para ilmuwan (pakar) kontemporer, sedangkan ilmuwan yang ada pada masa sebelumnya (pada masa pemerintahan Bani Abbas) disebut sebagai ilmuwan (pakar) konvensional (tradisional). 

5. PAKAR NAHWU KONTEMPORER MADZHAB BAGHDAD
1. As-Sirafi
Nama lengkapnya Abu Sa’id al-Hasan bin Abdullah bin Marzaban. Dia dilahirkan di Siraf (sebuah nama kota di pelabuhan di tepi laut Arab negrei Parsi yang kemudian namanya diambil dari nama kota tersebut) pada tahun 290 H. Bapaknya seorang Majusi bernama Bahzaz kemudian masuk Islam dan diberi nama Abu Said (Abdullah). Dia belajar Al Qur'an dan Qiraat dari Ibnu Mujahid, belajar ilmu linguistik dari Ibnu Duraid, ilmu nahwu dari Ibnu Siraj dan Abu Bakar Mumbraman. Dalam fiqh, beliau bermazhab Hanafi, sebagaima yang diriwayatkan oleh Abu Hayyan at-Tauhidi bahwa beliau berfatwa dalam urusan fiqh bermadzhab Hanafi selama 50 tahun. Karya-karyanya adalah syarh kitab Sibawaih, kitab Alfat al wasl dan al qit, kitab Akhbar nahwiyin bashoriyyin, kitab waqof dan ibtida', kitab sin'atu siir dan balaghah, kitab maqsurah Ibnu Duraid, kitab iqna' dalam ilmu nahwu (tidak sampai selesai) kemudian diselesaikan oleh anaknya Yusuf, kitab syarh syawahid kitab Sibawaih, kitab pengantar kitab Sibawaih dan kitab Jaziratul ‘Arab. 
Abu Sa’id pernah berkata:”Saya datang dalam suatu majlis Abu Bakar bin Duraid. Saya sebelumnya pernah melihatnya. Saya duduk di bagian belakang majlis. Salah satu undangan menyenandungkan dua bait puisi memuji Nabi Adam As, sampai pada kisah tatkala Qabil membunuh saudaranya Habil, yaitu :
تغيّرت البلاد ومن عليها فوجه الأرض مغبّر قبيح
تعيّر كسلّ ذى حسن وطيب وقلّ بشاشهة الوجه المليح
Saya mengatakan:”di-nasab-kan kata (بشاشه), dan dibuang tanwin-nya karena bertemunya dua sukun bukan karena di-idhafah-kan, maka menjadi ism nakirah yang di-nasab-kan atas tamyiz kemudian di-rafa'-kan kata (لوجه) dan sifatnya di-isnad-kan oleh kata (قل) maka lafalnya menjadi :الوجهِ المليح وقلَّ بشاشة, sebagaimana Nasr bin 'Asim dan Abu Amr bin 'Ala membaca firman Allah:
(
قل هو الله أحدُ الله الصمد), dengan membuang tanwin pada kata ( احد ), karena bertemunya dua sukun. Pendapat ini dikuatkan oleh Al Fara’ dari madzhab Kufah.

Puisinya 
اسكن إلى سكن تسّر به ذهب الزمان وانت منفرد
Tinggallah kamu ke tempat yang menyenangkanmu, waktu telah berlalu dan kamu dalam kenestapaan
ترجوغدا وغد كحاملة فى الحيّ لايدرون ماتد
Kamu mengharapkan hari esok dan hari esok, seperti perempuan hamil yang terdapat di kalangan penduduk suatu kawasan, mereka tidak tahu apa yang dia lahirkan.

Wafatnya 
Beliau meninggal di pertengahan waktu shalat dhuhur dan ashar pada hari Senin minggu kedua bulan Rajab tahun 368 h, dimakamkan di Khazran setelah shalat asyar pada hari itu juga, umurnya 84 tahun.

2. Ibnu Khalawaih
Nama lengkapnya Abu Abdullah al-Husain ibn Khawaliah. Dia dilahirkan di Hamdan, kemudian pergi ke Baghdad untuk menuntut ilmu (314 H). Dia belajar Al Qur'an dari Ibnu Mujahid, nahwu dan sastra dari Ibnu Duraid, Nafthawaih, Abu Bakar ibn Anbari, dan Abi Amar az-Zahid; belajar hadits dari Muhammad ibn Mukhalid al-Attar. beliau bermadzhab Syafii. Karyanya Kitab Al-jamal (nahwu), Istiqaq, Itraghnu fil-Lughoh, al-Qira’at, I'rab 30 surat Al Qur'an, al-Maqsur wal-Mamdud, al-Faat, Mudzakkar wa mu’anats, Syarh Maqsurah Ibnu Duraid, Kitab Laisa, al-Badi' fil-Qira’at Sab'i, Kitab Asad, Kitab Mubtada, dan Kitab Tadzkirah.

Puisinya
إذا لم يكن صدر المجالس سيّد فلا خير فيمن صدّرفسه المجالس 
Apabila tidak ada di sebuah majlis sosok seorang ulama, maka tidak ada kbaikan bagi orang yang datang ke majlis tersebut. 
وكم قاتل: مالى رأيتك راجلا فقلت له: من أجل أنّك فارس
Berapa banyak orang berkata: Saya tidak melihatmu berjalan kaki, maka aku katakan padanya: itu karena kau menunggang kuda.
Beliau wafat di kota Halab pada tahun 370 H.

3. Abu Ali al-Farisy
Nama lengkapnya Abu Ali al-Hasan bin Abdul Ghafar bin Muhammad bin Sulaiman bin Abaan. Dia dilahirkan di Fasa (sebuah kota di negeri Parsi dekat dengan ibukota Siraz) pada tahun 288 H. Dia pergi ke Baghdad pada tahun 307 H, belajar nahwu dan Zujaj, Mubraman, Akhfas, dan Nafthawaih; belajar linguistik dari Ibnu Duraid, belajar qiroat dari Bakr Ibnu Mujahid. Dia merupakan pengikut Mu'tazilah dan ada juga yang mengatakan dia merupakan pengikut Syiah. Karyanya Kitab Tafsir tentang (
يا آيها الّذين امنوا إذا قمتم إلى الصلاة), Kitab Hujjah fil-Qira’at (kitab ini berisi tentang hujjah beliau bahwa setiap qiroah didukung oleh linguistik dan puisi), Kitab at-Tatabbu' li Kalam Abi Ali al-Jabai (ilmu kalam), Kitab al-Idhoh, Kitab Takmilah, Kitab Tadzkiroh, Kitab Maqshur, Kitab Mamdud, Kitab al-Ighfal (yang dilupakan az-Zujaji dalam ma'aniihi), Kitab Awanil Miyah, Kitab Naqdul-Nadhur, Syarh Abyat ‘an I'rab (idhoh siir), Mukhtashar ‘Awamil i‘rab, Tarjamah, dan Abyat Ma'ani.

Puisinya 
خضبت الشيب لمّا كان عببا وخضب الشيب أولى أن يعاب
Aku mengecat ubanku karena terasa ada aibnya, karena mengecat uban lebih baik dari pada mendatangkan aib.
ولم أخضب مخافة هجر خلّ ولاعببا خشيت ولاعتابا
Dan aku belum mengecat kekhawatiran yang terdapat dalam sifat keburukan yang melebih sifat yang lain, tidak aib dan celaan yang aku khawatirkan.
ولكنّ المشيب بدا نميما فصيّرت الخضاب له عقاب
Akan tetapi tumbuhnya uban menjqadi tercela, maka dengan mewarnai (uban) dianggap sebagai hukuman 
Abu Ali al-Farisi meniggal di Baghdad pada hari tanggal 17 Rabiul Awal tahun 377 H, umurnya 92 tahun. Dimakamkan di Sunaiza.

4. Ar-Rumani 
Nama lengkapnya Abu Hasan Ali bin Isa bin Ali bin Abdullah. Dia dijuluki ar-Ruman berasal dari kata (
من سرّمن راى). Dia dilahirkan di Baghdad tahun 396 H. Dia belajar dari Ibnu Duraid dan Ibnu Siraj. Muridnya diantaranya adalah Abu al-Qasim at-Tanukhi, Abu Muhammad al-Jauhari. Beliau bermadzhab Bashri dalam pandangan nahwu dan bermadzhab Mu'tazilah dalam aliran pemikiran karena dia lebih filofis, sehingga dia kadang mengkombinasikan nahwu dengan filsafat dan mantik (logika). Karyanya tentang pembahasan Al Qur'an: kitab I'jazul Qur'an dan Kitab al-Faat fil-Qura’nil-Karim, tentang nahwu: Kitab Syarh Sibawaih, Kitab Nakt Sibawaih, Kitab Aghrad Sibawaih, Kitab Masa’il Mufrad fi Kitab Sibawaih, kitab Syarh al-Madkhal ila Sibawaih lil-Mubrad, Syarh Mukhtashar al-Jurmi, Syarh al-Masa’il lil-Akhfasy, Kitab Syarh Alif wal-Lam lil Mazni, Syarh al-Mujiz li-bn Siraj, Kitab I'jaz (nahwu), Kitab Mubtada’, Kitab Syarhul-Ushul li-bn Siraj, Kitab Kabir. Beliau meninggal pada malam Ahad tanggal 11 Jumadil awal tahun 384 H.

