Rabu, 19 November 2014

ASPEK HISTORISITAS FILSAFAT PENDIDIKAN


Tugas makalah
ASPEK HISTORISITAS FILSAFAT PENDIDIKAN

Ridwan Ali
Magister Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan
Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang
ipmrial@gmail.com


Dosen Pembina :

Dr. Moh. Nurhakim, MA

1.         LATAR BELAKANG DAN PERKEMBANGAN
            Sejarah perkembangan filsafat pada umumnya dimulai dari mitologi yang berkembang di masyarakat Yunani Kuno. Sebelum filsafat berdiri dengan jati dirinya yang asli sebgai filsafat, mitos merupakan filsafat itu sendiri yang menurut penciptanya sama sekali bukan mitos, melaingkan cara berfikir empiris, logis, dan realitas.
            Terkait latar belakang dan perkembangan filsafat pendidkan penulis membedakan beberapa zaman sebagai berikut :
1.      Zaman Purba;
2.      Zaman Yunani Kuno;
3.      Zaman Patristik dan Pertengahan;
4.      Zaman Modern;
5.      Zaman Baru; dan
6.      Zaman Pasca Modernisme. (Wiramiharja : 2006)
Berikut ini, penulis menguariakan secara singkat zaman perkembangan filasafat.
1.         Zaman Purba
            Zaman purba merupakan zaman batu yang dipandang para sejarawan sebagai zaman pengetahuan ilmiah.Manusia mulai membuat alat – alat dan senjata – senjata tertentu kira – kira 400.000 tahan yang lalu. Keberhasilan manusia membuat benda – benda tersebut setelah melalui pengalaman mencoba – coba, sampai akhirnya manusia berhasil menemukan pengetahuan ilmiah meskipun pada saat itu manusia belum memiliki kemampuan untuk menjelaskan secara konsep.Sebagai contoh kira – kira 30.000 tahun yang lalu, manusia primitif (sederhana) telah mempelajari cara mengembangkan kehidupan mereka. Dan sekitar 15.000 tahun yang lalu, mereka menemukan pertanian. Mereka pada mulanya hidup dari mengumpulkan biji – bijian dan buah – buahan. Sejak itu pula manusia mulai memahami tentang waktu sehingga bisa mengatur waktu kerja dan istirahat sesuai dengan waktu malam. Perkembangan manusia primitif yang tak kalah pentingnya adalah mereka mulai hidup berkelompok dan mengukur waktu perhitungan hari.
2.         Zaman Yunani
            Zaman Yunani dapat dikaji sejak Yunani Kuno (600 SM – 200 M) yang meliputi tiga zaman, yaitu masa awal, masa keemasan, serta masa Helenitasdan Romawi.
a.         Masa Awal
            Masa awal filsafat Yunani Kuno ditandai oleh tercatatnya tiga nama filsuf yang berasal dari Miletos, yaitu Thales, Anaximandros, dan Anaximenes. Selain ketiga nama tersebut, beberapa nama dari daerah lain, seperti Herakleitos dari Ephesos, Pythagoras dari Italia Selatan, Parmanides dari Elea, dan Demokritos dari Abdera. Pikiran – pikiran Thales ditulis oleh murid – muridnya yaitu Anaximandros, dan Anaximenes, perhatian Thales yaitu “pada alam dan kejadian alamiah, terutama dalam hubungannya dengan perubahan – perubahan ".Namun mereka yakin bahwa pada perubahan itu terdapat suatu asas yang menentukan, diantaranya asas yang berbeda. Thales menyebutnya asas air, Anaximandros menyebutnya dengan asas yang tidak terbatas (to apeiron), dan Anaximenes menyebutnya dengan asa udara, herakleitos berpendapat bahwa asas itu adalah api, menurutnya bahwa api adalah lambang perubahan, namun harus kita pahami bahwa di dunia ini tidak ada tetap, defenitif, dan sempurna, tetapi berubah, seperti kayu karena api dapat menjadi abu.