5. Ibnu Jinni
Nama lengkapnya Abu al-Fath Utsman bin Jinni, dilahirkan di Mosul sebelum tahun 330 H (ada yang mengatakan dia dilahirkan pada 320 H). Beliau berguru kepada Ibnu Muqsam, Abu al-Faraj al-Asfihani, Abu al-‘Abbas Ahmad bin Muhammad dikenal dengan Imam Akhfas dan Abu Sahl al-Qattam. Dalam syarah kitab Al Mutanabbi dia berkata:"Ada seseorang yang bertanya kepada Abu Thayyib al-Mutanabbi tentang bait puisi:
باد هواك صبرت أم لم تصبرا . Bagaimana huruf alif masih tetap pada kata تصبرا padahal ada لم jazm, mestinya diucapkan dengan لم تصبر? Mutanabbi menjawab: seandainya ada Abu al-Fatah disini, pasti beliau menjawab: alif pada تصبرا merupakan badal dari nun taukid khafifah. Asalnya: لم تصبرن , nun taukid khafifah disini jika waqf diganti dengan alif. Karyanya dalam ilmu nahwu: Kitab Ta'aqub fil-‘Arabiyah, Kitab Mu‘rab, Kitab Talqin, Kitab Lam, Kitab Alfadz min Mahmuz, Kitab Mudzakar wa mu’anats, Kitab Khasha’is, Kitab Sirr Sina‘atul I'rab, Kitab Syarh Maqsur wal-Mamdud, kitab Idzal-Qadd (kumpulan kuliah Abu Ali al-Farisi) Kitab Mahasinil-‘Arabiyah, Kitab Khatiriyat, Kitab Tadzkirah al-Ashibaniyah, Kitab Tanbih, Kitab Muhadzab, Kitab Tabshirah. Dalam ilmu sharf : Kitab Jumal Ushulut-Tasrif, Kitab Mushannif (Syarh Tasriful-Mazni), Kitab Tasriful-Muluki. Dalam ilmu 'arudh: Kitab ‘Arudh wal-Qawafi, Kitab Kaafi (Syarh Kitab Qawafi lil-Akhfasy). Dalam ilmu sastra dan puisi: Kitab Syi‘ir (Syarh Diwan al-Mutanabbi), Kitab al- Farq baina Kalam Khas wal-‘Am, Kitab Miratsi at-Tsalatsah dan Qasidah ar-Ruiyah li-Syarif ar-Ridho, Kitab Ma'ani Abyat Mutanabbi.

Puisinya
Beliau mempunyai teman tetapi temannya menceritakan aibnya, kemudian beliau membalasnya dengan melantunkan puisi :
صدودك عنىّ ولاذنب لى يدلّ على نيّة فاسدة
Penentanganmu kepadaku menujukkan niat yang merusak tidak ada dosa bagiku
وقد وحياتك ممّا بكيت خشيت على عينى الواحدة
Kehidupanmu yang aku tangisi, sungguh mengkhawatirkanku karena mataku hanya Satu
ولولامخافة الاّراك لما كان فى تركها فائدة
Seandainya tidak ada kekhawatiran untuk tidak melihatmu, maka lebih bermanfaat jika dibiarkan saja.
Wafatnya
Beliau meninggal di Baghdad pada hari Jum'at bulan Shofar tahun 392 H, dimakamkan di Suniza disamping makam gurunya Abu Ali al-Farisi, disitu juga menjadi makamnya Syaih Junaid seorang tokoh tasawuf.

6. Ar-Rab'i
Nama lengkapnya Abu al-Hasan Ali bin Isa bin al-Faraj bin Sholih ar-Rab'i, dilahirkan di Siraj tahun 328 H, pergi ke Baghdad dan berguru kepada Sirofi kemudian kembali lagi ke Siraj dan belajar kepada Abi Ali al-Farisi 20 tahun kemudian kembali lagi ke Baghdad. Karyanya Syarh al-Idhoh li Abi Ali al-Farisi, Syarh Mukhtashar al-Jurmi. Beliau meninggal di Bagdad pada malam Sabtu tanggal 10 Muharram tahun 420 H.

7. Ibnu Burhan
Nama lengkapnya Abu al-Qasyim Abdul Wahid bin Ali bin Umar bin Ishak bin Ibrahim bin Burhan al-Asadi al-Akbari. Dia dilahirkan di Akbara (sebuah negeri yang terletak 20 farsakh dari Baghdad). Beliau belajar hadits dari Ibnu Bittah (Abu Abdullah Ubaidillah bin Muhammad al-Akbari terkenal dengan julukan Ibnu Bittah), belajar ilmu kalam dari madzhab Hasan Basri, dan belajar madzhab Hanafi dari Abi al-Husaini al-Qaduri (nama lengkapnya Abu al-Husain Ahmad bin Ja'far bin Hamdan, seorang pemimpin madzhab Hanafi di Baghdad), belajar ilmu nahwu kepada Ali ad-Daqiqi (Abu al-Qasim Ali bin Ubaidillah Muhammad bin Harun an-Nazali), Ibnu Asras (Muhammad bin Muhammad bin Ahmad bin Asras), belajar bahasa kepada Abi Mansur ar-Razi dan as-Sansi, dan belajar sastra dari Abu Salam al-Basri. Dalam pandangan fiqhnya beliau bermadzhab Hanbali.

8. At-Tabrizy
Nama lengkapnya Abu Zakariya Yahya bin Ali bin Muhammad bin Hasan bin Muhammad bin Musa bin Bustham as-Saibani, dilahirkan di Tabriz (salah satu kota di Azarbaizan) tahun 421 H. Beliau belajar ilmu hadits di kota suwar dari Daqih Abi al-Fath Salim bin Ayub ar-Razi, Abi al-Qasim Abdul Karim bin Muhammad ad-Dilal as-Sayari, dan Ghadhi Abu Thayyib at-Thobari. Beliau pergi ke Mesir belajar bahasa dari Syeikh Abu al-Hasan Thahir bin Babisad di Mesir, kemudian kembali lagi ke Baghdad dan mengajar sastra di madrasah Nidzamiyah kemudian menjabat sebagai kepala perpustakaan disana. Karyanya di bidang ilmu nahwu : Azizah al-Wujud (Syarh Kitab Asrar ash-Shin’ah) dan Syarh al-Lam‘ karya Ibnu Jinni, bidang ilmu linguistik : Tahdzib Islah al-Manthiq karya Ibnu Sikit, bidang ilmu sastra : Syarah Qasha’id al-Asr, Syarh al-Hamasah, Syarh Diwan Mutanabbi, Syarh Diwan Abi Tamam, Syarah ‘an Mufdholiyat, Syarh Maqsurah Ibnu Duraid, bidang ilmu ‘arudh : Kitab al-Kafi fil-‘Arudh wal-Qawafi,
bidang al-Qur’an dan hadits: Kitab I’rabul al-Qur’an dinamakan dengan Al-Mukhlis dan Tahdzib Gharib al-Hadits. Beliau wafat di Bangdad pada hari Selasa Jumadil Akhir 502 H, dimakamkan di pemakaman Bab Abraz.

9. Malik an-Nuhat
Nama lengkapnya Abu Nazar al-Hasan bin Shofi bin Abdullah bin Nazar bin Abi al-Hasan dijuluki dengan Malik an-Nuhat (raja nahwu), dilahirkan di jalan Daar ar-Raqiq di pinggiran barat kota Baghdad tahun 489 H. Beliau belajar hadits dari Sharf Abi Thalib az-Zini, belajar fiqh Syafi’i dari Ahmad al-Usnuhi (sebuah kampung di negeri Azarbaijan), belajar ushul fiqh dari Abi al-Fath bin Burhan, belajar ilmu khilaf (bagian dari ilmu mantiq) dari As’ad al-Mihani, belajar nahwu dari Abi al-Hasan Ali bin Abi Zaid al-Fasihi al-Istirabadhi yang juga belajar nahwu dari Abdul Qahir al-Jarhani. Karyanya dalam ilmu nahwu : Kitab al-Hawi, Kitab al-Umdah, Kitab al-Muntakhab, Kitab at-Tadzkirah Syi‘riyah, dalam ilmu sharf : al-Muqtasid, dalam ilmu ‘arud : Kitab Arud, dalam ilmu qira’at : Uslub al-Haq fi Ta’lil al-Qira’ati al-‘Ahsri wa syai’un min as-syawadz, tentang ushuluddin : Mukhtasar fi Ushuluddin, bidang ilmu ushul fiqih : Mukhtasar fi-Ushul Fiqih dan al-Hakim, dalam ilmu sastra : Kitab al-Maqamat.

Puisinya
Puisi yang berisi pujian kepada Nabi Muhammad saw.
جنانيك إن جاءتك يوما خصانصى وهلك أصناف الكلام المسخر
Jika datang rasa kerinduan untukmu dalam lubuk hatiku disuatu hari, dan mencemaskanmu beberapa kata-kata olok-olok
فسل منضفا عن قالتى غير جائر بحبّك إنّ الفضل للمتأخّر
Maka tanyakanlah, setengah dari ucapanku tidaklah bertindak tidak adil untuk mencintaimu, sesungguhnya kemuliaan bagi nabi akhir zaman.
Beliau meninggal hari Selasa tanggal 8 Syawal 568 H di Damaskus, dimakamkan di pemakaman al-Bab as-Sahir.

10. Az-Zamakhsyari
Nama lengkapnya Jadullah Abu al-Qasim Mahmud bin Umar bin Muhammad bin Ahmad. Dia dilahirkan di Zamakhsyar (sebuah kampung kecil di kawasan Khawarizm) hari Rabu tanggal 27 Rajab 467 H. Sejak kecil telah diajak ayahnya ke Khawarizm (sebuah daerah yang terletak di selatan sungai Jihan, timur laut daerah Khurasan, ditaklukkan oleh Qutaibah bin Muslim tahun 86 H). Khawarizm terbentuk dari dua kata yaitu (Khawar) mempunyai arti matahari, yang ditanam, yang dimakan, dan Zem yang mempunyai arti tanah. Dengan demikian bermakna : tanah matahari, tanah pertanian dan tanah kesuburan. Beliau banyak belajar kepada para ulama di antaranya Mahmud bin Jarir adh-Dhabbi al-Asfihani (Abu Madhor), Abu Ali ad-Darir, Abu Sa’ad al-Baihaqi, dan lain-lainnya. Beliau pernah menikah tetapi bercerai tanpa mempunyai anak dan diungkapkan dalam puisinya :
تصقحت أبناء الرجال فلم أكد أصادف من لا يفضج الأمّ والأبا
Aku menyalami anak-anak orang lain, maka aku belum pasti berjumpa dengan orang yang tidak mencela ibu bapak.
رأيت أبا يشقى لتربية ابنه ويسعى لكى يدعى مكبّا ومنجبا
Aku melihat seorang bapak kesulitan mendidik anaknya dan berusaha supaya dipanggil memandang ke tanah dan beranak pandai.
أرادبه النشء الأعزّ فمادرى أيوليه جحرا أم يعليه منكبا
Dia menginginkan keturunan yang mulia, maka apa yang dia ketahui masuk ke sarang binatang atau bahu.
أخو شقوة ماز ال مركب طفله فأصبح ذاك الطفل للناس مركبا
Saudara selagi menjadi kenderaan anaknya, maka anak itu hanya menjadi kenderaan orang lain.
لذاك تركت النسل واخترت سيرة مسيحية، أحسنً بذلك مذهبا
Oleh karena itu aku meninggalkan keturunan dan memilih cara Al Masih, saya rasa ini adalah jalanku yang terbaik.
Pendapatnya tentang pernikahan diungkapkan dalam puisinya 
تزوجت لم أعلم وأخطأت لم أصب فياليتنى قدمتّ قبل التزوج
Aku telah menikah, saya tidak tahu, aku telah berbuat salah aku tidak pernah berbuat kebenaran, maka seandainya aku mati sebelum menikah.
فو الله ماأبكى على ساكنى الثرى ولكننى أبكى على المتزوج
Maka demi Allah tidaklah aku menangis karena kekayaan akan tetapi aku menangis karena telah menikah.
Beliau merupakan pengarang tafsir al-Kassaf. Dalam setiap khutbahnya, dia membuka dengan kalimat
الحمد الله الذى خلق القران karena beliau merupakan seorang Mu’tazilah dan kalau lainnya membuka dengan kalimat 
الحمد الله الذى انزل القران.
Karyanya: Tafsir al-Kassaf, Kitab al-Faiq fi Gharibil-Hadits, Kitab Ru’usul-Masa’il fil-Fiqh, al-Minhaj fil-Ushul, kitab Dhalatun-Nasid fi ‘ilmil-Faraidh, Risalah fi-Kalimatisy-Syahadah, Safil al-‘A fi li-Syarhi Kalam al-Imam al-Syafi‘i, dalam ilmu nahwu: Kitab al-Mufsil fin-Nahwi, Ammudhuz, Syarh ba’dhi Muksilat, Syarh Abyat Kitab Sibawaih, dan Shamim ‘Arabiyah, dalam ilmu arudh : Kitab al-Qisthas fil-‘Arudh, dalam ilmu sastra : Muqaddimah Adab, A’jabal-‘Ajab fi Syarhi lamiyah al-‘Arab, Rabi‘ul-Abrar, al-Waqud Dahab, Nawabighul-Kalim. Tafsir al-Kassaf merupakan karya monumentalnya, sehingga beliau memuji dalam puisi:
إنّ التفاسير فى الدنيا بلا عدد وليس منها لعمرى مثل كشّافى
Sesungguhnya kitab tafsir di duni sangat banyak jumlahnya, seumur hidupku tidak ada yang sepadan dan tafsir al kassaf adalah obatnya.
Beliau meninggal di Jarjaniyah (terletak di pinggir sungai Jihan, ibukotanya Khawarizm) di malam hari Arofah (9 Dzulhijjah) 538 H, setelah kembli dari Mekkah. Zamakhsyari mewasiatkan untuk menuliskan dalam nisan kuburnya dua buah bait puisi berikut ini : 
إلهى قد أصبحت ضيفك فى الثرى وللضيف حقّ عند كلّ كريم
Ya Tuhanku, aku telah menjadi tamumu dalam kekayaan, setiap tamu mempunyai hak mendapatkan kemuliaan
فهب لى ذنوبى فى قراى فإنّها عظيم ولايقرى بغير عظيم
Maka hilangkanlah dosa-dosaku dalam setiap bacaanku, maka bacaan puisi ini merupakan sesuatu yang agung, tidak dibaca tanpa adanya keagunganmu.

11. Ibnu as-Sajari
Nama lengkapnya adalah asy-Syarif Dhiya’udin Abu as-Sa’adat Hibatullah bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Abdullah Abi al-Hasan bin Abdullah al-Amin bin Abdullah bin al-Hasan bin Ja’far bin Hasan bin Ali bin Abu Thalib karromallhu wajhahu. Dikenal Ibnu Sajari, banyak perdebatan mengenai penamaannya. Yakut al-Kamwi mengatakan:”Nasab kata Sajari dari pihak ibunya”. Ibnu Khalkan berkata:”Kata ini dinisbatkan pada kata Sajarah, sebuah nama kampung dan Sajarah merupakan nama seseorang laki-laki, tetapi kenapa beliau diambil dari nama tersebut apakah sebuah nama kampung atau nama salah satu kakeknya yang bernama Sajarah, wallahu a’lam”. Beliau dilahirkan di Baghdad pada bulan Ramadhan 450 H. Beliau belajar ilmu nahwu dan bahasa dari al-Khatib at-Tibrizi dan Abu Barakat az-Zaidi al-Kufi, belajar ilmu tafsir dari Ibnu Nidhal al-Majasi’i, belajar ilmu hadits dari Ibnu Qasim as-Shairifi, belajar sastra dan puisi dari Ibnu Thabatiba’ al-‘Alawi dan Ibnu Nabhan al-Kurhi. Karyanya dalam bidang nahwu, sorof, bahasa dan sastra diantaranya adalah: Kitab al-‘Amali, al-Intishar, al-Hamasah, Syarh Tashrif Muluki karya Ibnu Jinni, Syarh al-Lam’i dan lainnya.