            Pemikiran Pythagoras berbeda dengan filsuf dimasanyan, iamenganggap tidak perlu asas pertama yang dapat ditentukan dengan pengenalan indra karena segala hal yang dapat diterangkan atas dasar bilangan. Ia mengemukakan tangga nada yang sepadam dengan perbandingan antara bilangan. Oleh karena itu, Pythagoras sebagai pengembang ilmu pasti dengan mengemukakan “Dalil Pythagoras”nya.
            Adapun Parmenides mengemukakan “metafisika”, yaitu bagian filsafat yang mempersoalkan yang “ada” (being) yang berkembang menjadi “yang ada, sejauh ada” (being as being, being as such). Dia jiga berpendapat “bahwa yang ada itu ada dan yang tidak ada itu tidak ada”.
            Filsuf berikutnya adalah Demokritos bersama Leucippus yang kembali pada kesaksian indra dengan dan mengajukan teori otomisme. Demokritos bersama kawan – kawannya berpendapt bahwa segala sesuatu yang ada terdiri atas bagian – bagian kecil yang tidak dapat dibagi – bagi lagi (atom – atom, a tomos).
b.         Masa Keemasan
            Masa keemasan Yunani Kuno ditandai oleh sejumlah nama besar yang sampai sekarang tidak pernah dilupakan oleh kalangan pemikir. Diantaranya Perikles yang tinggal dia Athena. Athena pada masa itu telah menjadi pusat penganut aliran filsafat dan disana pulalah awal munculnya pemikiran sofistik yang penganutnya disebut kaum sofis, yaitu kaum yang memiliki kepandaian berpiadato dan menjadikan manusia sebagai pusat perhatian studinya, beda dengan yang lain yang masih berfokus kepada alam sebagai objek utama. Tokohnya dalah Protagoras.Ia memiliki pemahaman bahwa tidak ada kebenaran yang tetap dan definitif. Benar, baik, dan bagus selalu berhubungan dengan manusia, tidak mandiri sebagai kebenaran yang mutlak.
            Di masa keemasan Yunani Kuno di Athena telah banyak memunculkan pemukir – pemikir yang luar biasa dan tidak tertandingi dalam khazanah ilmu pengetahuan. Dunia mengenal teori – teori seperti unsur – unsur kimia, teori bilangan, pandangan Demokratos tentang atom, pandangan Hippocrates tentang pengobatan, pandangan Pythagoras tentang matematika, pandangan Plato tentang anatomi, botani, zoology, dan metalurgi.Sehingga ilmu pengetahuan Yunani mencapai puncak dan kebesarannya di Athena, ilmu – ilmu tersebut melebihi semua Negara karena Akademi Plato dan Lyceum Aristotelesnya.Periode gemilang ini berakhir dengan meninggalya Iskandar Yang Agung dan Aristoteles.
c.         Masa Helenitas dan Romawi
            Masa Helenita dan Romawi adalah masa yang tidak dapat dilepaskan dari peranan Raja Alexander Agung.Dia mampu membangun Negara besar yang tidak sekedar meliputi seluruh Yunani, tetapi daerah – daerah di sebelah timurnya. Kebudayaan Yunani disebut Helenitas karena ia menjadi kebudayaan suprarasional. Dalam bidang kebudayaan, selain lykeion dibuka juga sekolah – sekolah baru yang mengajarkan masalah etika. Ada sejumlah aliran pada masa ini, seperti stoisisme, epikorisme,skeptisisme,elektisisme, dan neoplatonisme (salahudin, filsafat pendidikan,halaman : 38).
3.         Zaman Patristik dan Pertengahan (200 M – 1600 M)
            Zaman ini dibagi menjadi empat periode, yaitu : (1) Zaman Patristik; (2) Zaman Awal Skolastik; (3) Zaman Keemasan skolastik; dan (4) Zaman Akhir Abad Pertengahan.
            Istilah patristik berasal dari kata latin, yaitu Fater yang berarti “Bapak dalam lingkungan gereja”. Bapak yang menganut pujangga Kristen, artinya mencari jalan menuju teologi kristiani, melalui peletakan dasar intelktual untuk agama Kristen. Di awal zaman ini banyak ditemukan pertentangan antara filsuf yang satu dengan yang lannya terutama pertentangan mengatakan bahwa filsafatYunani adalah kebudayaan kafir .
            Pemikir yang paling berpengaruh di masa Patristik ialah Agustinus (354 – 430).Adapun kekuatan dan kelemahan dari pemikiran Agustinus adalah pemikiran merupakan integrasi dari teologi Kristen dan pemikiran filsafatnya. Pemikiran – pemikiran Agustinus yang paling dianggap penting, yaitu :
a.       Iluminasi atau penerangan. Rasio insani hanya dapat abadi jika mendapat penerangan dari rasio Ilahi. Allah adalah guru yang tinggi dalam batin manusi dan menerangi roh manusia.
b.      Dunia jasmani yang terus – menerus berkembang, tetapi bergantung kepada Allah.
c.       Menurut pemikiran Agustinus, manusia yang dipengaruhi Platonisme, tetapi tidak mengakui dualisme eksterm Plato, jiwanya senantiasa terkurung tubuh. Tubuh bukan merupakan sumber kejahatan. Sumber kejahatan adalah dosa yang berasal dari kehendak bebas. (sumarna, loc.cit.,hlm.28 dan Ernes Gelner, hlm. 39-52).
4.         Zaman Awal Skolastik
            Sutardjo Wiramihardja mengatakan, zaman ini berhubungan dengan terjadinya perpindahan penduduk, yaitu perpindahan bangsa Hun dari Asia masuk ke Eropa sehingga bangsa Jerman pindah melalui perbatasan kekaisaran Romawi yang secara politik sudah mengalami kemerosotan. Karena situasi yang ricuh, tidak banyak pemikiran filsafat yang patut ditampilkan pada masa ini, hanyahanya ada beberapa tokoh dan situasi penting yang harus kita perhatikan, diantaranya :
            Pertama,ahli pikir Boethius (480 – 524 M), ia berjasa menerjemahkan logika Aristoteles ke dalam bahasa latin dan menulis beberapa traktat logika Aristoteles.
            Kedua, Kaisar Karel Agung yang memerintah pada awal abad ke-9 yang telah berhasil mencapai stabilitas politik yang besar.
            Ketiga, Johannes Scotus, Eriugena, Anselmus, dan Abelardus. Eriugena berjasa menerjemahkan karya Pseudo Dionysios kedalam bahasa latin sehingga menjadi referensi bagi dunia pemikir abad – abad selanjutnya. Anselmus, ia meluruskan pernyataan Agustinus dengan mengatakan “saya percaya supaya saya mengerti”. Ia terkenal karena argumentasinya, Allah itu benar – benar ada. Menurut Wiramiharjda, ada tiga langkah pembuktian filosofinya. Pertama, Allah itu Mahabesar sehingga tidak terpikirkan sesuatu yang lebih besar.Kedua, hal yang terbesar berada dalam kenyataan karena yang ada dalam pikiran saja tidak mungkin lebih besar.Ketiga, Allah tidak hanya berada dalam pemikiran, tetapi juga ada dalam kenyataan.Jadi Allah benar – benar ada.
Keempat,cara mengajar yang terdiri atas dua jenis, pertama, cara kuliah (lesio)yang diberikan oleh seorang mahaguru. Kedua, diskusi yang dipimpin seorang mahaguru.
5.         Zaman Keemasan Skolastik
            Zaman keemasan ini terjadi pada abad ke-13.Pada zaman ini filsafat dipelajari dalam hubugannya teologi, dengan dibangun sintesis filosofis.Sintesisnya berkaitan dengan tiga hal, pertama, didirikannya universitas – universitas pada tahun 1200.Kedua, beberapa ordo baru dibnetuk.Ketiga, ditemukan dan digunakannya sejumlah karya filsafat yang sebelumnya tidak dikenal.