Puisinya 
Alkisah, Syekh Zamkhsyari pernah datang ke Banghdad dalam perjalanan haji, kemudian Syekh Syarif Ibnu Sajari menyambutnya, mengucapkan selamat dan memujinya dengan mensenandungkan puisinya :
كانت مساءله الركبان تخبرنى عن أحمد بن دؤاد أطيب الخبر
dua pengendara kuda memberikan kepedaku tentang Ahmad bin Duad sebagai berita paling indah
حتىّ التسقينا فلا والله ماسمعت أذنى باحسن ممّا قدرأى بصرى
Sehingga kami bertemu, maka demi Allah telingaku tidaklah mendengar sesuatu yang baik dibandingkan apa yang dilihat oleh pandanganku
وأستكبر الأخبار قبل لقائه فلمّا التقينا صدّق الخبرَ الخبرُ
Beliau meninggal pada hari kamis tanggal 26 Ramadhan 542 H di Baghdad, tidak mempunyai anak dan dimakamkan di Kurh.

12. Ibnu Khasab
Nama lengkapnya Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Ahmad bin Ahmad bin Abdullah bin Nasr bin al-Khasab. Dia dilahirkan di Baghdad tahun 492 H. Ibnu Khasab merupakan seorang pengikut Sunni beraqidah ahlus sunnah, bermazhab Ahmad bin Hambal. Di waktu mudam, beliau merupakan seorang yang sering menghabiskan waktunya di kedai-kedai kopi dan bermain catur bersama orang-orang yang awam, tetapi akhirnya berubah.

Puisinya
ودى اوجه، لكنّه غير بائح بسرٍّ وذى الوجهين للسرّ مظهر
تفاجيك بالأسرار وجهه فتفهمها مادمت بالعين تنظر
Dan bagi pemiliki wajah, akan tetapi tidak dengan rahasia dan pemiliki 2 wajah setiap rahasia tampak 
Karyanya
a. Kitab al-Murtajil, 
b. Syarh Kitab al-Jumal karya al-Jarhani 
c. Syarh Kitab al-Lam‘u karya Ibnuu Jinni
d. Syarh Muqaddimah Ibnu Hubairah dalam ilmu nahwu
e. Syarh Jumal az-Zujaji (Bantahan terhadap Ibnu Babisad)
5. Tahdib Islah al-Mantiq (Bantahan terhadap al-Khotib at-Tibrizi) 
Beliau dipanggil Allah pada hari Jumat tanggal 3 Ramadhan 567 H di rumah Abu al-Qasim bin Fara’ di Bab al-Azji di Baghdad.

13. Ibnu Duhan
Nama lengkapnya Abu Muhammad nasihuddin Said bin Mubarok bin Ali bin Abdullah bin Said bin Muhammad bin Nasr bin Asim bin Roja bin Abi bin Sabal bin Abi al-Yasar Ka’ab al-Anshari. Dia dikenal dengan nama Ibnu Duhan. Dia dilahirkan di daerah sungai Thabiq, di sebuah kampung di kawasan Baghdad pada hari kamis tanggal 26 Rajab 494 H. Beliau belajar hadits dari Abi al Qasim Hibatullah bin Husain dan Abi Ghalib Ahmad bin Hasan bin Bina’, belajar ilmu nahwu dari para pakar nahwu diantaranya: Ibnu Jawaliqi, Ibnu Sajari, Ibnu Khosab dan Ibnu Burhan. Beberapa karyanya diantaranya adalah: Kitab ad-Durus fin-Nahwi, Kitab ‘Arudh, Kitab Tafsir al-Qur’an, Kitab Tafsir Surat al-Fatihah, Kitab Tafsir Surat al-Ikhlas, Diwan Syi‘ir, Syarah al-Fushul al-Kubra karya Ibnu Mu’ti, dan Syarh al-Fushul ash-Shughra karya Ibnu Mu’ti.

Puisinya
لاتجعل الهزل دأبا فهو منقصة والجدّ تعلو به بين الورى القيم
ولايغرّنك من ملك تبسّمه ما تصخب إلاّ حين تيتسم
Beliau meninggal di Mosul hari ahad bulan Syawal 569 H, dimakamkan di pemakaman Ma’ani bin Imran Bab Maidan.

14. Al-Anbari
Nama lengkapnya Abu al-Barakat Kamaluddin Abdurrahman bin Abu al-Wafa Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Ubaidillah bin Abi Said Muhammad bin Hasan bin Sulaiman al-Anbari. Dia dilahirkan di Anbar (sebuah kota kuno di tepi sungai Eufrat) pada bulan Rabiul akhir tahun 513 H. Beliau belajar fiqh dari Said bin Razaz, belajar nahwu dari Ibnu Sajari, belajar sastra dari Ibnu Jawaliqi. Beliau mempunyai karya ilmiah sangat banyak sekitar 65 dalam bentuk kitab dan makalah. Di antara karyanya adalah Kitab Lam’ul-Adillah fin-Nahwi, Asrarul-‘Arabiyah, Mizanul-‘Arabiyah, Halbatul ‘Arabiyah, Ghara’ib I’rab al-Qur’an, Diwan Lughah, Syarh Diwan al-Mutanabbi, al-Wajiz fit-Tasrif, az-Zahran fil-Lughah, Kitab Alif wa Lam, Kitab al-Lam’ah fi Shina’ah asy-Syi’r.

Puisinya
إذا ذكرتكِ كاد الشوق يقتلنى وأرقتنى أحزان وأوجاع
وصار كلّى قلوبا فيك دامية للسقم فيها وللآلام إسراع
فإن نطقت فكلى فيك ألسنة وإن سمعت فكلّى فيك أسماع
Beliau meninggal pada malam Jumat tanggal 9 Sya’ban 577 H di Baghdad dan dimakamkan di pemakaman bab Abraz disamping makam Abi ishak as sirozi.

15. Al Matrazi
Nama lengkapnya Shadrul afadil Abu al fath Nasir bin Abi al makarim abd as sayyid bin Ali, terkenal dengan nama Al Matrazi. Beliau dilahirkan di bulan Rajab 538 H di Khawarizm, beliau juga dijuluki sebagai khalifah Zamkhasari karena Zamkhasari meninggal di tahun yang sama Matrazi dilahirkan dan di kota yang sama pula. Belajar hadits dari Abi abdullah muhammad bin Abi saad at tajir, dan beliau bermadzhab Hanafi dalam amalan fiqihnya dan beraliran mu’tazilah dari sisi pemikirannya.
Beberapa karyanya diantaranya:
1. Kitab al misbah dalam ilmu nahwu
2. Al muqoddimah almatraziyah
3. Al iqna’ dalam ilmu bahasa
4. Mukhtasar islahul mantiq karya Ibnu Sakit
5. Syarhu maqamat al hariri

Puisinya
وإنّى لأستحيى من المجد أن أرى حليف غوان أو أليف أغانى
Beliau meninggal di Khawarizm pada hari selasa tanggal 21 Jumadil awal 610, beliau mewariskan 300 puisi Arab dan Parsi.


16. Al Kindi
Nama lengkapnya Tajuddin Abu al-Yaman Zaid bin Hasan bin Zaid bin Hasan bin Zaid bin Hasan bin Said bin Ashomah bin Hamir bin Harits. Dia dilahirkan di Baghdad di hari Rabu pagi 25 Sya’ban 520 H. Nama Kindi dinisbahkan pada suku Kindah, salah satu suku Arab yang terkenal. Yang menamai demikian adalah Umruul Qais bin Hajar. Beliau memulai pengembaraan ilmunya ke Baghdad, hafal Al Qur’an pada umur 7 tahun, dan menyempurnakan belajar qira’at-nya pada umur 10 tahun. Beliau merupakan ulama yang ahli dalam ilmu qiraat. Imam adz-Dzahabi berkata:”saya tidak mengetahui ada seseorang yang hidup setelah menghafal Al Qur’an berumur sampai 83 tahun selainnya”. Belajar nahwu dari Abu Muhammad Sabat Abi Mansur al-Khayat, Ibnu Sajari, Ibnu Khasab dan belajar bahasa dari Mauhub al-Jawaliqi. Dia belajar hadits dari Abu Bakar bin Abdul Baqi. Pada mulanya beliau bermadzhab Hanbali kemudian menjadi Hanafi dan menjadi tokoh dalam madzhab Hanbali.