6.         Zaman Akhir Pertengahan
            Pada akhir abad ke – 14 terjadi kritis atas berbagai usahapemikiran yang menyintesiskan pemikiran filsafat dan teologi yang semakin menyimpan dari pendapat Aristoteles.Dua pusat pada abad ke – 24 yang berjasa dalam mempersiapkan ilmu pengetahuan alam modern adalah Johannes Buridanin (1298 – 1359) di Parisian Thomas Bradwardine (1300 – 1349) di oxford.Dalam filsafat, perkembangan tampil dalam bentuk “jalan modern” (via moderna) yang dipertengahkan dengan “jalan kuno” (via antuqua).  Via Antiqua adalah mazhab – mazhab Skolastik tradisional sedangkan Via Moderna di dasari olehpemikiran Gulielmus (1285 – 13490 dari Inggris yang menjadi anggota ordo fransiskan.(salahuddin, filsafat pendidikan, hlm.45).
7.         Zaman Modern (1600 – 1800 M)
            Sebagian orang menganggap bahwa periode modern hanyalah perluasan periode renaisans, tapi pada kenyataannya, pemikiran ilmiah membawa manusia lebih maju. Dapat dilihat perubahannya dengan nyata, dari zaman uap sampai zaman listrik, lalu ke zaman atom, electron, radio, televise, robot, sampai ruang angkasa. Semua ini akibat dari zaman modern.Bagaiman suatu zaman biasa dikatakan modern?Menurut Bertrand Russell (Salahuddin, Filsafat Pendidikan, hlm.47) bahwa dalam sejarah, sebuah masa dapat dinyatakan sebagai masa “modern” dilihat dari adanya perubahan mental yang menunjukkan perbedaan dibandingan dengan masa pertengahan.Perbedaan tersebut dapat dilihat dari dua hal, yaitu pertama, berkurangnya cengkeraman kekuasaan Gereja; dan kedua, bertambah kuatnya otoritas ilmu pengetahuan.
            Di zaman ini pulalah memunculkan seorang filsuf terkemuka yaitu Albert Eistein (1879 – 1955) dengan teori relativitas, yang dirumuskan pada tahun 1905 M. (lihat: Salahuddin, Filsafat Pendidikan, hlm. 47).
8.         Zaman Baru
            Di zaman baru ini muncul aliran fenemenologioleh Edmund Husserl seorang filsuf matematikus intensionalitas. Fenomenologi oleh Kant dan Husserl mengatakan bahwa yang dapat diamati hanyalah fenomena, bukan neumenon atau sumber gejala itu sendiri. Maka dengan demikian jika seseorang ingin mengamati dengan murni perlu disisihkan dari usaha sebagai berikut :
a.       Membebaskan diri dari anasir atau unsur subjektif;
b.      Membebaskan diri dari kungkungan teori – teori, dan hipotesis – hopetesis; serta
c.       Membebaskan diri dari doktrin – doktrin tradisional.
9.         Zaman Pasca – modernisme
            Pasca – modernisme adalah sebuah aliran filasfat yang lahir pada awal abad ke – 20 atau pertengahan abad ke – 20. Ada hal yang patut kita catatat dalam zaman ini yaitu sumbangan terhadap sofis, skeptis, romantic, eksistensialis, dan psikology humanistic adalah keyakinan bahwa “kebenaran” selalu bersifat relatif secara kultural, kelompok, atau perspektif personal. Karena pada kenyataannya, pasca – modernism telah menjadi acuan bagi relativisme radikal. (Sutarjdo A. Wiramiharja, hlm.73).
2.         PERKEMBANGAN METODOLOGI
            Pada dasarnya, metodologi filsafat ada tiga, yaitu :
1.      metode deduktif, yaitu metode berfikir yang menarik kesimpulan dari prinsip – prinsip umum kemudian menerapkannya pada sesuatu yang bersifat khusus;
2.      metode induksi, yaitu metode berfikir dalam menarik kesimpulan dari prinsip khusus, kemudian menerapkannya pada sesuatu yang bersifat khusus; dan
3.      metode dialektika, yaitu metode berfikir yang menarik kesimpulan, melalui tiga tahap atau jenjang, yaitu tesis, antithesis, dan sisntesis. Tiga metode filsafat tersebut dapat dibagi menjadi dua pendekatan, yaitu: (a) pendekatan logika; dan (b) pendekatan dialektika.
Ada juga yang mengatakan bahwa metode filsafat adalah :
1.      ontologi, yaitu metode yang memikirkan hakekat segala sesuatu atau teori hakikat;
2.      epistemology, yaitu metode yang memikirkan seluk beluk dan asal muasal ilmu pengetahuan atau teori pengetahuan; dan
3.      aksiologi, yaitu metode yang memikirkan fungsi dan tujuan ilmu pengetahuan atau teori nilai.
Metode lainnya yang diterapkan oleh filsuf, antara lain sebagai berikut :
1)      Plato (427 – 347 SM) membahas filsafat dengan metode dialktika, yaitu metode dialogis;
2)      Aristoteles (384 – 322 SM) menjadi terkenal karena metode silogisme atau logikannya;
3)      Metode Thomistik yang dikembangkan Thomas Aquinas secara terperinci mengetengahkan persoalan yang harus dijawab dalam bentuk sebuah pertanyaan.
4)      Rene Descrates (1596 – 1650) seorang ahli matematika Prancis yang merasa prihatin atas kurangnya metode pada filsafat, berusaha menyusun metodenya sendiri yang disebut dengan “metode ragu – ragu”, sebuah metode yang dipergunakan untuk menghapus keseluruhan bangunan ilmu pengetahuan.
5)      Metode Cartesian memiliki kelemahan yang bersifat historis;
6)      Metode klasik yang bersifat reflektif yang memandang kehidupan dan dunia, serta interaksi keduannya hanya refleksi yang lebih mengutamakan fungsionalitas kesadaran;
7)      Edmand Husserl (1895 – 1939) merumuskan metode fenomenologis yang mampu menemaptkan filsafat  dalam ajaran ilmu – ilmu lain.
Dari berbagai metode tersebut diatas, dapat diterapkan dalam pemikiran pendidikan, misalnya metode dialektika, fenomenologis, dan klasik reflektif. Pada umumnya, metodologi filsafat pendidikan dapat dipahami menjadi dua maksud, yaitu sebagai berikut :
1.      Cara kerja filsafat pendidikan dalam memikirkan objek materiil dan objek formal dengan tiga pendekatan utama yangtelah diuraikan sebelumnya, yaitu ontology, epistomologi, dan aksiologi.
2.      Cara kerja filsuf alam menggunakan filsafat pendidikan sebagai metode berfikir sistematis, logis, kontemplatif, dan radikal.
Adapun pendekatan – pendekatan yang dapat digunakan dalam filsafat pendidkan adalah sebagai berikut :
a.       Pendekatannaturalistik, yaitu pendekatan filosofis dalam memahami segala sesuatu dengan bertitik tolak dari pandangan utama bahwa sumber dari segala yang ada dan yang mungkin ada adalah keadaan alam jagad raya ini.
b.      Pendekatan supranatunal, yaitu pendekatan yang berangkat dari pandangan bahwa setiap yang mengalami perubahan,bukan keberadaan yang sesungguhnya.
c.       Pendekatan relativistik, yang menyatakan bahwa semua pikiran, pemahaman, filsafati manusia mengandung kebenaran yang nisbi, termasuk pandangan bahwa Dzat Yang Ada yang mengadakan yang mungkin ada.
            Selain pendekatan tersebut ada juga pendekatan yang dugunakan oleh para filsuf yaitu intuitif (intuition), maksudnya adalah pemahaman, pengenalan, penglihatan, atau penagkapan terhadap suatu kebenaran secara langsung tanpa melalui inferensi (penyimpulan).