Antara al-Kindi, Ibnu Dahiyah, dan Ibnu al-Jazari
Diriwayatkan pada tanggal 13 Rajab 605 H, al-Kindi datang pada perjamuan makan atas undangan menteri Izzuddin Farukh Syah. Datang juga Ibnu Dahiyah. Ibnu Dahiyah menyebutkan hadits tentang syafa’at ketika sampai pada kata:
قول الخليل – عليه السلام - : أنما كنت خليلا من وراءَوراءَ 
Menurut Kindi:
وراءُوراءُ, (di-dhommah kedua hamzahnya), Ibnu Dahiyah merasa keberatan dengan pendapatnya. Ibnu Dahiyah kemudian menyusun kitab berjudul:
الصارم الهندى فى الرد على التاج الكدى . Al-Kindi pun tidak diam begitu saja dan mempertahankan argumennya dengan menyusun kitab berjudul:
نتف اللحية من ابن دحية
Persoalan lain pernah ditanyakan kepada Kindi perbedaan antara
(
طلقتك إن دخلت الدار) dan (إن دخلت الدار طلقتك), kemudian Kindi menyusun sebuah kitab untuk menjawabnya (tidak dijelaskan disini bagaimana solusi dari permasalahan tersebut-pen) kemudian dibantah oleh Muinuddin Muhammad bin Ali bin Ghalib al-Jazari, dengan menyusun kitab yang diberi nama: 
الإعتر اض المبدى بوهم التاج الكندى
Puisinya
Diriwayatkan beliau banyak membuat beberapa puisi yang berisi hikmah, pujian kepada para pemimpin dan raja yang dekat dengannya. Di antara beberapa puisinya yang berisi tentang pujian:
يا سيف دين الله عشت سالما فالدين ماعشت به باره
ودم لأهل العلم مادامت الدنـ ـيا فأنت العالم الداره
أنّ الذي يسمو ألى نيل ما شيّدتَ من أكرومة واره
كم لك عند الروم من وقفة ذكره فى الدنيا بها جاره
Beliau meninggal di Damaskus pada hari Senin tanggal 6 Syawal 613 H, dimakamkan di gunung Qasiyun.

17. Al-‘Akbari
Nama lengkapnya Muhibbudin Abu al-Baqa Abdullah bin Husain bin Abdullah bin Husain al-‘Akbari. ‘Akbaro adalah sebuah kota di tepi sungai Dajlah ± 10 farsakh dari Baghdad. Beliau dilahirkan di Baghdad di awal tahun 538 H. Dia belajar nahwu dari Yahya bin Najah, Ibnu Khasab dan ulama di masanya, belajar hadits dari Abi al-Fath bin Batti, dan Abi Zar’ah al-Muqaddasi, belajar madzhab Hanbali dari Qadhi Abi Ya’la al-Iza. Diantara karyanya adalah Tafsir al-Qur’an, I’rab al-Qur’an, Tasyabih al-Qur’an, I’rab al-Hadits, Syarh Abyat Sibawaih, Talqin, Tahdib fin-Nahwi, Isim Isyaroh, Talkhis, dan I’rab Syi’ir al-Khamsah.

Puisinya
Puisinya ketika memuji Menteri Nasir bin Mahdi al-‘Alawi
بك أضحى صدر الزمان محلى بعد أن كان من علاه مخلى
لايجاريك فى نجاريك خلق أنت أعلى قدرا وأعلى محلاّ
دمت تحيى ماقد أميت من الفضـ ل و تنفى فقراوتطرد محلا
Beliau meninggal pada malam ahad tanggal 8 Rabiul akhir 616 H. dimakamkan di pemakaman Imam Ahmad di Bab Harb.

18. Ibnu Khabaz
Nama lengkapnya Abu al Abbas Samsuddin Ahmad bin Husain bin Ahmad bin Abi al-Ma’ali bin Manshur bin Ali al-Arbali al-Mosuli. Beliau merupakan pakar nahwu, bahasa, arudh dan faraidh. Banyak para ulama nahwu lainnya yang menukil darinya, diantaranya Ibnu Hisyam, Badar Damamini, Khalid al-Azhari, Arbili, Jalal as-Sayuti, Syaikh Yasin al-Hamsi, Abdul Qadir al-Baghdadi. Karyanya adalah:
1. Kitab al-Kifayah dalam ilmu nahwu
2. Kitab Nihayh dalam ilmu nahwu
3. Syarh Idhoh karya Abi Ali al-Farisi
4. Syarh al-Muqaddimah al-Jazuliyah
5. Syarh al-Fushul karya Ibnu Mu’ti
6. Syarh al-Lam‘ karya Ibnu Jinni
7. Kitab Duratul Mukhofiyah (Syarh Alfiyah Ibnu Mu’ti)
8. Kitab al-Faridah fi Syarhil-Qasidah.

Puisinya
أعر اضهم لم تزل مسودّة فإذا قدحت فيه أصاب القدح حرّاقا
بلوتهم فطعمت السمّ فى عسل وما وجدتُ سوى الهجران درياقا
Beliau meninggal di Mosul tanggal 10 Rajab 637 H. Imam Syofdi menyebutkan beliau wafat pada tahun 639 H.



STUDI NAHWU MADZHAB MESIR

Perhatian dunia Arab pada bidang bahasa sangat dipengaruhi oleh perkembangan ilmu-ilmu pokok dalam Islam. Seperti : al-Qur`an, Hadist, Fiqh, Faroid, Muamalat; sehingga para ahli bahasa biasanya juga terdiri dari para Qurro' al-Qur`an, muhaddist dan Faqih seperti Abdurrohman ibnu harmaz, Isa ibnu Umar, Abi Amru ibnu 'Ala`, Kasai. Bahkan pencetus pertama dalam penulisan tata bahasa Arab yaitu Abi al-aswad addualiy yang sangat terpengaruh oleh Sibawaih itu juga memulai belajarnya dengan mempelajari dari Hadist, Fiqh dari tangan Chamad ibnu salmah, ketika itu berbicara tentang kesalahan dalam penulisan Hadist yang akhirnya pindah belajar kepada ilmu Nahwu.
Mesir termasuk daerah yang ramai dan menjadi salah satu pusat ilmu bahasa setelah Irak. Jarak Irak yang lebih dekat kepada jazirah Arab Makkah dan Madinah menjadikannya lebih unggul daripada Mesir. Namun begitu, Mesir ternyata lebih dulu daripada daerah Magrib dan Cordova.

Benturan dua bahasa antara Arab dan Qibti

Sebelum Islam masuk ke Mesir maka telah ada bahasa Qibti. Sehingga dalam perjalanannya, bahasa Arab di Mesir cukup mengalami benturan dengan penganut Kristen Koptic yang merupakan pemakai mayoritas bahasa Qibti. Setelah terjadi Fath L-Islam di Mesir, bahasa Arab diperjuangkan agar bisa menjadi bahasa identitas kaum muslim di sana.
Benturan dua bahasa ini sangat berpengaruh pada bahasa-bahasa keseharian di sana. Meskipun akhirnya bahasa Arab lebih unggul dalam pemakaian resmi dan dijadikan bahasa negara daripada bahasa asli setempat yaitu Qibti, tapi dalam banyak hal di masyarakat masih banyak ditemukan pengaruh-pengaruh bahasa Qibti yang sangat tidak sama dengan kaidah yang dipakai oleh bahasa Arab. Sehingga kadang disebut dengan istilah Arab Mesir.

Pelajaran Keislaman di Mesir
Semenjak terjadi Fath L-Islam di Mesir maka muncul berkembang pesat pengajaran-pengajaran keislaman. Pengajian Qur`an dan tafsir serta Qiro`atnya menjamur di mana-mana. Begitu juga Hadist, Fiqh dan ilmu-ilmu agama yang lainnya. Para sahabat rosulullah saw yang ke Mesir menjadi sentral pengajaran-pengajaran keislaman. Di bidang Qiroat Qur`an ada sahabat Abdurrahman bin Umar yang merupakan Qori` resmi pertama di Mesir. Kemudian sahabat Uqbah ibn Charist al-Fahri. Untuk Hadist Nabawi telah diutus sahabat rosulullah saw yang sangat terkenal yaitu Abu hurairoh ra. Dan diikuti oleh para sahabat yang lain seperti Abdullah bin Umar bin Khottob, Abdullah bin Abbas, Jabir bin abdullah, Abdullah bin amru bin Ash, Abu dzar al-Ghifari, Saad bin abi waqosh, dll.
Sekitar abad kedua hijriyah, muncul generasi baru dari orang Mesir sendiri. Sehingga nampak dalam bidang Qiroat Qur`an ada Utsman bin said al-Qibti dan dikenal dengan warosh. Dia adalah Qori` pertama dari orang Mesir dan telah berguru pada Nafi' bin Abdurrohman muqri` ahli Madinah yang telah terkenal menjadi salah satu rujukan Quro` yang tujuh itu.
Setelah lahir generasi baru dari orang Mesir sendiri dan terus berkembang hingga abad ketiga hijriyah. Hingga akhirnya mulailah masa penulisan pada bidang-bidang keislaman, seperti ; Qiroat Qur`an, tafsir yang ditulis oleh ulama Mesir Abu ja'far An-nahas. Tulisannya berkisar: I'rob Qur`an, maani al-Qur`an, nasikh wa mansukh, waqof wa ibtida`.
Untuk Hadist Nabawi ada kitab Al-jami' fi al Chadist yang ditulis oleh Abdullah bin wahab seorang Qibti dan menulis juga pada bidang Qiroat dan tafsir.
Dan dalam bidang Fiqh maka terdapat seorang fakih pertama Mesir yang terkenal dengan ijtihadnya yaitu Yazid bin Abi Chabib yang merupakan mufti pertama Mesir. Kemudian bermunculan setelah itu para fakih yang lain dan berkembang sistem pengajaran Fiqh dengan empat madzhab yang terkenal, seperti al-Laits bin said. 

Pengajaran Bahasa
Perhatian pada bidang bahasa di Mesir terbilang terlambat dari Irak. Namun, lebih maju dari yang lain seperti daerah Syam, Maghrib dan Andalus. Bisa dibilang, orang-orang Mesir mulai menggeluti bahasa secara serius setelah di Irak telah sangat maju. Kota-kota seperti Basroh, Kufah dan Baghdad telah menjadi pusat bahasa dan ilmu.
Kebanyakan orang-orang Mesir setelah fath l-Islam lebih berkonsentrasi dalam mempelajari ilmu-ilmu pokok keislaman dibanding bahasa. Mereka lebih mencukupkan untuk mengikuti perdebatan dan hasil-hasil penelitian tentang bahasa yang terjadi di Irak. Orang Mesir yang terkenal pertama kali membawa ilmu nahwu adalah Walid bin Muhammad Attamimi. Dia telah pergi ke Basroh dan menjadi murid Mahlabi, Kholil bin Ahmad dan para guru yang lain. Kemudian dia membawa buku-buku nahwu dan bahasa ke Mesir. Setelah itu langkah beliau diikuti oleh ulama Mesir yang lain seperti; Abu Ali Ahmad bin ja'far ad-dainuri yang telah mengambil dari al-mazini kitabnya Sibawaih dan membacanya di pusat-pusat belajar Baghdad dan mengajarkannya di Mesir.
Transfer ilmu bahasa Jalur Irak ke Mesir terus berlanjut dan diikuti oleh generasi-generasi seterusnya. Dan akhirnya orang Mesir yang telah menulis dalam bidang bahasa adalah Ibnu Walad (al-intishor li Sibaweh minalburrod), (kitab al-maqsur wa al-mamdud), Abu ja'far Annahas (kitab al-muqni' fi ikhtilaf al-bashriyiin wa kufiyiin, (kitab Tufahah), (kitab al-kafi). 

Tobaqoh Ulama Nahwu Mesir
Dalam kitab "tobaqot an-nahwiyyin al-Misriyyin" karya Abu bakar az-zubaidi ada bab khusus tentang tobaqot ulama nahwu Mesir. Berikut adalah beberapa petikannya ;

Tobaqoh pertama
1.Wilad at-Tamimi al-Mashodiri atau nama aslinya Walid bin Muhammad at-Tamimi al-Mashodiri. Berasal dari Basroh kemudian menetap di Mesir dan meninggal di bulan Rojab tahun 263H.
2. Mahmud ibnu Hasan. Nama aslinya Abu Abdillah Mahmud bin Hasan. Seorang ahli nahwu Mesir dan meninggal pada bulan Rojab tahun 272H.
3. Abu Hasan al-A'izzu. Belajar pada Ali bin Hamzah al-Kasa`I dan akhirnya menjadi ahli nahwu yang banyak dijadikan rujukan bagi orang-orang Andalus yang belajar padanya pada tahun 227H.


Tobaqoh kedua
1. Abu Ali Ahmad bin Ja'far, berasal dari Dainuri sehingga sering menjadi nama panggilannya. Beliau belajar nahwu di Basroh kepada al-Mazani dan mempelajari kitabnya Sibaweh di Baghdad dengan Abi Abbas kemudian kembali ke Mesir setelah menikahi putri gurunya 
2. Ibnu Mazro' , nama lengkapnya adalah Abu Abdillah dan Abu bakar Yamut bin Mazro' bin Musa bin Sayyar al'abqoai. Berasal dari Basroh dan belajar di Baghdad dengan beberapa ulama, seperti; Mazani, Abi Khatim as-Sajistani, Riyasyi, Abdurrahman ibnu akhi Ashmu'i, Rofi' bin salamah, Amru bin bahr al-Jahith (pamannya). Ibnu Mazro' meninggal di thobariyah tahun 304H. pendapat lain mengatakan dia meninggal di Damsiq.
3. Abu husain muhammad bin walid bin wulad at-tamimi. Berasal dari Basroh kemudian bersama ayahnya pindah ke Mesir. Beliau belajar nahwu dengan para ulama Mesir, seperti ; Abi Ali addainuri, Mahmud bin hasan dan ulama lainnya. Setelah itu Abu Husain pergi ke Irak dan bermukim di sana selama delapan tahun untuk memperdalam ilmu nahwu. Kitabnya yang terkenal dalam ilmu nahwu al-munmiq. Beliau wafat tahun 298H dalam usia kelima puluh.

Tobaqoh ketiga
1. Abu hasan Ali bin hasan al-hana`I al-uzdi. Berasal dari Oman dan pindah ke Mesir bersama keluarganya. Beliau belajar dari para ulama di Baghdad baik dari kubu Basroh maupun Kuffah. Tapi, beliau lebih cenderung kepada pendapat Basroh meskipun dalam karya-karyanya beliau berusaha untuk memaparkan kedua-duanya dengan adil. Sehingga beliau sering diberi julukan Kuro' An-Naml. Adapun beberapa tulisan-tulisan pentingnya dalam bahasa adalah: al-mundid fi al-lughoh, al-mujarod fi lughoh wa mukhtasoruhu, almujhid fi-llughoh wa mukhtasoruhu, amtsilah ghorib al-lughoh, mushaf al-munadhom. Beliau wafat di Mesir pada tahun 310H.
2. Abu Abbas Ahmad bin Muhammad bin Walid bin Muhammad at-tamimi. Belajar dengan ulama nahwu di Baghdad seperti Aba Ishaq bin Sirri az-zujaj dan yang lainnya. Abu Abbas Ahmad terkenal sangat bagus menurut Abu bakar Azzubaidi dalam kiasnya ketika berbicara tentang I'lal pada huruf wawu. Beliau wafat di Mesir pada tahun 332H. 

3. Abu Qosim Abdullah bin Muhamad bin Walid bin Muhamad Attamimi

4. Abu ja'far ahmad bin Muhamad bin Ismail bin Yunus. Terkenal dengan nama Abu ja'far Annahas.

5. Abu Nasr Muhamad bin Ishaq bin asbath Alkindy.

6. Ali bin Hasan bin Muhamad bin Yahya terkenal dengan nama Allan.

Tobaqoh keempat;

1. Abu Bakar Muhamad bin Ali bin Muhamad al-Idfawi, dari salah satu perkampungan di Mesir yaitu; Idfo.

2. Abu Hasan Ali bin Ibrahim bin Said bin Yusuf alkhoufi dinisbatkan pada khof bilbis dari propinsi Syarqiyah dan nama desanya sering disebut dengan Syubro Nahlah.

3. Abu Hasan Thohir bin Ahmad bin Babsyadz (dari kata Persi yang bermakna senang dan bahagia) bin Dawud bin Sulaiman bin Ibrahim. Menurut riwayat beliau berasal dari Dailim dan dulu kakek dan ayahnya adalah seorang pedagang yang datang ke Mesir.

4. Abu Abdullah Muhamad bin Barokat bin Hilal bin AbdulWahid Assaidi.

Tobaqoh Kelima [Zaman Ayubiyah] ;

1. Tajuddin Abu Fathi Ustman bin Isa bin Mansur bin Muhamad alBulthi berasal dari Musol. 

2. Abu Abdulghoni Taqiyuddin Sulaiman bin Banin bin Kholaf Addaqiqi.

3. Abu Husain Zainuddin Yahya bin Abdulmu'thi bin Abdunnur Azzawawi..

4. Abulhusain Ali bin Abdussomad bin Muhamad bin Mufarroj dan dikenal dengan Ibnurrimah.

5. Abulhasan Ilmuddin Ali bin Muhamad bin Abdussomad bin Abdul Ahad bin Abdulgholib Alhamadani Assakhowi. 

6. Abu Amru Jamaluddin Utsman bin Umar bin Bakar bin Yunus Addarini.

Thobaqoh Keenam; Masa Mamalik :

1. Abu Abdillah Bahauddin Muhamad bin Ibrahim bin Muhamad bin Abi Nasr ibnunnahas.

2. Asiruddin Muhamad bin Yusuf bin Ali bin Yusuf bin Hayyan.

3. Abu Ali Badruddin Hasan bin Qosim bin Abdillah bin Ali Almurodi dikenal dengan Ibnu Ummu Qosim yaitu dinisbatkan pada neneknya dari ibu bapaknya yang bernama Zakhro'.