Secara global intuisi (intutif) dapat diklasifikasikan menjadi dua bentuk, yaitu :
1.      Intuisi indrawi; dan
2.      Intusi intelektual.
3.      Fungsionalisasi Filsafat Pendidikan
           Manusia adalah satu – satunya makhluk Allah SWT. yang paling sempurna dan paling misterius. Kemisteriusan manusia dengan dilengkapinnya akal pikiran yang selalu meragukan terhadap segala hal yang dilihatnya. Dalam menghadapi seluruh kenyataan hidupnya, manusia kagum terhadap pancaindranya karena kemampuan pancaindra merekam realitas duniawi yang materiil. Namun demikian, manusia selalu ragu – ragu terhadap cara kerja pancaindranya karena ia sering tertipu oleh cara pandangannya sendiri. Manusia adalah makhluk yang ingin serba tahu. Selain itu manusia adalah makhluk yang mengejar kesempurnaan. Manusia adalah makhluk yang mengejar kebahagiaan. Manusia adalah penggali pengetahuan. Manusia adalah makhluk yang multirasional. Dengan demikian Karl Popper mengatakan bahwa semua orang adalah filsuf karena semua mempunyai salah satu sikap terhadap hidup dan kematian. (Salahuddin, Filsafat Pendidikan, hlm.63).
           Sebagai makhluk yang serba ingin tahu, manusia mempertanyakan berbagai persolan yang ingin dipecahkan oleh filsafat pendidikan, yaitu :
1.      Apakah sebenarnya pendidikan tentang hakikat hidup itu ? pertanyaan ini dipelajari oleh metafisika pendidikan.
2.      Apakah yang dapat saya ketahui dengan pendidikan ? masalah ini dikupas oleh epistimologi pendidikan.
3.      Bagaimana eksistensi manusia dalam pendidikan? Masalah ini juga dibahas oleh antropologi filsafat.
Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa fungsi pendidikan dalam kehidupan adalah sebagai berikut :
1.      Sebagai dasar dalam bertindak;
2.      Sebagai dasar dalam mengambil keputusan;
3.      Untuk mengurangi salah paham dan konflik;
4.      Untuk bersiap siaga menghadapi situasi dunia yang selalu berubah.
Selain itu, adapun fungsi filsafat pendidikan yang dikembangkan oleh para ahli filsafat pendidikan, sebgai berikut :
1.      Filsafat pendidikan progresivisme yang didukung oleh filsafat pragratisme berpandangan bahwa pendidikan yang baik adalah yang terus bekembang maju, dinamis, dan memberi keuntungan bagi kehidupan manusia.
2.      Filsafat pendidikan esensialisme yang didukung oleh idealisme dan realisme. Menurut aliran ini, pendidikan lebih menekankan sikap yang berpegang pada prinsip manfaat pendidikan bagi kehidupan manusia secara lahiriah dan batiniayah.
3.      Filsafat pendidikan perelianisme yang didukung oleh idialisme. Idelaisme pendidikan mengemukakan paradigma pendidikan yang substansial untuk kehidupan manusia karena manusia adalah makhluk rohani yang tidak terbatas, yang mewarisi sifat – sifat ketuhanan.
PENUTUP
Demikian makalah yang penulis uraikan dengan singkat tentang Aspek Histirisitas dalam Filsafat Pendidikan. Semoga Allah SWT. memberi kita petunjuk sehingga tetap menjadi manusia yang sadar akan hakekat hidup yang telah di tentukan oleh-Nya. Aamiin.

Daftar Pustaka

A.    Hanafi, M.A. Ikhtisar Filsafat Barat. Jakarta: Pustaka Al-Husna. 1981.
__________. Pengantar Filsafat Islam. Jakarta: Bulan Bintang. 1976.
Ahmad D. Marimba. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Al-Ma’arif. 1980.
Bertens, K. Filsafat Barat dalam Abad XX. Jakarta: Gramedia. 1991.
Andi Hakim Nasution. Pengantar ke Filsafat Sains. Bogor: Litera Antar Nusa. 1989.
Anas Salahuddin. Filsafat Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia. 2011.