4. Abu Muhamad Jamaluddin Abdullah bin Yusuf bin Ahmad bin Hisam Al-Ansori.

5. Bahauddin Abdullah bin Abdirrohman bin Abdullah bin Muhamad bin Muhamad bin Aqil. Berasal dari Hamadan.

6. Syamsuddin Muhamad bin Abdurrohman bin Ali bin Abilhusain Azzamrudi dan dikenal dengan Ibnusshoigh.
7. Muhibbuddin Muhamad bin Yusuf bin Ahmad bin Abdiddayim.
Thobaqoh Ketujuh
1. Izzuddin Muhamad bin Abi Bakar bin Abdil Aziz bin Muhamad bin Ibrahim bin Saadillah ibnu Jamaah dan berasal dari Khamah.
2. Badruddin Muhamad bin Abi Bakar bin Umar bin Abi Bakar bin Muhamad bin Sulaiman bin Ja'far Addamamini. 
3. Abu Abbas Taqiyuddin Ahmad bin Muhamad bin Muhamad bin Hasan bin Ali bin Yahya Ibnu Muhamad bin Kholfullah bin Kholifah Assyumna.
4. Abu Abdullah Muhyiddin Muhamad bin Sulaiman bin Saad bin Mas'ud Arrumi Albar'ami dan dikenal dengan AlKafiji.

Thobaqoh Kedelapan;
1. Zainuddin kholid bin Abdullah.
2. Abu Fadl Jalaluddin Abdurrohman bin Abi Bakar bin Muhamad bin Sabiq bin Utsman bin Muhamad bin Khidir bin Ayyub bin Muhamad bin Hamam dan dikenal dengan nama panggilan Assuyuthi karena berasal dari daerah Assyuth yaitu salah satu propinsi di Mesir.

3. Abu Hasan Nuruddin Ali bin Muhamad bin Isa bin Yusuf bin Muhamad Al-Asymuni.

4. Syihabuddin Ahmad Ashibagh.
Thobaqoh Kesembilan; masa Utsmani :
1. Abu Bakar Syihabuddin Ismail bin Umar bin Ali.
2. Abdullah bin Abdurrohman bin Ali.
3. Yasin bin Zainuddin bin Abi Bakar bin Alam.
4. Yusuf bin Salim bin Ahmad Alkhafani (Khafana adalah daerah Mesir Utara).
5. Abu Irfan Muhamad bin Shobban.

Thobaqoh Kesepuluh; periode sekarang :
1. Muhamad bin Ahmad 'Arfah Addasuqi. Lahir di desa Dasuq dari propinsi Kafur Syekh, Mesir. Merantau ke Kairo sejak kecil.
2. Hasan bin Muhamad bin Mahmud Al-Attor. Berasal dari Maroko.
3. Hasan bin Ali Qowaidir Alkholili.
4. Muhamad bin Musthofa bin Hasan Alkhudhori.
5. Abdulhadi Naja Al-Ibari 







STUDI NAHWU MADZHAB ANDALUSIA
1. PENAKLUKAN ISLAM ATAS ANDALUSIA
Pada masa khalifah Umawiyah yang dipimpin oleh al-Walid ibnu Abdul Malik (93H-711 M), Panglima Arab Musa ibnu Nasir telah menyelesaikan dalam menguasai negara Magrib yang diwakilkan kepada Tariq bin Ziyad dengan pasukan 7000 dari kaum muslimin. Mayoritas mereka dari kelompok Barbar dan minoritas dari Arab untuk memerdekakan negara Andalusia. Setelah dikalahkan oleh Lylyan ‘Amil Luzariq, salah satu benteng di Afrika yang belum pernah ditaklukan oleh kaum muslimin sebelumnya, maka setelah berhasil menaklukkan Luzariq, kaum muslimin yang dipimpin oleh Tariq bin Ziyad berhasil melewati Laut Andalusia kemudian terakhir menuju Syarmain. Pada bulan Ramadhan mereka memerdekakan orang-orang muslim Syarmain tepatnya pada tahun ke-92H/717M. Dimana saat itu telah berdiri pemerintahan Islam, di Andalusia. Saat itu terjadi krisis panjang di pulau Qurabah selatan selama delapan abad. Penaklukan itu meliputi:
1. Masa Penaklukkan (Al-Wulat)
Dimulai sejak penaklukan yang dipimpin oleh Tariq bin Ziyad (92H/712M) dan berakhir dengan berdirinya Daulah Umawiyah di tangan Abdurrahman ad-Dakhil yang dijuluki dengan rajawali Quraisy
2. Masa Bani Umawiyah
Diawali dengan berdirinya Daulah Bani Umawiayah oleh Abdurrahman ad-Dakhil dan berakhir dengan jatuhnya saat pembesar Qortuba memilih pemerintahan berbentuk Republik (422H/1031M)
3. Masa Mulukut Tawaif
Diawali dengan runtuhnya Daulah Bani Umawiyah yang dipimpin oleh Yususf bin Tasyifin (493H/1092M)
4. Masa Al-Murabitin 
Diawali daei Yusuf bin Tasyifin menguasai Andalusia dan berakhir dengan jatuhnya negara tersebut dan berdiri Daulah al-Muwahidin (541H/1146M)
5. Masa al-Muwahidin
Awal berdirinya dengan runtuhnya Daulah al-Murobbitin dan diakhiri dengan jatuhnya muwahhidin dimana saat itu orang-orang Nasrani sebagai kaum mayoritas memusuhi kaum muslimin sebagai minoritas. Orang-orang muslim dikucilkan dalam komunitas yang sedikit daei selatan kerajaan Qurtubah di bawah pemerintahan al-Ahmar.
6. Masa al-Gharnaty
Dimulai dari berdirinya kerajaan Ghurnato (668H-1369M) dan berakir dengan diserahkannya al-Madinah al-Islamiyah kepada orang-orang Nasrani Isbania (891H/1492). Dengan demikian berakhirlah penaklukan Arab di Andalusia. Dan jatuhnya pulau persia di tangan orang-orang Nasrani maka terlepaslah hubungan politik dengan kerajaan Islam.

2. ILMU NAHWU DI ANDALUSIA
Dimulainya perbincangan ilmu nahwu di Andalusia, Negara Arab Timur. mempunyai dua faktor penting:
1. Setelah permasalahan Andalusia dengan negara Timur Irak, maka tersebarlah kajian Nahwu. 
2. Tenggelamnya Arab sejak masuknya Andalusia kepada purifikasi dari Faronjah dengan mengikuti jejak mereka untuk menguatkan kekuasaan mereka yang diawali dari aspek peradaban dan pemikiran.
Dua khalifah Bani Umawiyah hampir memerdekakan pemerintahan Andalusia dan menguatkan kekekuasaan pemerintahan mereka. Khalifah membuat peraturan penaklukan dengan menganjurkan para ulama untuk menuntut ilmu dan memberikan hadiah bagi mereka yang gemar mengkaji dan meneliti. Kegemaran penulisan merupakan aktifitas untuk mengembalikan kemuliaan pemerintahan bani Umawiyah yang telah dibinasakan oleh Bani Abbas di negara Timur.
Tentunya ilmu bahasa/linguistik bermula di segala penjuru untuk mempelajari al-Qur’an, membaca as-Sunnah an-Nabawiyah dan riwayat-riwayatnya, fiqh mazhab serta hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, tujuan laian mempelajari bahasa adalah untuk memahami al-Quran, mengetahui riwayat as-Sahihah dan Hadist an-Nabawiyah dan keberlangsungan kebenaran agama.
Kemudian di Andalusia terdapat para penulis dan guru-ruru yang mengajarkan para pemuda di Cordova peradaban Andalusia, awal mula bahasa Arab, nash-nash dan syair-syair dengan tujuan untuk menghapal al-Quran dam kebenaran bahasa dan membacanya. Mayoritas mereka adalah qori al-Quran. Mereka bepindah ke negara Timur dan mengajarkannya kepada orang lain sehingga menghasilkan hukum-hukum fiqih dan kaidah-kaidah bahasa. Diantara qori terkenal adalah Abu Musa al-Hawari yang berpindah ke Masyriq (timur) dan menjumpai Malik dan mendapatkan ilmu fiqih begitu pula ia menjumpai al-Asma’iy dan Abu Zaid al-Anshary dan al-Qori, Ibnu Qois yang memulai qiraah dari Nafi’ bin Na’im (qori penduduk Madinah) dan dia belajar qiraahnya dari Usman bin Said al-Misry yang dikenal dengan nama “Warsy” dan ia masukkan ke Andalusia. 
Tidak diragukan lagi bahwasanya pembelajaran ilmu Nahwu mulai muncul di Andalusia sejak kembalinya Hudy bin Usman dari Masriq (timur) dan setelah berguru kepada al-Kasaiy dan al-Fara’iy dimana dia adalah orang yang pertama memasukkan buku-buku Nahwu berdasarkan mazhab mereka dan masih terus mempelajari nahwu al-kufy untuk murid-muridnya sampai ia meninggal pada tahun 198 dan setelah itu ,mumcul Mufraj bin Malik yang meletakkan penjelasan dari Kitab al-Kasaiy dan setelah itu datanglah Abu Bakar ibnu Khatib al-Makfuf yang meletakkan Buku Nahwu berdasarkan mazhab al-Kufy.
Dari yang telah disampaikan di atas maka jelaslah bahwa ilmu nahwu di Andalusia berawal dari mazhab kufy dan Mazhab ini berlangsung hampir satu abad di,mana berpindah ke masriq Muhammad ibnu Musa bim Hasyim yang terkenal dengan al-Ifsyniq yang meninggal tahun 307 dan dia menjumpai Abu Ja’far ad-Dinury di Mesir dan mengutip dari buku Sibawaih dan para muridnya di Cordova mulai membacanya begitu pula para sastrawan dan guru mulai mengajarkannya di sekolah dan yang paling terkenal adalah Ahmad bin Yusuf bin Hajaj.
Kemudian Muhammad bin Yahya al-Malabay ar-Rabahiy al-Jayaniy belajar ke Msir dengan Abu Ja’far an-Muhas dan belajar dari Sibawaih Novel/cerita dan kembali ke Cordova untuk dibaca oleh murid-muridnya untuk menjelaskan dan menafsirkan serta membantu untuk memenuhi keinginannya dalam ketepatan berpikir, mantiq dan penguasaanya dalam mengambil keputusan dan menganalisis al-ibarat. Sebagaimana Andalusia kembali dari Bagdad, Abu Aly al-Qoly yang membawa modal bahasa, syair dan nahwu dan terpenting yang ia bawa yaitu kitab sibawaih yang dikutip oleh Ibnu Dustuwiyah dan al-Mubarod dan ia condong kepada mazhab al-Basary dan dia mempertahankan dari segi pemikirannya
Dengan demikian kita berpendapat bahwa Dirosah Nahwu di Andalusia berawal dari mazhab Kufy dan mengenyampingkan mazahb Basary selama seabad. Hampir pertengahan abad keempat kita jumpai kedua mazhab ini dapat berjalan beriringan diaana sebagian ulama stabil dalam menggunakan mazhab Kufy sedangkan ulama lainnya menggunakan mazhab Basary sedangkan kelompok ketiga menggunakan gabungan dari kedua mazhab ini. Sedangkan Muhammad bin Asim al-Asimy murid ar-Ribahy dan pembawa novel Kitab Sibawaih. Dan Ibnu Abban mempunyai dua penjelasan dari buku al-Kasai dan al-Ahfas dan ibnu al-Qurtuby menggabungkan kedua mazhab ini. Dan Abu Bakar az-Zubaidy yang menulis buku nahwu alwadih. Yang paling mengejutkan menjelang abad ke-5 kita menjumpai para ulama Andalusia yang mengutip mazhab al-Bagdady dan manhaj mereka mengikuti pemikiran al-Basariyin dan al-kufiyin dan yang paling terkenal dianrtara ulama tersebut adalah Ibnu Sayid ad-Darir (al-Mukhasas) dan al-Muhakam dimana ia menyebutkan pada mukaddimahnya (al-Muhakam). Sedangkan yang ia sebarkan berupa buku-buku nahwu klasik al-Mudamminah lita’lili lughah. Buku-buku Abu aliy al-Farisy, al-Halabiyah, al-Bagdadiyat, al-Ahwaziyat dan tadzkirah, al-Hujjah, dan al-idhah dan buku-buku Abu al-Fatah Usman bin abi Jana seperti al-Mu’rab, at-tamam, syarahahu li syi’r al-Mutammabu, al-Khosois dan sirrus shina’ah. At-Taakub dan al-Muhtasib. 
Dengan demikian al-A’lam Syatmir adalah orang yang pertama meletakkan dasar atau merintis di Andalusia menuju Bagdad dalam corak dan potensi sebagaimana dia merupakan yang pertama yang mengajak kepada al-‘ilal as tsanawiy sebagaimana dijelaskan dalam kitab “al-Jumal” yang ditulis oleh az-Zujajy al-Bagdady, dengan demikian berlngsunglah para ulama Andalusia dalam melanjutkan upaya-upaya tersebut dan mengutip dari referensi-referensi Nahwu dari tiga mazhab yaitu Kufy, Basry dan Bagdady. 
Sejak itu pelopor dalam kajian mereka adalah Kitab Sibawaih bahkan menjadi referensi rujukanya dan pergerakan keilmuwan di Andalusia berkembang dengan pilar utamanya dalah Kitab yang ditulis Sibawaih. Dan mereka berlomba-lomba menyusun Ilmu Nahwu yaitu ilmu yang dihargai sepanjang zaman meskipun terjadi kevakuman pada abad ke-7 H sehingga berhentilah dari perhatian para ulama. Dalam hal ini, Ibnu Said al-Magrib sebagaimana dikutip al-Makary dan ilmu Nahwu bagi mereka adalah tingkatan yang tertinggi sehingga bagi mereka pada zaman ini sebagaimana masa Kholil dan Sibawaih tidak bertambah kecuali hanya sedikit dan mereka banyak membahas di dalamnya sebagaimana mazhab–mazhab fiqih dan di dunia setiap ilmu tidak terlepas dari ilmu Nahwu. 
Kemudian terulang kembali masalah-masalah mazhab Andalusia modern terpecah dan kaidah-kaidahnya musnah terhambat perkembangan sehingga orang-orang Tumur (Masriq) berusaha untuk mengambil dan mengutipnya setelah keadaaan Andalusia melemah dengan jatuhnya Bagdad di tangan al Maglul dan terputuslah bantuan dari Irak dan mayoritas penduduk Andalusia pergi menuju negara Timur untuk menunaikan Haji, memimpin pengajaran dan memanfaatkan masjid dan sekolah di Timur disamping itu terdapat penulis dan penyusun keiluan seperti Ibnu Malik, Abi Hayan dan sebagainya. 

GENERASI NAHWU MAZHAB ANDALUSIA: 
a. Generasi Pertama
1. Abu Musa al-Hawary
2. Al-Ghazy bin Qais
3. Judy
4. Al-Ahdab
5. Siwar bin Tariq
6. Syamir bin namir
b. Generasi kedua
1. Abu Hursyan
2. Khusaib al-Kalby
3. Abdullah bin al-Ghazy bin Qais
4. Ibnu Abi Ghazalah
5. Abdullah bin Siwal
6. Abdul malik bin Habib
7. Bakr al-Kinany Said ar-Rasyas
8. Abbas bin Nasih

c. Generasi ketiga
1. Harsyan bin Abi Harsyan
2. Ahmad bin Na’im as-Salma
3. Abdul Malik bin Muhtar
4. Usman bin al-Matsani
5. Ahmad bin Batry
6. Usman bin Syinni
7. Ibnu al-Rumlah
8. Al-Laby
9. Muhammad bin Abdullah bin Ghazy
10. Al-Khasyany
11. Abbas bin Farsan
12. Muhammad bin Abdullah

d. Generasi keempat
1. Yazid bin Thalhah
2. Abu Shalih al-Maafiry
3. Thahir bin Abdul Aziz
4. Ibnu Hatib
5. Al-Bughlu

e. Generasi kelima
1. Ufain bin Masud
2. Ibnu Azhar
3. Ibnu Ma’afy
4. Al-Hakim
5. Al-Qalfat
6. Al-Afsyiniq
7. Ibnu al-Aqbas
8. Ibnu Arqam
9. Zaid al-Barid
10. Al-Ghafiqy
11. Tsabit bin Abdul Aziz
12. Qasim (putra Tsabit bin Abdul Aziz).

f. Generasi Keenam
1. Mundzir bin Said
2. Yusuf al-Balwaty
3. Ahmad bin Muhammad al-A‘raj
4. Ahmad bin Yusuf
5. Al-Maafiry
6. Muhammad bin Yahya ar-Ribahy